
Dari jauh semua tampak indah, bukan? Halo Sobat JEI! Kalian pasti pernah merasakan fenomena ini saat melihat foto-foto memukau dari para traveler di media sosial. Artikel ini akan merangkum ilusi visual yang kerap mengecoh mata kita tersebut. Kita akan belajar melihat dengan menyelam ke dalam realitas kehidupan para pengembara sejati, dan mulai berpikir lebih dalam mengenai pilihan gaya hidup agar kita tidak mudah terjebak rasa iri. Mari kita bongkar bersama!
Pesona dari Udara: Mengapa Dari Jauh Semua Tampak Indah?
Beberapa hari lalu, saya asyik memilah foto-foto perjalanan untuk blog. Mata saya tertuju pada tumpukan foto yang saya ambil dari dalam pesawat. Saya pisahkan foto yang bagus ke satu folder khusus. Lumayan buat tebar pesona di Instagram nanti, kan? Sementara foto yang buram saya biarkan mengendap selamanya tanpa perlu dilihat manusia lain.
Saya memang hobi menyorongkan lensa ke luar jendela pesawat. Orang mungkin bilang kelakuan ini “norak”, tapi saya kebal. Terlalu banyak pesona yang sayang kita lewatkan jika cuma duduk manis. Langit biru berlapis awan selembut kapas menghadirkan pemandangan magis. Saat pesawat menembus awan, rasanya seperti berselancar di padang salju. Dari atas sini, dari jauh semua tampak indah. Puncak gunung bersaput mega terlihat mungil seperti nasi tumpeng. Batas laut dan darat pun mengabur, menciptakan ilusi ruang hampa. Begitu juga saat pesawat bersiap mendarat; atap rumah terlihat rapi seperti mainan kertas karton.
Mengapa hal ini terjadi? Menurut Construal Level Theory dari psikolog Yaacov Trope, jarak fisik yang jauh membuat otak kita memproses informasi secara abstrak dan idealis. Kita mengabaikan detail yang kotor atau rumit di bawah sana, dan hanya menyerap keindahan garis besarnya saja.
Mengobati Penyakit Iri Hati pada Digital Nomad

Sobat JEI, analogi pemandangan pesawat ini rupanya sangat relevan dengan kehidupan sosial kita. Gara-gara gampang percaya pada visual, saya pernah “iri level dewa” kepada para digital nomad. Mereka tampak sangat beruntung bisa pindah negara seenak jidat, seolah cuma pindah RT saja.
Setiap kali saya mengeklik foto mereka yang berisi pemandangan eksotis, budaya unik, dan makanan lezat, saya otomatis menelan ludah. Ujung-ujungnya, saya curhat sendiri di depan cermin. “Kok nasibmu kasihan amat sih? Jalan-jalan cuma rute kamar, ruang tamu, lalu berakhir di dapur.” Soundtrack hidup saya pun cuma tangisan dua berandal cilik di rumah. Energi saya habis memikirkan menu makan hari ini atau panik melihat nilai sekolah anak yang jeblok.
Dalam kurungan sangkar rutinitas emak-emak ini, saya atau mungkin juga kamu jarang berpikir lebih dalam. Kita hanya membayangkan para digital nomad terbang bebas bak burung elang dengan dompet yang isinya seolah tak berseri.
Kelakuan saya ini dijelaskan oleh pakar psikologi Leon Festinger melalui Social Comparison Theory. Bahwa manusia punya dorongan bawaan untuk membandingkan diri.
Masalah saya adalah, di era digital, saya membandingkan “behind the scenes” kehidupan nyata saya yang berantakan dengan “highlight reel” orang lain yang sudah melewati proses kurasi dan filter tingkat tinggi.
Langsung berasakan kalau pikiran saya gak masuk akal kan?
Baca juga:
Melihat dengan Menyelam: Realitas Asli di Balik Layar
Alhamdulillah, kewarasan saya pelan-pelan kembali. Setelah anak-anak mulai besar dan saya memutuskan traveling sebatas kemampuan ekonomi, mata saya pun terbuka. Saya juga banyak membaca buku, meriset blog, dan bertukar pikiran dengan sesama travel blogger.
Harga Mahal Sebuah Kebebasan
Kesimpulan saya bulat: Saya tidak perlu iri berlebihan. Kita harus melihat dengan menyelam untuk tahu bahwa setiap pilihan hidup menuntut bayaran mahal. Menjadi pejalan penuh waktu berbulan-bulan bukanlah sekadar liburan santai, melainkan sebuah profesi berat.
Banyak traveler membiayai gaya hidup nomaden ini dengan menjual rumah atau aset berharga. Di jalan pun mereka tetap banting tulang. Mereka menulis artikel untuk website, mendesain blog, mengajar bahasa, hingga mengambil pekerjaan serabutan yang mungkin bikin nyali saya langsung ciut.
Apa lagi kalau membaca dari laporan tahunan State of Remote Work dari lembaga riset Buffer. Secara konsisten menunjukkan bahwa “kesepian” (loneliness) dan “kesulitan memisahkan jam kerja dengan waktu istirahat” (unplugging) adalah musuh terbesar para digital nomad. Kebebasan fisik mereka sering kali datang sepaket dengan kelelahan mental.
Yah, jadi saya harus lebih bijak meletakan rasa iri kan?
Ilusi Dompet Tebal dan Hidup Melajang
Untuk traveler segmen low budget, cerita di balik foto keren mereka biasanya juga penuh keringat. Mereka memangkas habis biaya makan, mencari sponsor, hingga menebeng tidur di sofa kenalan. Kalau saya yang menjalani, bisa-bisa saya pingsan duluan. Saya paling malas berhitung kaku ala akuntan publik saat sedang liburan!
Selain urusan uang, kehidupan sosial mereka juga menuntut pengorbanan. Banyak petualang hebat memilih melajang agar bisa bebas bergerak. Mereka bisa berangkat kapan saja tanpa memikirkan bekal sekolah anak atau suami yang belum sarapan di rumah.
Berpikir Lebih Dalam: Mensyukuri Toilet Sendiri
Lalu, bagaimana dengan saya? Jujur saja, kalau jalan sendiri tanpa suami dan anak-anak, saya pasti langsung dihantui mimpi buruk. Baru tujuh hari di luar kota, pikiran saya sudah melayang. “Suami kesepian tidak ya? Anak-anak makan apa?” Berbagai skenario cemas itu selalu sukses membuat saya merindukan kasur empuk dan toilet rumah yang familiar.
Itulah saya. Perempuan culun yang dulu bermimpi jadi petualang garang dan iri setengah mati pada digital nomad. Kini saya mulai berpikir lebih dalam. Gaya hidup nomaden jelas bukan garis tangan yang cocok untuk saya jalani.
Saya juga disadarkan oleh penulis dan filsuf Alain de Botton dalam bukunya The Art of Travel, yang menegaskan bahwa kebahagiaan sebuah perjalanan tidak bergantung pada seberapa jauh kita terbang, tetapi pada cara kita memandang tempat tersebut. Kita bisa menemukan keajaiban di mana saja asalkan kita membawa rasa syukur.
Makjleb ya?
Jadi, jika kamu juga seperti saya dulu, mari kita nikmati saja peran sebagai wisatawan normal. Pergi bersenang-senang beberapa hari, lalu pulang dengan hati lapang untuk kembali memakai celemek dan meneruskan profesi sebagai koki andalan keluarga!
Tips Untuk Sobat JEI yang Mau Menikmati Traveling Tanpa Menjadi Digital Nomad
- Jadwalkan Micro-Cation: Sobat JEI tidak perlu resign dari pekerjaan untuk bisa liburan. Ambil cuti singkat 2-3 hari di akhir pekan untuk staycation atau menjelajah kota tetangga.
- Fokus pada Pengalaman, Bukan Konten: Nikmati momen kebersamaan secara langsung. Jangan buang waktu berjam-jam liburan hanya demi satu angle foto Instagram yang sempurna.
- Bawa Sepotong “Rumah” ke Tempat Liburan: Kalau Sobat JEI gampang homesick atau susah tidur di tempat baru, bawa benda kesayangan seperti sarung bantal favorit atau minyak aromaterapi andalan.
- Atur Dana Secara Realistis: Sisihkan budget liburan secara rutin agar kalian bisa traveling dengan nyaman tanpa pusing memikirkan tagihan kartu kredit setelah pulang.
eviindrawanto
The only thing you need for a travel is curiosity.
