
Sobat JEI, pernahkah kalian memperhatikan patung perunggu di bangsal anak RSPAD Gatot Subroto? Saya memotretnya beberapa waktu lalu. Patung itu menampilkan sosok ibu muda yang sehat. Ia mengenakan kebaya lengkap, berkonde, dan sedang bersiap menyusui bayinya.
Melihatnya, saya sempat tercenung. Pesan kemesraannya begitu dalam. Namun, realitas modern segera menyadarkan saya.
Hari gini, mana ada perempuan Indonesia menyusui sambil mengenakan kebaya lengkap dan konde? Kecuali saat kondangan atau Hari Kartini, busana ini sudah sangat langka. Bayangkan repotnya mengurus rumah tangga dan mengejar balita dengan lilitan kain jarik. Bisa-bisa kita pingsan karena sesak napas.
Padahal, sosiolog Erving Goffman dalam teorinya tentang dramaturgi, menyebut bahwa pakaian adalah bagian dari “fasad” sosial. Dulu, di bawah tahun 50-an, kebaya adalah “seragam” harian. Ibu saya bahkan masih sempat bersepeda ke pasar dengan kebaya lengkap.
Perubahan drastis dari kebaya ke pakaian kasual ini adalah bukti empiris perubahan sosial. Pendidikan akan merubah wajah budaya suatu bangsa, dan itu dimulai dari hal sesederhana cara kita berpakaian.
Keseteraan Dalam Pendidikan: Fondasi Perubahan Sosial
Perubahan sosial tidak selalu berjalan alami. Ada yang sengaja direkayasa (planned change). Jika Sobat JEI ingat masa Orde Baru, kita pasti akrab dengan istilah REPELITA.
Salah satu terobosan terbesar masa itu adalah SD Inpres. Ini bukan sekadar proyek bangunan. Ekonom pemenang Nobel, Esther Duflo, dalam risetnya yang terkenal (2001), membuktikan bahwa program SD Inpres secara signifikan meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup masyarakat Indonesia di masa depan.
Inilah wujud nyata keseteraan dalam pendidikan.
Pemerintah saat itu meruntuhkan tembok penghalang. Anak perempuan tidak lagi tabu bersekolah. Sekolah masuk ke pelosok desa. Keseteraan dalam pendidikan membuka mata kita bahwa setiap anak, laki-laki atau perempuan, punya hak yang sama untuk cerdas.
- Baca di sini tentang : Pelanggan yang Manja – Rahasia Service VIP di Pasar Lereng Bukittinggi Menangkan Hati Pembeli
Hasil Dari Keseteraan Pendidikan di Ruang Publik
Dampak kebijakan masa lalu itu kini kita nikmati. Ruang publik dan dunia kerja terbuka lebar bagi perempuan.
Lihatlah sekeliling. Perempuan kini bekerja sama kerasnya dengan pria. Mereka berangkat pagi buta, menerobos macet, dan pulang larut malam. Sektor apa yang belum diisi perempuan? Nyaris tidak ada.
Salah satu hasil dari keseteraan pendidikan yang paling fenomenal nyaris terjadi pada tahun 1986. Indonesia hampir memiliki astronot perempuan pertama, Ibu Pratiwi Sudarmono. Sayangnya, tragedi meledaknya pesawat ulang alik Challenger membatalkan misi STS-61-H tersebut.
Meski batal terbang, Pratiwi Sudarmono tetap menjadi simbol. Ia membuktikan bahwa perempuan Indonesia mampu menembus batas langit—secara harfiah. Data dari World Bank juga menunjukkan tren positif partisipasi angkatan kerja wanita di Indonesia yang terus stabil, sebuah bukti bahwa pendidikan adalah kunci mobilitas sosial.
Baca juga:
Transformasi Keluarga Modern
Masuknya perempuan ke sektor pendidikan dan pekerjaan tentu mengubah struktur keluarga.
Dalam sosiologi keluarga tradisional (seperti teori Talcott Parsons), peran suami adalah instrumental (pencari nafkah), sedangkan istri ekspresif (pengurus rumah). Model ini menciptakan hirarki yang kaku. Integrasi keluarga tercapai karena dominasi suami dan kepatuhan istri.
Namun, pendidikan akan merubah wajah budaya suatu bangsa hingga ke unit terkecilnya: keluarga.
Kini, kita melihat distribusi peran yang lebih seimbang. Keluarga modern menjalankan konsep egalitarian. Mencari nafkah, merawat anak, hingga urusan dapur dilakukan bersama.
Laki-laki zaman sekarang tidak lagi tabu memegang cucian atau memasak. Mereka menjadi sosok yang lebih peka. Mereka mendukung istri berkarier. Maka, lahirlah pemeo baru: di balik perempuan hebat, seringkali berdiri suami yang hebat pula yang memberi ruang untuk bertumbuh.
Perubahan ini memang perlahan, tapi pasti. Dari patung berkebaya di RSPAD hingga astronot wanita, kita belajar satu hal: pendidikan tidak hanya mengubah isi kepala, tapi juga mengubah cara kita menjalani hidup.
