Key Takeaways
- Kampung Nelayan Kuala Stabas Krui menyimpan keindahan tersembunyi dan warisan sejarah maritim yang kaya.
- Kehidupan masyarakat setempat menawarkan pengalaman belajar yang berharga, terutama dalam bidang ekonomi lokal.
- Dermaga Kuala Stabas merupakan warisan infrastruktur Hindia Belanda yang masih berfungsi meski dalam kondisi rusak.
- Nelayan Krui mengikuti ritme biologis laut untuk menentukan jadwal melaut, menjadikan aktivitas penangkapan ikan sangat kearifan lokal.
- Koperasi nelayan mendistribusikan hasil tangkapan ke pasar lokal dan Jakarta, menciptakan interaksi yang dinamis antara nelayan dan pasar.
Kampung Nelayan Kuala Stabas Krui menyimpan sebuah rahasia yang sering luput dari mata pelancong. Di balik deretan ombak Pesisir Barat yang memikat peselancar dunia, terdapat sebuah ‘gerbang waktu’ di bangunan tua yang runtuh. Siapa sangka, melangkah melewatinya justru membawa saya pada pemandangan sejarah maritim dan kearifan lokal yang menakjubkanโseolah menemukan pintu Narnia di tanah Lampung.
Ya begitu lah. Propinsi Lampung itu ibarat gadis cantik pingitan. Keindahannya nyata, dipuji orang namun tak banyak yang melihat. Dan yang disebut keindahan dalam perspektif pejalan tentu bukan hanya kecantikan alam. Cara hidup masyarakat beserta sumber ekonomi yang menghidupi mereka adalah perpustakaan hidup yang darinya bisa ditarik banyak pembelajaran. Seperti yang terjadi pada kunjungan saya suatu pagi di Kampung Nelayan Kuala Stabasย Krui. Terletak di Kelurahan Pasar Krui, Kecamatan Pesisir Tengah Kabupaten Lampung Barat (Lambar), tempat berlabuh perahu, dan wadah perdagangan ikan antara nelayan lokal dengan nelayan dari Pulau Jawa dan Makassar.
Baca juga: — > Pesona Alam Ulubelu Kabupaten Tanggamus
Memulai Pagi Dengan Gedung Tua
Bangun di hari pertama di Krui pagi masih menyisakan rintik hujan yang saya dengar sejak subuh. Dengan membawa secangkir teh hangat beringsut ke beranda Hotel Mulia yang menghadap ke jalan raya. Di sana disambut kelopak Kamboja Jepang merah muda dan Bougenville putih, berkedip-kedip ditimpa rinai gerimis. Segar. Angin lembut membawa aroma laut bersamanya. Tak terlihat seorang pun melintas. Saat itu lah mata saya terhenti pada bangunan compang-camping di seberang jalan. Atap, pintu dan tembok belakang tak utuh yang menjadi bingkai pemandangan laut di belakangnya. Suasana masih berkabut namun airnya hijau tosca dan bening.
Gerimis masih setia saat saya menyeberangi jalan menuju gedung tua itu. Sendirian. Meninggalkan suami dan anak-anak yang masih tidur. Penasaran sebab kemarin saat tiba saya tidak memperhatikan bangunan ini.
Menemukan “Pintu Narnia” di Pesisir Barat
Saya memanjat tembok rendah yang dulunya mungkin pagar. Melompat dan berjalan ke tengah ruangan lebar tanpa sekat.
Di atas, langit Krui tanpa awan mengintip dari atap yang runtuh. Dari arah muka, melalui dinding jebol, terhampar lah laut, perahu-perahu yang sedang bersandar, nelayan yang sedang mengangkat keranjang, dan anak-anak sedang bermain.
Seketika saya merasaย seperti jadi salah satu anak Pevensie dalam seri The Chronicles of Narnia. Petualanganย ย Lucy dan Edmund Pevensi ke negeri Narnia selalu di mulia dari sebuah pintu dalam lemari. Dan saya masuk ke Kampung Nelayan Kuala Stabas melalui pintu rusak dari sebuah gudang tua.
Baca juga —> Khakot Tanggamus yang Spektakuler
Kehangatan Pagi di Kampung Nelayan Kuala Stabas
Saya pun segera balik langkah. Membangunkan suami dan anak-anak untuk menceritakan penemuan itu. Sebab tak seorang pun diantara mereka pernah melihat desa nelayan sebelumnya tentu kesempatan seperti ini jangan disia-siakan. Dan memang tak seorangpun keberatan saya angkut ke Kampung Nelayan Kuala Stabas yang masuk lewat gudang rusak milik pengusaha kaya Lampung yang seangkatan Pak Ahmad Bakri, ayahnya Abu Rizal.
Satu-satunya cara mengenal kehidupan lokal dengan cepat adalah bertanya dan kalau bisa melebur dengan penduduknya. Insting blogger saya memudahkan hal ini. Apa lagi dengan pasukan lengkap, PD benar saya mendekati Kedai Kopi tempat bapak-bapak sedang ngerumpi. Cuma berbekal salam dan senyum apapun ditanya dapat jawaban yang ramah. Ciri khas karakter Indonesia yang terbuka yang di satu sisi menguntungkan di sisi lain mengkuatirkan.
Baca juga:
- Pantai Tanjung Setia Lampung
- Nelayan Karimunjawa Pulang Melaut
- 11 Rekomendasi Wisata Kuala Lumpur
- Pantai Merpati Bulukumba : Ketika Matahari Terbenam
Jejak Sejarah: Dermaga Peninggalan Belanda
Obrolan ringan di warung kopi pagi itu membuka tabir sejarah yang menarik. Rupanya, Dermaga Kuala Stabas bukan sekadar tempat sandar biasa, melainkan warisan infrastruktur Hindia Belanda yang dulunya vital sebagai pintu gerbang ekspor damar dan rempah dari pedalaman Sumatera ke Eropa. Sayangnya, sisa kejayaan itu kini beradu dengan realita pembangunan masa kini.
Warga bercerita bagaimana tanggul beton buatan pemerintah daerah kerap hancur lebur hanya dalam hitungan bulan karena tak kuasa menahan gempuran ombak Samudera Hindia yang ganas. Ironisnya, justru sisa-sisa breakwater (pemecah gelombang) asli konstruksi Belanda-lah yang masih ‘setia’ berdiri. Meski fisiknya tak lagi utuh, struktur tua itu terbukti lebih tangguh melindungi pantai dari abrasi dan menjaga perahu nelayan tetap aman saat bersandar. Sebuah bukti nyata betapa presisinya teknik sipil masa lalu dibandingkan proyek ‘tambal sulam’ zaman sekarang
Walau secara keseluruhan Dermaga Kuala Stabas tampak menyedihkan, terpaksa sekali lagi saya memoejikan Belanda. Bayangkan sudah berapa puluh tahun kita merdeka namun Kuala Stabas masih mengandalkan peninggalan mereka. Tertawa atau perlu nangis ya?
Filosofi dan Jadwal Melaut Nelayan Krui
Perbincangan santai di warung kopi itu tanpa terasa berubah menjadi ‘kuliah’ oseanografi yang memukau. Menyenangkan sekali rasanya mendapati bahwa jadwal melaut para nelayan Krui ternyata selaras dengan ritme biologis samudra. Saya jadi paham mengapa mereka memilih berangkat selepas Subuh; rupanya, ini berkaitan dengan perilaku ikan pelagis kecil seperti ekor kuning dan kembung yang secara naluriah naik ke permukaan (zona fotik) saat matahari terbit untuk mencari makan.
Sebaliknya, melaut di malam hari adalah perburuan bagi predator besar dari kedalaman (zona mesopelagic). Para nelayan paham betul soal Migrasi Vertikal Harian; di mana ikan-ikan besar ini naik ke perairan dangkal saat gelap untuk memangsa plankton dan ikan kecil. Kearifan lokal pun berbicara soal fase bulan: malam yang pekat tanpa cahaya bulan (fase bulan mati) adalah kondisi sempurna untuk memanipulasi cahaya lampu agar ikan berkumpul (fototaksis), atau agar pergerakan jaring tak terdeteksi oleh target.
Sementara itu, terang bulan purnama justru menjadi sinyal pesta bagi cumi-cumi dan udang yang tertarik pada iluminasi alami dan perubahan arus pasang surut
Baca juga: —> Jejak Pertama Orang Jawa di Museum Ketransmigrasian Lampung
Peran Koperasi dan Pelelangan Ikan
Ditempat itu berdiri beberapa koperasi . Koperasi lah yang membeli ikan dari kelompok nelayan lalu melelang atau mendistribusikannya ke pasar di sekitar Lampung atau di bawa ke Jakarta. Sayangnya saya tak sempat menunggu perahu-perahu yang pulang melaut. Biasanya sekitar pukul sebelas hasil tangkapanย baru naik dan di lelang di tempat.
Saya membayangkan alangkah serunya melihat ikan-ikan segarย di naikan ke dermaga. Karena itu akan langsung balik ke Bandar Lampung sementara masih banyak tempat yang hendak dikunjungi.
Menikmati Sisi Lain Kuala Stabas: Update Catatan Perjalanan
Kembali membuka lembaran catatan tentang Kampung Nelayan Kuala Stabas, rasanya ada banyak hal yang berkembang dari sekadar dermaga tua dan aktivitas nelayan. Bagi teman-teman yang berencana menjejakkan kaki ke sini, berikut beberapa hal baru dan insight menarik yang sayang untuk dilewatkan:
1. Wisata Kuliner: Memburu “Si Ikan Tuhuk”
Belum sah ke Krui kalau belum mencicipi rajanya laut Pesisir Barat. Ikan Blue Marlin atau yang akrab disebut warga lokal sebagai Ikan Tuhuk, adalah primadona hasil tangkapan nelayan Kuala Stabas.
Jangan bayangkan hanya ikan bakar biasa. Di sekitar pasar Krui tak jauh dari dermaga, kita bisa menemukan olahan unik seperti Bakso Ikan Tuhuk atau sate tuhuk. Tekstur dagingnya yang tebal dan juicyโmirip daging sapi namun dengan serat yang lebih halusโmemberikan sensasi kuliner yang tak terlupakan. Ini adalah comfort food terbaik setelah lelah berkeliling pantai.
2. Saksi Bisu “Krui Heritage”
Dermaga Belanda yang saya ceritakan sebelumnya kini semakin mendapat perhatian. Pemerintah daerah mulai menggaungkan narasi “Krui Heritage”, mengingat Pelabuhan Kuala Stabas adalah salah satu titik niaga tertua di pantai barat Sumatera. Jika teman-teman berdiri di atas sisa pemecah ombak itu, bayangkanlah bahwa ratusan tahun lalu, di titik yang sama, kapal-kapal asing pernah bersandar mengangkut damar dan rempah. Sebuah wisata imajinasi yang mahal harganya.
3. Realita Alam: Abrasi yang Menggerus
Keindahan pantai ini bukannya tanpa ancaman. Saat berkunjung, mungkin teman-teman akan melihat garis pantai yang berubah atau bangunan yang semakin dekat dengan bibir laut. Abrasi di kawasan ini cukup serius, sebuah pengingat bagi kita para pejalan betapa “ganasnya” Samudera Hindia dan betapa pentingnya menjaga kelestarian pesisir. Melihat tanggul-tanggul beton modern yang sering jebol dihantam ombak, rasa hormat kita pada kekuatan alam (dan kokohnya konstruksi masa lalu) pasti akan bertambah.
4. Waktu Terbaik untuk Fotografi Human Interest
Bagi sesama penyuka fotografi, Kuala Stabas adalah “studio alam” dengan pencahayaan dramatis.
- Pagi Hari (06:00 – 08:00): Waktu terbaik untuk memotret kesibukan pasar ikan dadakan. Ekspresi tawar-menawar dan ikan-ikan segar yang berkilau ditimpa matahari pagi adalah objek yang sangat hidup.
- Sore Hari (16:00 – 17:30): Datanglah saat para nelayan memperbaiki jaring. Aktivitas menyulam jaring yang robek dengan latar belakang perahu kayu tua menawarkan tekstur dan mood yang sangat artistik untuk lensa kamera Anda.
Jika beruntung datang di pertengahan tahun (sekitar Juni saat Krui Pro atau festival daerah berlangsung), kawasan ini akan jauh lebih meriah dengan berbagai event budaya pesisir yang dipusatkan di sekitar Teluk Stabas.
@eviindrawanto



