
Menelusuri reruntuhan Persepolis di Iran rasanya menjadi agenda wajib bagi pencinta sejarah. Situs purba ini bukan sekadar tumpukan batu biasa. Ini saksi bisu sejarah Kekaisaran Persia kuno, dari masa puncak kejayaan hingga keruntuhannya. Teman-teman akan saya bawa melihat langsung bukti sisa dari ganasnya Alexander Agung membakar kemegahan istana raja di masa lalu. Menyusuri sisa-sisa istana para raja Achaemenid yang kini terbaring sunyi, kita bisa meresapi luka masa lalu. Sekaligus menyadarkan, sebesar apa pun sebuah kekuasaan absolut, tidak ada yang abadi di muka bumi ini, kecuali mungkin tagihan listrik bulanan, ya kan?
Sebelumnya, Situasi Terkini di Iran
Ngomong-ngomong soal pelesiran ke Iran, Sobat JEI, situasi saat ini belum memungkinkan plesiran ke sana. Kalian pasti sudah banyak membaca berita mengenai situasi terkininya di awal tahun 2026 ini. Saat ini Iran sedang menghadapi berbagai dinamika politik, mulai dari ketegangan dengan Amerika, geopolitik dan situasi domestik. Masalah ini berimbas pada pembatasan penerbangan serta penyesuaian jam operasional beberapa situs bersejarah.
Beberapa negara, termasuk Indonesia, juga telah mengeluarkan imbauan keselamatan dan menyarankan warganya untuk menunda perjalanan ke sana untuk sementara waktu. Namun, tak perlu terlalu khawatir karena Kedutaan Besar RI di sana memastikan para WNI saat ini tetap dalam kondisi aman. Jadi, sambil mendoakan agar situasi lekas kondusif kembali untuk dikunjungi secara langsung, mari kita nikmati saja dulu perjalanan virtual menyusuri mahakarya kuno ini dari layar ponsel kita. Bebas visa, bebas turbulensi, dan pastinya seratus persen aman! 🙂
Kemegahan Gerbang Segala Bangsa Persepolis

Di bawah hamparan langit biru yang sangat cerah, saya nyaris tidak merasakan hawa panas dari perbukitan berbatu. Selama berada di Iran, saya selalu heran dengan langitnya yang biru polos seperti itu, hampir tidak pernah melihat guratan awan putih seperti yang saya temui di tanah air.
Tapi saya tidak sempat mengherani langit biru cerah polos sore itu. Karena perasaan saya membuncah dan menutupi segalanya. Turun dari mobil, saya berjalan di jalan lebar dan melihat rerunthan batu dari jauh. Ketika akhirnya menapaki jalur kayu yang membelah pelataran berdebu, akhirnya sampai ke gerbang lokasi yang sudah lama saya impikan untuk dikunjungi. Sekarang saya sudah berhadap-hadapan langsung dengan mahakarya purba, yang beridiri kokoh, yang seolah berani menantang zaman.
Itulah dia, Gerbang Segala Bangsa atau Gate of All Nations. Struktur pilar batu megah ini berdiri dingin dalam cuaca sore yang hangat. Fungsinya masih sama seperti ribuan tahun silam saat menerima para utusan dari berbagai penjuru dunia. Sepasang patung raksasa berwujud makhluk mitologi—banteng bersayap dengan kepala manusia—menatap tajam ke depan. Mereka seakan masih rajin bekerja menjaga pintu masuk ibu kota kekaisaran tanpa minta naik gaji. Berdiri tepat di bawah bayang-bayangnya, kemegahan masa lalu terasa begitu nyata.
Bertatap Muka dengan Penjaga Mitologi Persia

Setelah puas mengambil foto, minta difoto dan mencatat dalam hati apa yang bisa saya tulis kelak di blog, saya pun mengikuti teman-teman yang sudah beringsut duluan. Serasa jadi salah satu tamu agung istana saat kaki melangkah menyusuri rute platform kayu dengan melewati pilar-pilar raksasa tersebut. Belum jauh berjalan, sebuah artefak memaku pandangan saya. Patung batu berkepala ganda terlihat begitu unik. Karena kami tidak menggunakan guide, saya mengarahkan Google Lense kepadanya, langsung jadi tahu bahwa itu adalah wujud burung Homa atau griffin dalam legenda Persia.
Meski usianya sudah ribuan tahun dan bentuknya tak lagi sempurna, detail pahatan pada paruh bengkoknya tetap terlihat kokoh. Perjalanan waktu telah menyiksanya, namun sisa keagungan masa lalu masih tertinggal di sana. Patung ini dulunya berfungsi sebagai mahkota penyangga pilar istana (capital).
Kini, ia duduk tenang menjadi saksi bisu sejarah dengan latar belakang perbukitan berbatu tandus.
Sisa Mahkota Pilar Istana yang Sangat Dijaga

Sebelum beranjak meneruskan menelusuri reruntuhan Persepolis Iran, saya merekam pemandangan di kejauhan. Saya memutar tubuh ke sebelah kanan dan tetap berdiri di dekat patung burung Homa tadi. Pemandangan di sisi ini sungguh mempertegas skala masif reruntuhan Persepolis. Mata saya langsung tertuju pada mahkota pilar batu lainnya yang tak kalah raksasa.
Bentuknya menyerupai kepala kuda ganda yang menempel di atas tanah. Pengelola situs melindunginya dengan pagar kaca transparan. Pelindung kaca ini menjadi penanda betapa berharganya fragmen sejarah di hadapan kita. Bukit batu kecokelatan membingkai runtuhan ini, berkontras indah dengan sapuan langit biru tanpa awan.
Mengungkap Misteri Gerbang yang Belum Selesai

Saya meneruskan langkah. Membiarkan diri ditinggal teman-teman. Tapi suami saya masih di belakang, sedang bicara dengan anak-anak di tanah air. Lagi pula terlalu banyak artefak yang perlu saya resapi, gak cukup hanya dengan memotret, kemudian pergi.
Yang jadi pusat perhatian saya saat menelusuri reruntuhan Persepolis Iran sat itu adalah sebuah struktur batu raksasa. Sekilas bentuknya tampak seperti bongkahan patung atau dinding tebal yang sengaja tukangnya tinggalkan begitu saja. Bentuknya masih sangat kasar. Tumpukannya terdiri dari balok-balok batu masif tanpa ukiran detail.
Lama saya berdiri mengamatinya. Saya menerka-nerka mengapa bentuknya sangat tanggung. Plakat informasi di depannya akhirnya menjawab rasa penasaran tersebut. Tumpukan batu ini ternyata bernama The Unfinished Gate atau Gerbang yang Belum Selesai. Tumpukan balok ini menjadi bukti nyata sebuah mega proyek kekaisaran yang tiba-tiba mangkrak.
Sebuah kepingan sejarah yang terputus mendadak, mungkin karena mandornya lupa kembali proyek. Dan yang pasti pasti karena tentaranya Alexander Agung yang bengis telah membuat gerbang ini terbengkalai selama ribun tahun.
- Baca di sini tentang : Pengalaman Menginap di Villa Pintu Langit Dieng: Menjemput Sunrise Berselimut Kabut di Balkon!
Berpose di Gerbang Aula Seratus Kolom

Tak jauh dari lokasi gerbang mangkrak tadi, saya menemukan dua struktur batu kolosal yang menjulang tinggi. Bangunan ini merupakan sisa-sisa pilar gerbang masuk menuju Aula Seratus Kolom (The Hundred-Column Hall).
Kebuncahan dalam menelusuri reruntuhan Persepolis Iran ini kembali memanggil jiwa narsis saya. Rasanya tak lengkap jika tidak mengabadikan momen di sini. Setelah Pak Suami siap dengan kameranya, saya pun berdiri pasang aksi dengan latar belakang gerbang tersebut. Rasanya seperti sedang bersanding langsung dengan saksi bisu sejarah kekaisaran Persia kuno pada masa keemasannya.
Sisa Kehancuran Setelah Api Menyapu Istana

Hamparan puing yang lebih luas membentang dan memaksa saya diam sejenak. Pangkal-pangkal pilar berbentuk lonceng dan bingkai pintu raksasa berserakan di atas tanah berkerikil. Semuanya berdiri tanpa dinding penyangga. Puing-puing ini kemungkinan besar merupakan sisa dari kompleks istana residensial raja.
Melangkah lebih dalam, sisa-sisa The Hundred Column Hall menyambut saya. Ratusan pilar dulunya menyangga atap raksasa ruangan ini. Kini, kita hanya bisa melihat satu pilar utuh yang menjulang ke angkasa. Pilar ini bersanding dengan kerangka perancah (scaffolding) restorasi.
Melihat lautan reruntuhan batu, sisa tiang berulir, dan pecahan dinding ini membuat angan saya melayang. Saya membayangkan kekejaman sejarah masa lalu. Inilah bukti nyata ganasnya Alexander Agung dan tentaranya. Mereka merampok dan membungi hanguskan apa yang ada di sana. Setelah itu kemegahan istana raja Persia pun pupus dari muka bumi.
Iya, sang penakluk menjarah dan membumihanguskan permata kebanggaan bangsa Persia ini nyaris tanpa sisa. Api maha dahsyat meruntuhkan pilar penyangga dan menyisakan luka parah yang kini tergeletak bisu di hadapan saya.
Namun, sebuah bingkai pintu batu masih tegak berdiri di tengah lautan puing. Bingkai pintu tersebut seakan mengajak kita menelusuri kembali rute langkah para raja dan bangsawan saat hilir mudik di balairung istana zaman dahulu.
- Baca di sini tentang : Tuol Sleng Genocide Museum: Menjemput Pilu dan Memeluk Memori di Penjara S-21 Kamboja
Mahakarya Pahatan Relief di Tangga Apadana

Dorongan keingintahuan menuntun saya ke area berkanopi raksasa. Area ini bernama Tangga Timur Apadana (The Eastern Stairs of Apadana). Bangunan ini dulunya berfungsi sebagai jalan masuk menuju balairung audiensi terbesar di Persepolis.
Permukaan dinding tangganya memamerkan relief (bas-relief) yang luar biasa indah. Mata kita bisa melihat ukiran Pasukan Abadi (The Immortals) dan adegan dramatis seekor singa menerkam banteng. Gambar singa dan banteng ini melambangkan perayaan tahun baru Persia (Nowruz). Kita juga bisa melihat deretan utusan dari berbagai bangsa membawa upeti. Guratan relief ini seolah menarik saya melintasi waktu untuk menyaksikan parade kekaisaran secara langsung.
Sensasi Dikawal Pasukan Abadi Persia

Saya menapak naik anak tangga satu per satu. Fokus saya beralih pada struktur batu berundak di sebelah kanan. Permukaan sampingnya menampilkan pahatan deretan prajurit penjaga yang mengukir menyamping dengan detail memukau. Berjalan di sisinya memberikan sensasi tersendiri. Saya merasa seolah mendapat pengawalan khusus dari pasukan abadi saat menapaki rute para tamu kehormatan istana. Pengawalan gratis kelas VIP!
Senja Magis di Reruntuhan Istana Tachara

Langkah saya akhirnya berujung pada area paling ikonik dan fotogenik. Cahaya matahari senja memancarkan rona keemasan yang menawan. Tentu saja, saya kembali beraksi di depan kamera suami. Kali ini saya berpose di depan sisa-sisa Istana Tachara, Istana Musim Dingin Raja Darius Agung.
Kondisi bangunan ini berbeda dengan aula lain yang hancur lebur. Bingkai pintu dan jendela batu grey stone di sini masih berdiri tegak dan presisi. Aura kemewahan eksklusif sang raja tetap terasa menguar kuat. Bangunan ini sepertinya menolak keras untuk tunduk pada waktu.
Elegi Sunyi di Balik Sisa Luka Persepolis

Cahaya senja yang semakin merendah memunculkan semburat jingga. Warna ini justru mempertegas “luka-luka” lama Persepolis di area Istana Hadish. Balok-balok batu besar berserakan dan patah di mana-mana. Ironisnya, relief sosok abdi dalem di balik kaca pelindung masih bertahan jelas. Padahal ia menempel di atas batu yang terluka retak akibat suhu panas kobaran api ribuan tahun lalu. Senja ini seakan melantunkan elegi sunyi tentang kerapuhan sebuah kekuasaan.
Matahari perlahan tenggelam dan saya kembali tercenung. Apakah para penguasa ini pernah berpikir di tengah gelimang kekuasaan absolut masa lalu? Apakah mereka menyangka tempat tinggal megah mereka masih menjadi tontonan turis ribuan tahun kemudian? Atap emas itu telah lama musnah. Meski begitu, kehebatan peradaban mereka terus bergaung dalam decak kagum setiap pejalan.
- Baca di sini tentang : Wisata Bukit Pelalangan Arosbaya: Galeri Seni Bekas Tambang Batu Kapur
Lampu-lampu Persepolis sudah menyala. Untuk mengakhir menelusuri reruntuhan Persepolis Iran ini kita akan kembali ke Gerbang Segala Bangsa. Saya dan suami kembali berpose sebelum benar-benar pergi. Saya menatap reruntuhan ini di bawah temaram cahaya. Dalam hati, saya mengucapkan selamat berpisah pada jejak Raja Darius, Xerxes, dan Artaxerxes. Reruntuhan Persepolis mengajarkan kita satu hal penting. Mahakarya sebuah peradaban selalu menemukan cara untuk hidup selamanya, meski wujud fisiknya sudah tidak utuh lagi.
eviindrawanto.com
Baca juga:
