
Bagaimana kita tahu bahwa kita sukses dan bahagia jika aturan sukses berbeda untuk tiap orang? Halo Sobat JEI! Ide tulisan kali ini muncul setelah saya “melahap” buku saku Giant Steps karya Anthony Robbins. Buku ini berisi 365 inspirasi harian tentang penguasaan diri. Isinya singkat, padat, dan menohok. Inti utamanya sederhana: perubahan kecil yang konsisten bisa menghasilkan perbedaan besar dalam hidup kita.
eviindrawanto.com – Saya menuliskan rangkuman ini di blog kesayangan Jurnal Evi Indrawanto bukan cuma buat “ngomel” pada diri sendiri. Siapa tahu ada Sobat JEI yang nyasar ke sini dibawa om Google, lalu ikut tercerahkan. Lumayan kan, jadi amal jariyah digital?
Tony Robbins berharap pembacanya meluangkan waktu satu hari untuk satu artikel saja. Resapi, lalu praktikkan. Tujuannya agar mimpi kita tidak cuma jadi bunga tidur di siang bolong, tapi berubah jadi prestasi puncak. Nah, semua strategi di buku kecil ini sebenarnya “diperas” dari buku legendarisnya, Awaken the Giant Within (AGW).
Dua Wajah Kesuksesan: Eksekutif vs Pria “Di Atas Tanah”
Dalam salah satu bab yang menarik, Tony menceritakan kisah dua peserta seminarnya. Cerita ini menampar kita soal bagaimana kita tahu bahwa kita sukses sebenarnya.
1. Si Eksekutif yang Merasa Gagal
Pria pertama adalah eksekutif top. Di atas kertas, dia punya segalanya: Istri setia, lima anak cantik, penghasilan ratusan ribu dolar, dan tubuh bugar ala atlet maraton.
Tapi anehnya, dia merasa seperti pecundang. Kenapa? Menurut Profesor Psikologi Sonja Lyubomirsky dalam bukunya The How of Happiness, orang sering terjebak dalam hedonic treadmill. Kita mengejar target, mencapainya, tapi standar kebahagiaan kita langsung naik lagi. Akibatnya, kita tidak pernah puas. Si eksekutif ini punya “aturan main” yang mustahil dia menangkan. Dia membuat syarat bahagia yang terlalu rumit.
2. Pria yang Bahagia Sederhana
Pria kedua? Dia tidak punya keunggulan materi seperti si eksekutif. Tapi saat Tony bertanya, dia merasa sangat sukses. Jawabannya bikin senyum:
“Saya bangun pagi, melihat ke bawah, dan sadar saya masih berdiri di atas permukaan tanah. Sebab berada di atas tanah setiap hari adalah hari yang baik!”
Tony pun bertanya ke audiens, “Mana yang lebih sukses?” Jawabannya nampak jelas, bukan? Tapi tunggu dulu.
Baca juga:
Jebakan Aturan Main yang Tidak Masuk Akal
Di sini letak masalahnya. Aturan sukses berbeda untuk tiap orang, dan aturan itulah yang menentukan kebahagiaan kita.
Sayangnya, buku ini terlalu ringkas (namanya juga Giant Steps, bukan Giant Encyclopedia). Saya belum baca versi lengkap AGW, jadi saya tidak tahu persis “aturan gila” apa yang dipasang si eksekutif tadi. Mungkin dia baru merasa sukses kalau bisa lari maraton di bulan sambil salto? Siapa tahu.
Namun, penelitian modern mendukung teori Tony. Dalam psikologi, ini disebut Cognitive Appraisal. Bukan kejadiannya yang bikin kita stres atau bahagia, tapi cara kita “menilai” kejadian tersebut.
Kritik Evi: “Di Atas Tanah” Saja Tidak Cukup!
Kalau ada yang bilang pria kedua mutlak lebih sukses karena dia bahagia, saya agak kurang setuju. Maaf ya, Tony!
Memang, sukses itu soal mindset. Sukses itu soal kacamata yang kita pakai buat meneropong dunia. Tapi bagi saya, sekadar “tahu kita masih berpijak di atas tanah” itu standar yang terlalu rendah. Point of view-nya kurang tinggi, Sobat JEI! Kalau cuma lihat tanah, kapan kita lihat bintang?
Jujur saja, saya belum pernah ke bulan. Tapi hal itu tidak menghalangi saya untuk bahagia. Maksud saya begini: bersyukur itu wajib, tapi punya ambisi itu perlu. Kalau standarnya cuma “masih hidup”, kita jadi malas berkembang. Kita butuh keseimbangan antara Gratitude (bersyukur) dan Growth (bertumbuh).
Seperti kata Carol Dweck dalam teori Growth Mindset, kebahagiaan sejati seringkali muncul dari proses belajar dan menghadapi tantangan, bukan cuma dari rasa puas yang statis.
Tips Menentukan Aturan Sukses Sendiri
Supaya Sobat JEI tidak terjebak seperti si eksekutif yang stres atau terlalu santai seperti pria kedua, coba cek tips berikut:
- Cek Toko Sebelah (Tapi Jangan Beli): Boleh lihat kesuksesan orang lain sebagai inspirasi, tapi jangan jadikan patokan. Ingat, aturan sukses berbeda untuk tiap orang.
- Buat Aturan yang Bisa Dikontrol: Jangan gantungkan sukses pada hal di luar kendali (misal: “Saya sukses kalau orang lain memuji saya”). Ganti dengan: “Saya sukses kalau saya sudah berikan usaha terbaik hari ini.”
- Rayakan Kemenangan Kecil: Berhasil bangun pagi tanpa tekan tombol snooze? Itu sukses. Artikel blog selesai satu paragraf? Itu juga sukses.
- Tetap Lapar, Tetap Bodoh (tapi Jangan Kebablasan): Merasa cukup itu baik untuk hati, tapi merasa kurang itu baik untuk dompet dan otak. Cari keseimbangannya.
Jadi, bagaimana kita tahu bahwa kita sukses? Jawabannya ada di cermin. Kalau Sobat JEI bisa tidur nyenyak malam ini sambil tersenyum mengingat hari yang sudah lewat, selamat! Anda sudah sukses, versi Anda sendiri.
Bagaimana menurut Sobat JEI? Tim Eksekutif atau Tim “Di Atas Tanah”? Tulis di kolom komentar ya!
eviindrawanto.com
