Mengenang ucapan Steve Jobs. Suatu hari saat berselancar di dunia maya, saya mendadak membeku di depan layar. Waktu seolah berhenti berdetak. Kutipan pendiri Apple ini sungguh singkat. Namun, maknanya begitu dalam hingga menyayat hati. Begini bunyi kutipannya:

“Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma—which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown your own inner voice. And most importantly, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.”
“Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain.”
Beliau menyampaikan kalimat sakti ini pada pidato kelulusan Stanford University tahun 2005. Fakta menariknya, pidato jujur ini lahir persis setelah ia mendapat diagnosis kanker pankreas. Kematian yang mengintip rupanya memicu kejujuran yang brutal.
Oleh karena itu, kata-kata tersebut sukses membuat saya menoleh ke belakang. Saya memutar kembali sejarah hidup bagai kaset lawas yang kusut.
Mengenang Ucapan Steve Jobs Membuka Memori Masa Kecil
Dahulu, saya memang anak yang sangat patuh. Saya selalu menuruti kata orang tua. Walaupun terkadang nakal, itu murni kenakalan wajar seorang bocah.
Sebenarnya, anak kecil menyimpan rasa ingin tahu yang meledak-ledak. Saya selalu penasaran akan banyak hal. Saya menuntut jawaban sebab-akibat setiap hari.
Namun, orang dewasa jarang memberikan jawaban memuaskan. Penelitian psikologi perkembangan kognitif dari Jean Piaget bahkan mengonfirmasi hal ini. Anak-anak senantiasa butuh validasi logis atas lingkungan sekitarnya. Sayangnya, lingkungan justru membungkam rasa penasaran itu.
Akibatnya, saya menyimpan semua pertanyaan itu dalam diam. Cari aman saja!
Terjebak Dogma dan Aturan Kaku Masyarakat
Selanjutnya, saya mulai hidup dengan menelan mentah-mentah aturan orang dewasa. Keluarga, kerabat, hingga kenalan terus menyodorkan buku panduan hidup tak kasat mata.
Bahkan, masyarakat menimpakan aturan yang paling mematikan. Melanggar aturan mereka berarti mengundang tabu yang mengerikan. Mereka meniupkan ancaman ini terus-menerus ke telinga saya.
Alhasil, saya mempercayai dogma tersebut seratus persen. Dalam ilmu sosiologi, fenomena taklid buta ini terkenal sebagai conformity bias. Individu rela mengorbankan logika pribadinya hanya demi diterima oleh kelompok sosialnya.
Jadi deh, saya menjelma menjadi pion penurut. Saya melupakan intuisi murni demi menjaga harmoni palsu.
Mengenang Ucapan Steve Jobs – Menggali Intuisi yang Terkubur
Beruntungnya, anak kecil yang kritis itu masih bernapas jauh di sudut hati. Rentetan pertanyaan sebab-akibat tak pernah benar-benar pergi. Sayangnya, konflik internal ini membentuk saya menjadi orang dewasa yang krisis percaya diri. Membuat selalu ragu sebelum melangkah maju.
Sebelum membaca kutipan itu, saya selalu gemetar saat mengambil keputusan krusial. Saya takut tindakan saya merusak tatanan suci keluarga. Bahkan, saya ngeri membayangkan coretan merah pada nama saya di silsilah keluarga.
Pakar psikologi Carl Jung menjawab masalah ini dengan menyebut fase ketakutan ini sebagai ‘bayangan’ masa lalu yang menghambat proses individuasi sejati.
Pertanyaan yang paling mengiris kalbu adalah, apakah masyarakat kelak mengecap saya sebagai manusia aneh?
Berani Menjadi “Aneh” dan Menemukan Diri
Pada akhirnya, kita harus berani memilih jalan hidup kita sendiri. Dunia memang selalu berisik oleh opini orang lain. Oleh karena itu, kita wajib mematikan speaker sumbang tersebut mulai sekarang.
Intuisi kita sebenarnya sudah paham ke mana kaki harus melangkah. Segala hal di luar suara hati hanyalah figuran semata. Sekarang, saya memilih menertawakan ketakutan masa lalu. Menjadi manusia aneh ternyata bukan sebuah kutukan abadi. Terkadang, keanehan justru menjadi kunci gerbang menuju kebebasan sejati.
Jadi jika ada teman-teman yang membaca ini bernasib seperti saya, mari kita melangkah mantap menyusuri jalan takdir kita, sembari terus mengenang ucapan Steve Jobs yang abadi ini.
@eviindrawanto2026
Baca juga:
