
Sobat JEI, pernahkah kalian mencicipi nasi yang aromanya mampu memenuhi seluruh ruangan? Beras Adan Krayan adalah jawabannya. Sebagai hasil pertanian dataran tinggi Borneo yang ikonik, beras ini bukan sekadar bahan pangan, melainkan sebuah warisan peradaban. Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan saya menemukan permata organik ini bersama Aliansi Organis Indonesia (AOI), memahami sistem budidaya unik yang melibatkan kerbau, hingga membedah kandungan nutrisinya berdasarkan sains. Kita akan melihat bagaimana kearifan lokal suku Dayak Lundayeh menjaga kualitas beras ini hingga mendapatkan pengakuan dunia.
Menemukan Jejak Organik di Bogor Organic Fair
Perkenalan saya dengan teman-teman Aliansi Organis Indonesia (AOI) membuka banyak wawasan baru. Mereka sangat aktif melakukan advokasi masyarakat. Namun, sektor pertanian organiklah yang paling menarik perhatian saya. Walau lahir di kampung, saya bukan anak petani. Jalan bersama teman-teman AOI membuat saya paham sedikit tentang suka-duka pertanian organik. Bonus paling menyenangkan tentu saja persinggungan dengan produk eksotis seperti beras Adan Krayan.
Saya kembali menemukan beras ini pada Bogor Organic Fair 2. Tahun sebelumnya, kami berjumpa dalam acara Organic Green & Healthy (OGH). Kunjungan kami ke stan WWF Kalimantan berbuah manis. Saya pulang membawa beras Adan Krayan varietas hitam dan merah.
Asal Usul Beras Adan Krayan dan Kearifan Lokal
Beras Adan Krayan berasal dari varietas padi lokal yang tumbuh subur di Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur. Masyarakat menanamnya dengan sistem pertanian organik murni. Mereka menerapkan kearifan lokal secara ketat. Pola pertanian di sana mengikuti adat masyarakat Krayan, khususnya suku Dayak Lundayeh.
Para ahli antropologi pertanian sering memuji sistem ini. Dr. Kusnaka Adimihardja, seorang pakar etnoekologi, sering menekankan bahwa sistem pertanian tradisional justru memiliki ketahanan ekologi tertinggi. Di Krayan, pengolahan sawah harus mengikuti siklus alam. Petani menggarap lahan secara bergilir sesuai lokasi, musim, dan aturan adat. Sebagai hasil pertanian dataran tinggi Borneo, padi ini mendapat keuntungan dari suhu sejuk yang memperlambat pematangan bulir, sehingga akumulasi nutrisi menjadi lebih padat dan sempurna.
Siklus Alami dan Peran Kerbau
Salah satu keunikan utama beras Adan Krayan terletak pada masa tanamnya. Petani hanya menggarap lahan sawah Padi Adan sekali dalam setahun. Padi ini membutuhkan waktu empat hingga lima bulan dari persemaian hingga panen. Setelah itu, petani membiarkan lahan beristirahat total.
Masa istirahat ini memicu proses penyuburan tanah secara alami (natural fallow). Air pegunungan yang kaya mineral terus mengalir, mengendapkan unsur hara, serta membusukkan gulma dan sisa panen. Petani kemudian melepaskan kerbau ke sawah selama masa jeda ini.
Riset mendalam mengenai agroekosistem menunjukkan simbiosis mutualisme yang brilian di sini. Injakan kaki kerbau menggemburkan tanah secara efektif tanpa merusak struktur tanah seperti traktor berat. Selain itu, kotoran kerbau menjadi pupuk organik premium yang kaya nitrogen. Inilah rahasia mengapa hasil pertanian dataran tinggi Borneo ini selalu subur tanpa pupuk kimia.
Sertifikasi Indikasi Geografis Beras Adan Krayan
Beras Adan merupakan warisan budaya tak ternilai dari masyarakat Krayan. Ini adalah bibit lokal asli. Rasa nasinya sangat pulen dan enak. Saat Sobat JEI memasaknya, aroma harum pandan akan semerbak ke mana-mana.
Pemerintah menyadari perlunya perlindungan hukum atas kekayaan ini. Melalui nota kesepakatan lintas kementerian, beras Adan Krayan kini memegang sertifikat Indikasi Geografis (IG).
Pakar Hukum Kekayaan Intelektual menjelaskan bahwa IG adalah bentuk perlindungan hukum vital. Ini melindungi produk unggulan yang memiliki karakteristik khas akibat faktor lingkungan geografis. Sertifikasi ini memastikan bahwa hanya beras yang benar-benar ditanam di Krayan yang boleh menggunakan label beras Adan Krayan. Ini mencegah klaim palsu dan menjaga kemurnian varietas.
Peran WWF dan Konsep Green and Fair Trade

Sobat JEI mungkin melihat label WWF Green and Fair Trade (GFT) pada kemasan beras ini. Ini menandakan keterlibatan WWF dalam inisiatif pengakuan Indikasi Geografis tersebut. Kelompok tani di dataran tinggi Borneo ini merupakan binaan intensif WWF.
Konsep GFT menjamin bahwa produk tersebut dibudidayakan secara alami dan berkelanjutan. Masyarakat memproduksi beras ini dengan mengedepankan tradisi dan pranata adat. Pemasaran produk juga menggunakan harga yang adil (fair trade).
Studi ekonomi pertanian menyebutkan bahwa sistem fair trade sangat krusial bagi petani di daerah terpencil. Sistem ini memotong rantai distribusi yang panjang sehingga petani mendapatkan keuntungan lebih besar. Jadi, harga Rp25.000/kg (saat itu) sangat masuk akal mengingat nilai filosofis dan kualitas produknya.
Keunggulan Nutrisi Beras Adan Krayan
Mengapa saya membeli kembali beras organik ini? Selain niat membantu petani adat Krayan, faktor kesehatan menjadi alasan utama. Saya membeli beras Adan Krayan varietas hitam dan merah. Sesuai klaim pada kemasan, beras ini memiliki serat halus dengan cita rasa unik.
Secara ilmiah, hasil pertanian dataran tinggi Borneo ini memang unggul. Beras hitam Adan kaya akan antosianin. Para ahli gizi menyatakan antosianin berfungsi sebagai antioksidan kuat yang melawan radikal bebas dan peradangan.
Hasil uji laboratorium menunjukkan kadar mineral Kalsium (Ca), Fosfor (P), dan Zat Besi (Fe) pada beras ini melampaui beras hitam standar. Beras ini juga memiliki kadar lemak rendah namun tinggi protein (9,3%). Kombinasi nutrisi ini sangat baik untuk mendukung metabolisme tubuh dan kesehatan tulang.
Update Artikel Februari 2026
Harga Beras Adan Krayan saat ini (Februari 2026) cukup bervariasi tergantung lokasi pembelian (di Krayan langsung vs di luar pulau) dan jenis kemasannya.
Berikut adalah kisaran harga pasar terbarunya:
1. Harga di Marketplace (Tokopedia, Shopee, dll)
Jika Sobat JEI membeli secara online dari pulau Jawa atau kota besar lainnya, harganya berkisar antara:
- Rp50.000 – Rp80.000 per kg untuk kemasan vakum standar (White/Black/Red).
- Rp27.000 – Rp35.000 untuk kemasan mini pack (biasanya ukuran 200–500 gram atau sample size).
- Beberapa penjual reseller mungkin mematok harga hingga Rp100.000+ per kg jika stok sedang langka atau sudah termasuk biaya layanan premium.
2. Harga Lokal (Di Krayan/Nunukan)
Harga di daerah asalnya jauh lebih murah, namun sulit diakses kecuali Sobat JEI sedang berkunjung ke sana:
- Berkisar Rp15.000 – Rp30.000 per kg.
- Masyarakat lokal kadang menjualnya dalam satuan “kaleng” (sekitar 15-16 kg) dengan harga sekitar Rp200.000-an.
Kenapa Harganya Jauh Lebih Mahal di Luar Krayan?
Ada dua faktor utama yang membuat harganya melonjak saat sampai di tangan kita:
- Logistik (Pesawat Terbang): Krayan adalah dataran tinggi yang terisolasi. Akses utama pengiriman barang keluar adalah menggunakan pesawat terbang (udara). Biaya kargo udara inilah komponen termahalnya.
- Proses Organik & Manual: Seperti yang Sobat JEI tulis, prosesnya setahun sekali dan manual. Ini membuat stoknya tidak sebanyak beras komersial (terbatas/eksklusif).
Saran Pembelian: Untuk mendapatkan kualitas terbaik seperti pengalaman saya di Bogor Organic Fair, pastikan membeli yang kemasannya divakum (vacuum pack). Kemasan vakum menjaga aroma pandan dan kualitas beras tetap fresh meskipun menempuh perjalanan jauh dari Kalimantan Utara.
Diproduksi oleh: Kelompok Tani Beras Adan Krayan Di Bebuduk Kubul, Tang Paye’, Long Api, Pa’ Kebuan, dan Terang Baru, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, Indonesia.
eviindrawanto.com
