Desert Flower Kisah Perjalanan Seorang Model Berkulit Hitam ~ Whenever you read a good book, somewhere in the world a door opens to allow in more light –Vera Nazarian
Key Takeaways
- Desert Flower adalah autobiografi Waris Dirie, seorang model internasional asal Somalia, yang menceritakan perjalanan hidupnya.
- Dalam bukunya, Waris mengungkapkan pengalaman traumatisnya dengan praktik Female Genital Mutilation (FGM) dan perjuangannya untuk hak asasi manusia.
- Setelah sukses dalam dunia modeling, Waris menjadi aktivis anti-FGM dan mendirikan Desert Flower Foundation untuk membantu korban mutilasi genital.
- Waris Dirie merupakan simbol kekuatan perempuan yang mengubah trauma menjadi kekuatan untuk memperjuangkan hak perempuan di seluruh dunia.
- Cerita Waris memberikan pelajaran bahwa identitas seseorang bukan ditentukan oleh masa lalu, tetapi oleh keberaniannya untuk bangkit.
Sobat JEI, jika ada satu buku yang benar-benar membekas di pikiran bahkan lama setelah halaman terakhirnya ditutup, buku itu adalah The Alchemist karya Paulo Coelho. Namun, ada satu lagi karya yang sangat menggugah nurani, yakni Desert Flower, sebuah autobiografi yang mengisahkan perjalanan hidup luar biasa dari seorang model internasional asal Somalia bernama Waris Dirie.
Buku yang tak sengaja saya temukan di Google Book ini kembali membuka mata bahwa dunia tidak selalu bisa dilihat secara hitam-putih. Kebaikan tidak selamanya menang atas keburukan, karena standar nilai sering kali bergantung pada adat istiadat, budaya, serta di negara mana kita berpijak. Mengikuti kisah perjuangan Waris Dirie yang tumbuh dalam tradisi nomaden yang keras hingga keberaniannya menyuarakan isu Female Genital Mutilation (FGM) demi menegakkan hak asasi manusia, membuat saya merasa amat bersyukur terlahir di bumi Indonesia.
Kisah ini bukan sekadar tentang gemerlap dunia mode, melainkan sebuah perjuangan mempertahankan martabat dan hak asasi manusia. Desert Flower atau “Bunga Gurun” adalah judul autobiografi sekaligus film biografi yang mengangkat perjalanan hidup Waris Dirie, seorang perempuan yang berhasil mengubah trauma menjadi kekuatan untuk menggerakkan dunia.
Mengenal Waris Dirie dan Makna Desert Flower
Lahir pada tahun 1965 di sebuah keluarga nomaden di gurun Somalia, nama “Waris” secara harfiah berarti “Bunga Gurun”. Nama ini menjadi simbol bagi ketangguhan seorang anak perempuan yang tumbuh di lingkungan yang keras namun tetap mampu mekar di tengah keterbatasan.
Masa Kecil dan Trauma Female Genital Mutilation (FGM)
Buku ini dibuka dengan kenangan masa kecil Waris terhadap keluarganya yang hidup berpindah-pindah sebagai penggembala. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan kenyataan pahit. Pada usia sekitar 3 hingga 5 tahun, Waris dipaksa menjalani ritual Female Genital Mutilation (FGM) atau pemotongan alat kelamin perempuan.
Praktik ini merupakan adat turun-temurun yang merusak kesehatan reproduksi perempuan demi alasan tradisi. Pengalaman traumatis ini menjadi titik balik yang nantinya mendorong Waris untuk bersuara di panggung internasional.
Baca juga:
Pelarian Menuju London
Pada usia 13 tahun, demi menghindari pernikahan paksa dengan seorang pria berusia 60 tahun, Waris memutuskan melarikan diri. Tanpa alas kaki dan bekal yang cukup, ia melintasi gurun yang berbahaya menuju Mogadishu, hingga akhirnya takdir membawanya ke London untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kedutaan Somalia.
Puncak Karier sebagai Model Internasional
Keberuntungan Waris berubah saat ia ditemukan oleh fotografer ternama, Terence Donovan, ketika ia sedang bekerja di sebuah gerai cepat saji setelah masa baktinya di kedutaan berakhir.
- Pirelli Calendar (1987): Waris muncul dalam kalender bergengsi ini bersama model legendaris seperti Naomi Campbell.
- Wajah Kosmetik: Ia menjadi model kulit hitam pertama yang muncul dalam iklan Oil of Olay dan mendapatkan kontrak eksklusif dengan Revlon.
- Dunia Akting: Waris sempat terjun ke dunia film, termasuk peran kecil sebagai Bond Girl dalam film James Bond “The Living Daylights” (1987) bersama Timothy Dalton.
Transformasi Menjadi Aktivis Kemanusiaan dan Duta PBB
Meski telah meraih kesuksesan sebagai model internasional, Waris tidak melupakan masa lalunya. Pada tahun 1997, ia memutuskan untuk mengakhiri karier modelingnya demi fokus pada aktivisme.
Pendirian Desert Flower Foundation
Keberaniannya berbicara secara terbuka tentang praktik FGM memicu kesadaran global. Ia kemudian diangkat menjadi Duta Besar Spesial PBB untuk penghapusan FGM (1997-2003). Pada tahun 2002, ia mendirikan Desert Flower Foundation di Wina, Austria, sebuah organisasi yang fokus pada pemberantasan praktik mutilasi kelamin perempuan dan memberikan bantuan medis bagi para korbannya di seluruh dunia.
Nilai Moral dan Inspirasi Kisah Bunga Gurun
Film Desert Flower yang dirilis tahun 2009 dengan pemeran utama Liya Kebede, berhasil memvisualisasikan perjuangan ini dengan sangat emosional. Kisah ini mengajarkan kita bahwa identitas seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya yang kelam, melainkan oleh keberaniannya untuk bangkit dan menolong orang lain agar tidak mengalami hal yang sama.
Hingga hari ini, Waris Dirie tetap menjadi simbol kekuatan perempuan yang tidak hanya berhasil “bertahan hidup”, tetapi juga mampu “memberi hidup” bagi jutaan perempuan lainnya melalui kampanye hak asasi manusia yang konsisten.
Baca juga:
Masa Kecil Waris Dirie si Desert Flower
Buku dibuka oleh kenangan masa kecil Waris Dirie terhadap keluarganya. Mereka adalah keluarga nomaden, pengembala, hidup berpindah di gurun Somalia. Gurun gersang yang jarang turun hujan.
Kemiskinan dan kelaparan adalah teman mereka sehari-hari. Seperti anak-anak perempuan Somalia lain di tempat tinggalnya, usia 3 tahun Waris — Waris dalam bahasa Somalia berarti Bunga Gurun — menjalani sunat perempuan.
Sunat yang merusak sebagain besar bagian kewanitaannya merupakan ritual adat yang telah dilakoni kaum perempuan dalam sukunya selama turun-temurun. ” Lelaki tidak akan pernah menganggapmu perempuan bila itu tidak kau lakukan” Tulis Waris dengan nada pahit. Alasan yang juga membuat Waris memahami mengapa Sang Ibu melakukan itu terhadapnya.
Baca juga:
Karena tidak mau dinikahkan dengan lelaki seumur kakeknya, usia sembilan tahun Dirie melarikan diri dari rumah. Tanpa uang sepeser, tanpa roti sepotong, ia berjalan kaki keluar dari gurun, dan menumpang truk menuju Mogadishu.
Di kota yang lingkungan sosial sangat berbeda dari gurun, Waris tinggal di rumah kakak peremuannya yang sudah melarikan diri terlebih dulu. Kemudian beberapa kali pindah tempat tinggal dengan menumpang di rumah kerabat. Ia pun pernah jadi kuli bangunan untuk menopang hidup. Akhirnya nasib membawanya ke London jadi pembantu rumah tangga.
Memulai Karier Sebagai Model Menguak Kisahnya Kepada Dunia
Suatu ketika pencari bakat menemukan Dirie di London. Sekalipun penderitaannya belum berakhir –karena masalah kewarganegaraan – ia meninggalkan London untuk mencoba menaklukan New York. Di pusat pusat kota mode dunia ini lah bintang Dirie mulai bersinar.
Pada tahun 1997, pada puncak karir modeling-nya, Waris berbicara untuk pertama kalinya tentang kisah hidupnya. Diawali pertemuan dengan Laura Ziv dari majalah perempuan Marie Claire.
Mereka bicara tentang mutilasi alat kelamin perempuan (FGM) yang pernah ia jalani bersama dua saudara perempuannya. Wawan cara yang akhirnya lebih membuka mata dunia terhadap hak-hak dasar perempuan dari suku manapun di dunia.
Dan di tahun yang sama Waris Dirie ditunjuk menjadi duta PBB untuk penghapusan FGM. Ia mendirikan Yayasan Desert Flower, menggalang dana untuk diberikan kepada keluarga anak perempuan yang tak melakukan FGM selain menopang pendidikan mereka.
Sobat JEI, jujur saja, beberapa tahun belakangan ini saya sempat kehilangan gairah membaca buku. Meski rak buku terus bertambah isinya, banyak yang berakhir hanya menjadi pajangan atau bahkan masih terbungkus rapi dalam segel plastik. Namun, pengalaman membaca Desert Flower versi ebook benar-benar mematahkan rasa malas tersebut.
Kesan Mendalam – Mengapa Bunga Gurun Ini Begitu Memikat?
Entah karena gaya bahasa Waris Dirie yang begitu mengalir, atau karena kisah hidupnya di Somalia yang sangat kontras dengan keseharian kita, buku ini berhasil membetot rasa ingin tahu saya hingga tuntas.
Membaca Desert Flower lembar demi lembar terasa seperti mengikuti jejak kaki seorang anak perempuan yang tengah melintasi gurun yang panas dan berbahaya. Ada ikatan emosional yang kuat; seolah-olah Waris adalah putri yang pernah saya lahirkan, yang karena garis takdir harus terlempar ke kerasnya tanah Somalia. Muncul keinginan naluriah untuk menjangkau, memeluk, dan melindunginya dari trauma Female Genital Mutilation (FGM) yang menghantui masa kecilnya.
Kisah ini bukan sekadar tentang transformasi seorang gadis nomaden menjadi model internasional atau wajah bagi kampanye Revlon. Lebih dari itu, autobiografi ini adalah pernyataan sikap tentang keberanian. Waris memilih untuk tidak diam. Melalui Desert Flower Foundation, ia membuktikan bahwa luka masa lalu bisa diubah menjadi kekuatan untuk memperjuangkan hak asasi manusia bagi jutaan perempuan di seluruh dunia.
Bagi saya, buku ini bukanlah jenis bacaan yang membuat kita bimbang seperti kutipan Josh Jameson: “There comes a time when you have to choose between turning the page and closing the book.” Sebab, setelah membuka halaman pertama kisah Waris Dirie, menutup buku sebelum selesai bukanlah sebuah pilihan. Kita akan terus membalik halamannya karena ingin melihat bagaimana sang “Bunga Gurun” ini akhirnya berhasil mekar dengan indahnya.
Desert Flower by Waris Dirie
Published on June, 23 2009
Pages 240 โ ISBN 9780061952272
Genres : Biography & Autobiography / Cultural / Heritage

