
Key Takeaways
- Mie ayam desa adalah mie ayam kampung yang sederhana dan nyaman bagi penikmatnya.
- Tekstur lembek dan potongan ayam dengan tulang menciptakan rasa nostalgia.
- Rasa umami yang kuat dalam mie ayam desa mengundang kebahagiaan meski kurang sehat.
- Makanan ini memicu ingatan emosional yang kuat sesuai dengan fenomena The Proust Effect.
- Menyantap mie ayam desa terkadang menjadi cara untuk menjaga keseimbangan mental di tengah aturan diet.
Mie ayam desa yang saya maksud di sini adalah mie ayam kampung. Bukan ayam kampung tapi mie ayam kelas kampung. Untuk saya ini adalah definisi kenyamanan kuliner yang sesungguhnya. Jadi, ini bukan tentang mie ayam dengan topping ayam kampung mahal, melainkan mie ayam kelas pinggiran yang sederhana.
Saya menulis ini untuk mengabadikan sejarah selera saja. Lidah saya terlanjur jatuh cinta pada kesederhanaan mie ayam kelas kampung ini. Tekstur mienya cenderung lembek, mungkin karena kadar protein tepungnya rendah. Potongan ayamnya pun sering menyertakan tulang. Mungkin pedagang ingin menekan biaya produksi agar harga tetap rakyat.
Wawasan Kuliner: Secara psikologis, tekstur makanan yang lembut seperti pada mie ayam desa sering diasosiasikan dengan comfort food. Otak kita menerjemahkan tekstur ini sebagai makanan yang ‘aman’ dan mudah dicerna, memicu perasaan tenang yang mirip dengan masa kanak-kanak.
Kenikmatan Gurih di Balik Mie Ayam Desa alias Kampung
Rasa kuahnya sangat gurih. Kemungkinan besar, pedagang menggunakan MSG (Monosodium Glutamat) cukup banyak. Namun, justru di situlah letak kekuatannya.
Saya sebenarnya paham mana makanan sehat dan mana yang tidak. Tulisan ini sama sekali tidak mempromosikan gaya hidup tidak sehat. Namun, saya akan tetap menyantap mie ayam desa ini setiap ada kesempatan.
Fakta Sains: Rasa gurih atau umami yang kuat pada mie ayam desa merangsang reseptor glutamat di lidah. Ini mengirim sinyal ke otak yang memicu pelepasan dopamin. Itulah sebabnya kita sering merasa bahagia (dan ketagihan) setelah menyantap makanan kaya umami, meskipun kita tahu itu kurang sehat.
Ironi Gaya Hidup dan Memori Masa Kecil
Ada ironi di sini. Sehari-hari saya susah payah memilih menu sehat. Mengapa saya masih menoleransi mie ayam kelas kampung ini?
Mungkin saya kurang disiplin. Atau mungkin, otak kecil saya memberi instruksi bahwa setiap momen hidup layak dinikmati. Dulu waktu kecil, saya sering mengonsumsi mie seperti ini. Sekarang, rekam jejak memori itu berusaha tetap eksis. Ia membujuk agar lidah kembali menjamah rasa nostalgia tersebut.
Sudut Pandang Psikologi: Fenomena ini disebut The Proust Effect. Aroma dan rasa makanan tertentu, seperti mie ayam desa ini, dapat memicu ingatan emosional yang kuat dari masa lalu secara instan, lebih cepat daripada pemicu visual atau suara. Kita tidak hanya memakan mie, kita sedang “memakan” kenangan. Begitu lah kira-kira 🙂
Apakah Sobat JEI IKut Tergoda?
Bagaimana dengan dirimu, Sobat JEI? Jika tahu sebuah makanan itu tidak sehat tapi lezat seperti mie ayam desa, pernahkah kamu tetap menyantapnya? Kadang, memanjakan diri sesekali adalah bagian dari menjaga kewarasan mental di tengah ketatnya aturan diet. Setuju gak?
–Evi
