Key Takeaways
- Wisata Lereng Gunung Tanggamus mengajak peserta Festival Teluk Semaka untuk menjelajahi keindahan lereng gunung tertinggi kedua di Lampung.
- Trekkers menikmati trekking santai menuju Base Camp Sonokeling sambil menikmati panorama ladang sayuran dan keindahan alam.
- Perjumpaan dengan petani di lereng Tanggamus membuka wawasan tentang perjuangan hidup dan dilema yang dihadapi para petani lokal.
- Harga jual tomat yang anjlok membuat petani memilih membiarkan hasil panen membusuk ketimbang merugi lebih besar.
- Pengalaman ditutup dengan makan bancakan di kebun, menciptakan suasana kebersamaan yang istimewa di alam terbuka.
Wisata Lereng Gunung Tanggamus โ Pada hari pertama dari rangkaian Festival Teluk Semaka, peserta D’Semaka Tour dibawa oleh Mas Elvan dari Dinas Pariwisata untuk menjelajah keindahan lereng Gunung Tanggamus.
Sebagai gunung tertinggi kedua di Provinsi Lampung setelah Gunung Pesagi, Gunung Tanggamus selalu menjadi latar belakang yang memukau setiap kali kita memotret lanskap Kotaagung. Gunung ini tidak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga menimbulkan rasa penasaran karena cerita mistis yang melingkupinya.
Namun, tujuan D’Semaka Tour kali ini tidak untuk mendaki sampai ke puncak. Agenda utamanya adalah trekking santai, menikmati panorama indah sebuah lereng gunung, dan mendaki hingga ke Sonokeling Base Camp, tempat perhentian pertama di jalur pendakian Gunung Tanggamus.
Trekking Menuju Base Camp Sonokeling
Sekitar pukul sepuluh pagi, kami tiba di Desa Sido Katon yang menjadi titik awal trekking. Matahari bersinar cerah dengan hawa sejuk yang menyegarkan, meski tidak sedang berangin.
Begitu turun dari bus, saya mengambil napas dalam-dalam untuk menghirup aroma tanah basah yang khas. Kawan-kawan peserta lain tampak bergerombol di halaman sebuah rumah warga, di mana bunga bokor dan mawar sedang mekar, menciptakan pemandangan yang sangat asri.
Kami pun siap menjelajah lereng Gunung Tanggamus. Bagi saya yang sudah beberapa kali melakukan trekkingโterakhir menjajal dengkul di kaki Pegunungan Halimunโperjalanan ini terasa santai saat Mas Hanung memandu kami berbelok dari jalan desa berbatu menuju jalan setapak.
Kami berjalan berbaris menyusuri jalan menanjak sambil menikmati pemandangan hijau dari ladang sayuran di sisi kiri dan kanan. Namun, beberapa menit kemudian, saya mulai bertanya-tanya, โLah kok jalannya naik terus ya, tak terlihat tanda-tanda berhenti?โ
Seperempat sampai setengah perjalanan menuju Base Camp Sonokeling belum terlihat juga. Posisi saya yang tadinya di barisan paling muka, perlahan bergeser ke tengah, dan akhirnya menjadi paling buncit. Keringat mulai mengucur deras dari kepala hingga menjalar ke punggung.
Baca juga :
Bertemu Petani di Lereng Tanggamus
Di tengah perjalanan, perjumpaan dengan Pak Hasanudin membuka wawasan baru. Ladang-ladang sayur yang terhampar di depan mata kini tak lagi sekadar pemandangan gunung yang romantis atau view indah semata.
Sobat JEI, perjumpaan dengan Pak Hasanudin di tengah perjalanan ini benar-benar membuka wawasan baru. Ladang-ladang sayur yang terhampar luas di depan mata kini tak lagi sekadar pemandangan gunung yang romantis atau view indah semata. Di balik keasrian lereng Gunung Tanggamus ini, terpahat kisah perjuangan hidup dari para pemilik maupun penggarap ladang.
Baca juga: Wisata Pelelangan Ikan Tanggamus
Dilema Petani di Lereng Tanggamus
Baik mereka yang menggarap lahan milik sendiri yang disebut Tanah Marga, maupun mereka yang “mencuri-curi” menggarap tanah pemerintah yang dikenal sebagai Kawasan (hutan lindung), semuanya terpaut dalam satu kisah klasik: nasib petani Indonesia yang belum sepenuhnya berdaya.
Pak Hasanudin menjawab keheranan saya tentang kebun tomat yang tampak ditelantarkan begitu saja. Menurutnya, pohon-pohon tomat yang dibiarkan meranggas dan buahnya tak dipetik itu adalah simbol kekecewaan petani yang mendalam.
Bayangkan saja, saat itu harga jual tomat anjlok hingga Rp 600 per kilogram. Angka ini sangat menyedihkan karena ongkos produksi saja tidak tertutupi. Penderitaan petani makin lengkap karena harga tersebut masih harus dipotong ongkos ojek pengangkut sebesar Rp 200 per kilogram.
Alhasil, pendapatan bersih petani hanya tersisa Rp 400 per kilogram. Mirisnya, jumlah sekecil itu pun terkadang pembayarannya tidak lancar. Situasi inilah yang membuat mereka memilih membiarkan tomat membusuk di pohon daripada merugi lebih besar untuk biaya panen.
Saya memandangi puncak Gunung Tanggamus yang berdiri kokoh. Di balik keindahan itu, terpahat kisah perjuangan dari para pemilik maupun penggarap ladang di lereng Tanggamus ini. Interaksi dengan warga lokal seperti ini menambah nilai dari sebuah perjalanan wisata alam.
Makan Bancakan di Tengah Kebun
Petualangan menjelajah wisata lereng Gunung Tanggamus ini ditutup dengan pengalaman yang tak terlupakan: makan bancakan di kebun.
Daun pisang digelar berbaris di atas selembar terpal biru di tengah rimbunnya kebun kol. Ibu-ibu warga lokal dengan sigap meletakkan nasi hangat dan lauk pauk di atasnya. Menu hari itu sungguh menggugah selera: ikan bakar, sayur asem, rebusan kol dan daun singkong, tempe goreng, serta yang tak boleh ketinggalan, sambal rampai (tomat cherry khas Lampung).
Suasana kebersamaan di tengah alam terbuka menjadikan santapan sederhana ini terasa sangat istimewa, menyempurnakan pengalaman kami menikmati pesona Tanggamus.
Situasi Terkini Wisata Lereng Tanggamus (2025-2026)
Kabar baiknya, Gunung Tanggamus saat ini berstatus BUKA untuk pendakian dan aktivitas wisata alam. Setelah sempat ada penyesuaian di tahun-tahun sebelumnya, kawasan ini kembali bergeliat dengan beberapa catatan penting:
- Hutan Lumut Tetap Jadi Primadona Daya tarik utama di puncak dan jalur atas masih didominasi oleh hutan lumut (moss forest) yang eksotis. Ini adalah spot foto paling ikonik yang membuat pendaki rela menembus kabut.
- Cuaca & Musim Hujan (Awal 2026) Berdasarkan pantauan BMKG untuk wilayah Tanggamus di awal 2026, curah hujan masih cukup intens terutama di sore hari. Jalur pendakian via Base Camp Sonokeling bisa menjadi lebih licin dari biasanya. Sobat JEI sangat disarankan membawa jas hujan (ponco) dan gaiter untuk melindungi kaki dari pacet yang makin aktif di musim basah.
- Wisata Pendukung Makin Ramai Selain mendaki, kawasan kaki gunung di Gisting semakin hidup. Wisata seperti Bukit Idaman (untuk melihat view gunung tanpa mendaki) dan Air Terjun Way Lalaan di kaki gunung masih menjadi favorit pelengkap trip. Ada juga event olahraga seperti Tanggamus Color Run yang mulai rutin digelar, menjadikan kawasan ini makin ramah wisatawan umum, bukan hanya pendaki.
Cara Menuju Lereng Gunung Tanggamus (Gisting)
Lokasi utama untuk memulai penjelajahan adalah Kecamatan Gisting. Berikut opsi transportasinya dari Bandar Lampung:
1. Kendaraan Pribadi (Mobil/Motor)
Ini opsi paling fleksibel.
- Rute: Bandar Lampung (Rajabasa) โ Jalan Lintas Barat Sumatera (Jalinbar) โ Gedong Tataan โ Pringsewu โ Talang Padang โ Gisting.
- Waktu Tempuh: Sekitar 2 – 2,5 jam (tergantung kemacetan di Pringsewu).
- Patokan: Setelah pasar Talang Padang, jalan akan mulai menanjak dan berkelok. Berhentilah saat sampai di Pasar Gisting atau Rest Area Gisting untuk menuju Base Camp.
2. Transportasi Umum (Bus & Travel)
Bagi Sobat JEI yang backpacker-an, ini caranya:
- Bus DAMRI / Puspa Jaya:
- Naik dari: Terminal Rajabasa atau Pool DAMRI Tanjung Karang.
- Jurusan: Pilih bus jurusan Kota Agung.
- Turun di: Pasar Gisting (bilang saja mau ke “Gisting Bawah” atau simpang arah Sonokeling).
- Tarif Estimasi: Sekitar Rp 45.000 – Rp 55.000 per orang (tarif dapat berubah sewaktu-waktu).
- Travel Gelap / Travel Resmi:
- Banyak tersedia travel jurusan Pringsewu/Kota Agung yang bisa menjemput di titik tertentu di Bandar Lampung. Tarifnya berkisar Rp 60.000 – Rp 80.000. Lebih nyaman karena AC dan duduk pasti.
3. Estafet Angkot (Opsi Hemat tapi Lelah)
- Rajabasa โ Naik Bus/Angkot ke Pringsewu (Terminal Pringsewu).
- Pringsewu โ Naik Angkot/Bus kecil ke Gisting/Talang Padang.
- Catatan: Opsi ini sekarang agak jarang diminati karena waktu tunggunya lama (ngetem). Lebih disarankan naik Bus jurusan Kota Agung langsung.
Tips Terakhir: Menuju Base Camp Sonokeling
Transportasi umum hanya akan mengantar Sobat JEI sampai di jalan raya utama (Jalinbar Gisting). Dari jalan raya (sekitar area Pasar Gisting/Blok 13), kamu harus naik Ojek Pangkalan untuk masuk ke Base Camp Sonokeling atau titik awal jalur pendakian.
- Ongkos Ojek: Sekitar Rp 15.000 – Rp 25.000 sekali jalan (bisa ditawar).
Selamat berpetualang, Sobat JEI! Jangan lupa bawa sampahmu turun kembali, ya.
Baca juga Wisata Ulubelu Tanggamus
Baca juga Khakot Tanggamus yang Spektakuler
Salam, Evi


