Key Takeaways
- Makan meja, atau Ciatok, adalah tradisi perjamuan Tionghoa di mana tamu duduk di meja bundar dan menikmati hidangan bertahap.
- Tradisi ini mengedepankan kebersamaan dan simbolisme, seperti kesetaraan melalui bentuk meja bundar dan Lazy Susan untuk berbagi rezeki.
- Urutan hidangan dalam Makan meja melambangkan makna tertentu, seperti hidangan pembuka untuk harmoni dan ikan utuh untuk keberlimpahan.
- Proses reservasi sangat penting dalam Makan meja untuk memastikan semua tamu mendapatkan pengalaman yang nyaman dan menyenangkan.
- Etika saat menikmati Makan meja mencakup penghormatan kepada tamu yang lebih tua dan cara mengambil makanan yang benar.
Halo, Sobat JEI!
Pernahkah Sobat JEI menghadiri resepsi pernikahan atau perayaan Imlek di mana tamu duduk mengelilingi meja bundar dan hidangan disajikan satu per satu? Dalam budaya Tionghoa, tradisi ini dikenal dengan istilah Makan Meja atau dalam dialek Hokkian disebut Ciatok (chiak-toh).
Berbeda dengan konsep prasmanan (buffet) atau standing party, Makan Meja bukan sekadar soal kenyang. Ini adalah ritual sosial yang sarat akan filosofi, simbolisme keberuntungan, dan perekat hubungan antarmanusia. Mari kita bedah lebih dalam agar Sobat JEI makin paham makna di balik setiap suapannya.
Apa Itu Tradisi Makan Meja (Ciatok)?
Secara harfiah, Ciatok berarti “makan di meja”. Namun, dalam konteks sosial budaya Tionghoa di Indonesia, istilah ini merujuk pada perjamuan resmi (banquet) di mana para tamu duduk di meja bundar (biasanya berisi 10 orang) dan menikmati rentetan hidangan istimewa yang keluar secara berurutan (course by course).
Sejarah dan Evolusi
Tradisi ini berakar kuat dari kebiasaan makan komunal di Tiongkok kuno yang mengutamakan kebersamaan. Masuk ke Indonesia, tradisi ini beradaptasi dengan cita rasa lokal namun tetap mempertahankan pakem leluhur. Jika dulu Ciatok identik dengan pernikahan dan Imlek, kini tradisi ini juga sering dilakukan untuk business deal atau perayaan ulang tahun lansia (shou).
Filosofi Meja Bundar dan “Lazy Susan”
Sobat JEI mungkin bertanya, mengapa mejanya harus bundar?
- Kesetaraan dan Keutuhan: Bentuk lingkaran tidak memiliki sudut, yang menyimbolkan ketidakterputusan dan kesetaraan. Semua orang yang duduk di meja tersebut memiliki posisi yang sama pentingnya. Ini juga melambangkan Tuan Yuan (reuni/kebersamaan yang utuh).
- Lazy Susan: Piring putar di tengah meja ini bukan sekadar alat bantu. Penemuannya memfasilitasi prinsip “berbagi rezeki”. Dengan memutar meja, kita memastikan setiap orang mendapatkan bagian makanan yang adil tanpa harus berdiri atau menjangkau jauh.
Struktur Menu dan Simbolisme Makanan
Dalam Makan Meja, urutan keluarnya makanan tidak sembarangan. Biasanya terdiri dari 8 hingga 9 jenis hidangan. Angka 8 (ba) terdengar seperti kata “makmur/kaya”, dan angka 9 (jiu) melambangkan “keabadian”.
Berikut adalah struktur umum dan makna tersembunyi di baliknya:
1. Hidangan Pembuka (Cold Cuts)
Biasanya terdiri dari kombinasi 4-5 jenis daging dingin (ayam, ubur-ubur, telur pitan, atau daging asap). Ini melambangkan “empat musim” atau harmoni dalam keberagaman.
2. Sup (Kehangatan)
Sup hisit (sirip hiu – kini sering diganti dengan fish maw/perut ikan atau jamur untuk alasan lingkungan) melambangkan harapan agar rezeki mengalir lancar dan kehidupan yang mulus.
3. Hidangan Utama (Darat dan Laut)
Di fase ini, Sobat JEI akan disuguhi aneka lauk berat:
- Ikan Utuh: Kata “ikan” (yu) berhomofon dengan kata “berlebih”. Ikan harus disajikan utuh (kepala sampai ekor) sebagai simbol awal dan akhir yang baik (surplus) sepanjang tahun.
- Teripang (Haisom): Melambangkan harapan akan kelahiran generasi baru atau pertumbuhan aset.
- Ayam/Bebek: Biasanya disajikan utuh atau dengan warna kemerahan, menyimbolkan kebahagiaan dan kesetiaan.
4. Hidangan Penutup (Karbohidrat)
Uniknya, nasi goreng atau mie justru keluar di akhir sesi lauk, sebelum dessert.
- Mie: Wajib panjang dan tidak boleh dipotong, melambangkan longevity (umur panjang).
- Nasi Goreng: Simbol kecukupan pangan, memastikan tamu pulang dalam keadaan perut kenyang.
5. Dessert (Manisan)
Biasanya berupa sup manis (seperti sup jamur es, kelengkeng, atau kacang merah). Rasa manis melambangkan harapan agar hidup para tamu selalu “manis” dan menyenangkan kedepannya.
Suasana dan Tata Cara Reservasi
Salah satu ciri khas Budaya Tionghoa dalam perhelatan ini adalah perencanaan yang matang. Jauh-jauh hari, pihak keluarga telah merancang seating arrangement secara seksama. Tamu biasanya dikelompokkan berdasarkan kedekatan hubungan atau hierarki usia. Para orang tua tidak akan didudukkan satu meja dengan remaja, apalagi anak-anak, demi menjaga kenyamanan interaksi.
Karena itulah, Makan Meja atau Ciatok sangat mengandalkan sistem reservasi (RSVP). Tuan rumah akan memastikan konfirmasi kehadiran satu per satu tamu demi mencegah makanan mubazir. Uniknya sistem paket ini, sekalipun satu Meja Bundar hanya terisi lima orang, porsi hidangan yang disajikan tetap dihitung untuk sepuluh orang.
Di dalam ruangan yang sejuk, suasana kekeluargaan dan keriaan khas Tradisi Tionghoa terasa sangat kental. Pesta semacam ini menawarkan nuansa yang lebih private, intim, dan akrab dibandingkan pesta berdiri. Tak jarang, momen Ciatok menjadi ajang reuni dadakan. Sebelum acara dimulai, pemandangan kerabat yang saling menghampiri meja untuk bertegur sapa dan update kabar menjadi bumbu pemanis yang menghangatkan suasana.
Baca juga:
Etika dan Tata Krama Makan Meja
Agar Sobat JEI tampil elegan dan menghormati tradisi saat diundang Ciatok, perhatikan etika berikut:
- Dahulukan yang Tua: Jangan memutar Lazy Susan atau mengambil makanan sebelum orang yang paling dituakan di meja tersebut mengambilnya.
- Arah Putaran: Putarlah meja searah jarum jam.
- Posisi Ikan: Jika ada kepala ikan, biasanya diarahkan kepada tamu kehormatan di meja tersebut sebagai tanda respek.
- Menambah Teh: Jika teko teh teman di sebelah kosong, tuangkanlah untuknya. Ini adalah gestur keakraban yang sangat dihargai.
Tips Menghadiri Undangan Ciatok untuk Sobat JEI
- Datang Tepat Waktu: Ciatok dimulai serentak. Terlambat datang berarti Sobat JEI mungkin melewatkan hidangan pembuka yang ikonik.
- Perhatikan Pakaian: Karena ini acara formal (sit-down dinner), gunakan pakaian yang rapi. Hindari celana pendek atau sandal.
- Makan Perlahan: Ingat, akan ada 8-9 menu. Jangan habiskan kapasitas perut di menu awal. Nikmati porsi kecil di setiap course.
FAQ: Pertanyaan Seputar Makan Meja (Ciatok)
A: Ciatok adalah makan duduk di meja bundar dengan menu berurutan (resmi). Sedangkan Cia-liap adalah istilah untuk makan biasa/sehari-hari atau pesta berdiri yang lebih santai.
A: Dalam kepercayaan nelayan Tiongkok kuno, membalik ikan melambangkan perahu yang terbalik (kesialan). Meski kita makan di darat, tradisi “mengambil daging bagian bawah tanpa membalik tulang” tetap dijaga sebagai simbol keselamatan.
A: Tidak selalu. Saat ini banyak restoran Chinese food atau katering Ciatok yang menyediakan menu Halal atau No Pork No Lard untuk menghormati tamu Muslim, tanpa mengurangi esensi tradisi tersebut.
Gimana, Sobat JEI? Sekarang jadi lebih siap dong kalau dapat undangan makan meja? Bukan sekadar makan, tapi kita sedang merayakan doa dan harapan baik bersama-sama.
Salam, Evi
Foto-Foto
Berikut beberapa foto menu makan meja…

