
Poin Utama
- Buku The Secret mengajarkan cara mewujudkan ide jadi kenyataan melalui tiga langkah: asking, believing, dan receiving.
- Semesta bertindak sebagai cermin yang memantulkan perasaan dan pikiran kita.
- Konsep hukum tarik-menarik juga terlihat dalam pemikiran Marxisme melalui dialektika Hegel.
- Marx menerapkan proses manifestasi ide menjadi materi dalam dunia nyata, mengedepankan pentingnya tindakan.
- Kunci kesuksesan terletak pada keyakinan dan penerapan ide dalam tindakan nyata di dunia fisik.
Sobat JEI, pernahkah kalian mendengar tentang kekuatan pikiran yang mampu mengubah nasib? Mereka yang akrab dengan buku The Secret karya Rhonda Byrne pasti paham. Buku fenomena ini mempopulerkan hukum tarik-menarik (Law of Attraction) yang konon telah dipraktikkan jutaan orang selama ribuan tahun.
Inti dari cara mewujudkan ide jadi kenyataan menurut buku The Secret terletak pada tiga konsep dasar: asking, believing, dan receiving.
Mari kita bedah lebih dalam bagaimana konsep ini bekerja, bahkan dari sudut pandang yang mungkin tidak kalian duga: filsafat Marxisme.
3 Langkah Kunci dalam The Secret
Rhonda Byrne menyederhanakan proses manifestasi menjadi alur yang mudah kita cerna. Proses ini bermula dari realitas tak kasat mata menuju realitas fisik.
- Asking (Meminta): Sobat JEI harus tahu persis apa yang diinginkan. Kejelasan adalah kunci.
- Believing (Meyakini): Kita harus percaya bahwa keinginan itu sudah menjadi milik kita saat ini juga. Ini adalah tahap paling krusial.
- Receiving (Menerima): Bertindak, berbicara, dan berpikir seolah-olah kita telah menerimanya.
Syarat utamanya adalah perasaan. Visualisasi tanpa emosi hanyalah lamunan. Sobat JEI perlu memancarkan frekuensi “sudah memiliki” agar semesta merespons.
Menurut Dr. Joe Dispenza, ahli neurosains, proses ini berkaitan dengan Reticular Activating System (RAS) di otak. Saat kita fokus pada satu hal dengan emosi kuat, otak akan menyaring informasi yang tidak relevan dan hanya memperlihatkan peluang yang mendukung tujuan kita. Jadi, ini bukan sekadar magis, tapi juga biologis.
- Baca di sini tentang : Cara Menjadi Orang Sukses Dari Nol – Ikuti 6 Kebisaan Ini
Mengapa Semesta Bertindak Seperti Cermin?
Hukumnya sederhana: Semesta memantulkan kembali pikiran dominan sang pemilik.
Jika Sobat JEI terus memendam perasaan kekurangan, maka hukum tarik-menarik akan terus mendatangkan situasi kekurangan ke dalam hidup. Sebaliknya, untuk mendatangkan gambar-gambar positif, kita harus memancarkan frekuensi yang setara.
Ketika kita melakukan ini, semesta akan bergerak. Ia mengatur situasi, orang, dan peristiwa agar selaras dengan kekuatan pikiran kita.
Baca juga:
Jejak Hukum Tarik-Menarik Dari Rumi hingga Marx
Yang menarik, setelah mendalami cara mewujudkan ide jadi kenyataan menurut buku The Secret, saya menemukan konsep ini bertebaran di mana-mana.
Dalam puisi-puisi Jalaluddin Rumi, konsep resonansi jiwa sangat kental terasa. Namun, bagaimana dengan pemikiran Marxisme? Apakah mungkin seorang materialis seperti Karl Marx mempraktikkan hukum daya tarik?
Jawabannya mengejutkan: Iya. Bahkan dalam sosialisme Marx, pola manifestasi ide menjadi materi sangat terlihat.
Dialektika Hegel Sebuah Akar Pemikiran Manifestasi
Marx membangun teorinya berdasarkan pendekatan Friedrich Hegel tentang “dialektika”. Hegel percaya bahwa setiap ide adalah hasil canggih dari benturan dua hal:
- Tesis: Ide awal.
- Antitesis: Penyangkalan atau lawan dari ide awal.
Benturan ini menghasilkan Sintesis, sebuah jalan tengah atau kebenaran baru. Proses ini berjalan terus-menerus hingga kebenaran mutlak muncul. Bagi Hegel, dunia nyata hanyalah pengejawantahan dari “Ide” atau Roh.
Materialisme Marx dan Kaitannya dengan Realitas
Di sinilah Marx mengambil gagasan Hegel namun membalik posisinya. Jika Hegel bermain di dunia ide, Marx menerapkan dialektika pada tingkat material (benda nyata).
Dalam bagian Pendahuluan Das Kapital, Marx menulis:
“Bagi Hegel, proses berpikir menciptakan dunia nyata… Bagi saya, ‘Ide’ adalah dunia material yang direfleksikan oleh akal manusia dan diterjemahkan melalui pemikiran.”
Sekilas mereka tampak berbeda. Namun, jika kita teliti, tidak ada perbedaan mendasar dalam mekanisme penciptaannya. Baik dialektika Hegel maupun Marx sama-sama menganggap bahwa dunia material adalah realitas terakhir yang valid.
Bagi Sobat JEI yang sedang membangun bisnis atau karya, ini pelajaran penting. Entah menggunakan pendekatan spiritual ala The Secret atau pendekatan materialis ala Marx, kuncinya sama: Ide harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata di dunia fisik.
Jadi, sudah siap mempraktikkan cara mewujudkan ide jadi kenyataan menurut buku The Secret hari ini? Mulailah dengan keyakinan, dan biarkan semesta (serta kerja keras kalian) membereskannya ya, Sobat JEI.
