Tahukah Sobat JEI, bahwa pemanis alami di meja makanmu bukan hasil sulap? Faktanya, Gula Aren Harus Lewati 5 Tahap Kritis Ini Sebelum Layak Konsumsi. Perjalanan panjang nan “berliku” dari hutan sampai ke dapur ini mencakup proses meninggur, menderes, memasak, pengeringan (ovenisasi), hingga packing. Mari kita bedah rahasia di balik manisnya gula aren yang ternyata butuh perjuangan ekstra dan bukan sekadar “rebus lalu jadi”.
1. Meninggur: “Pijatan” Kasih Sayang untuk Pohon Aren

Proses dari hutan sampai ke dapur ini bermula jauh sebelum air nira menetes. Semuanya berawal dari ritual bernama Meninggur.
Meninggur adalah aktivitas memukul-mukul tangkai bunga aren menggunakan martil kayu khusus, lalu menggoyang-goyangkannya. Tujuannya? Agar “urat-urat” atau saluran kapiler di dalam tandan pecah.
Menurut para ahli pertanian dari IPB, perlakuan mekanis seperti ini merangsang floem (jaringan pengangkut) agar nira mengalir deras. Tanpa “pijatan” ini, nira akan macet. Proses ini butuh waktu 2 minggu hingga 2 bulan. Jadi, petani aren itu harus sabar. Kalau tidak sabar, pohonnya ikut ngambek dan tidak mau mengeluarkan air.
2. Menderes: Ujian Nyali di Atas Tangga Bambu
Setelah wangi harum tercium dari tandan bunga, Gula Aren Harus Lewati 5 Tahap Kritis Ini Sebelum Layak Konsumsi yang kedua: Menderes.
Ini bukan pekerjaan untuk mereka yang takut ketinggian. Petani harus menaiki tangga bambu sebatang (sigay) setidaknya dua kali sehari. Pagi mengambil nira, sore mengganti wadah (lodong).
Fakta menarik dari lapangan: Nira sangat sensitif terhadap pH. Menurut standar keamanan pangan, nira harus segera diambil sebelum matahari tinggi agar tidak terfermentasi alami menjadi tuak (alkohol) atau cuka.
Menaiki ruas bambu licin ini butuh skill tingkat dewa. Salah injak sedikit, fatal akibatnya. Jadi, saat Sobat JEI menikmati kopi gula aren, ingatlah ada peluh petani yang menahan bobot tubuhnya hanya dengan ujung jari kaki di ketinggian hutan.
3. Memasak: Berpacu dengan Waktu dan Api

Nira yang sudah turun dari pohon tidak boleh “santai”. Ia harus segera masuk kuali. Tahap ini sangat krusial dalam rantai proses dari hutan sampai ke dapur.
Penyaringan adalah kewajiban. Kita tidak mau ada ranting, ijuk, atau semut nyasar yang ikut termasak, bukan?
Proses memasak ini memakan waktu 3-4 jam untuk menguapkan kadar air. Reaksi Maillard (pencokelatan non-enzimatis) terjadi di sini, memberikan warna eksotis dan aroma khas caramel. Jika api terlalu kecil, nira jadi asam. Jika terlalu besar, gula gosong. Petani harus menjaga nyala api sabil menahan panas yang bikin gerah.
Baca juga:
4. Pengeringan (Ovenisasi): Standar Pabrik vs Tradisional

Nah, di sinilah perbedaan kualitas terlihat jelas. Gula cetak tradisional biasanya langsung dingin, tapi untuk Gula Aren Semut (bubuk), Gula Aren Harus Lewati 5 Tahap Kritis Ini Sebelum Layak Konsumsi berupa pengeringan lanjut.
Mengapa tidak dijemur saja? Mungkin terdengar romantis menjemur gula di bawah matahari tropis. Tapi realitanya? Absurd. Bayangkan debu, lalat kaki kotor, atau tiba-tiba hujan turun saat gula sedang “berjemur”.
Industri modern menggunakan oven. Ahli teknologi pangan menekankan bahwa kadar air (moisture content) gula semut harus di bawah 3% (sesuai SNI). Pengeringan oven menjamin gula higienis, kering sempurna, dan awet tanpa pengawet buatan. Ini rahasia kenapa gula aren premium tidak mudah menggumpal.
5. Packing: Benteng Terakhir Kualitas

Tahap final perjalanan dari hutan sampai ke dapur adalah pengemasan.
Gula aren bersifat higroskopis (mudah menyerap air dari udara). Tanpa kemasan yang kedap udara dan berkualitas, gula aren kering akan kembali basah dan lengket hanya dalam hitungan jam.
Kemasan bukan sekadar bungkus, tapi pelindung yang memastikan Sobat JEI menerima manfaat sehat yang utuh, sama seperti saat baru keluar dari oven pabrik.
Tahukah Sobat JEI, ternyata rumit kan? Menghargai sebutir gula aren berarti menghargai kearifan lokal, jerih payah petani, dan teknologi pangan yang menjaganya tetap murni.
Baca juga : Cara Menyadap Aren, Dimulai dari Proses Meninggur

— Evi Indrawanto
