Aroma kayu terbakar selalu sukses menarik saya kembali ke masa lalu bak mesin waktu instan. Sobat JEI pasti punya wangi spesifik yang memicu nostalgia, bukan?
Secara ilmiah, fenomena mencium aroma dan nostalgia ini bernama memori penciuman atau Proustian memory. Saraf olfactory di otak kita langsung menghubungkan bau dengan memori emosional tanpa ampun.
Dulu, saya menemukan surga kecil itu pada sebuah dapur berlantai tanah. Tiga tungku berjejer rapi di tepi dinding papan. Tiap tungku berdiri kokoh dari tiga batu kali hitam. Mereka bersusun apik membentuk formasi lingkaran.
Nah, formasi batu itu lah yang bertugas mendudukkan wajan dan panci peninggalan zaman baheula.
Para-Para dan Aroma Kayu Terbakar di Dapur
Berjarak sekitar satu meter di atas tungku, bertengger sebuah para-para. Orang Minang akrab menyebutnya pagu. Rak kayu ini berfungsi menyimpan kayu bakar agar selalu kering. Asap dan panas dari tungku pasti mengalir langsung ke atas.
Menariknya, proses pengasapan alami ini melepaskan senyawa fenol dan formaldehida dari kayu sebagai agen antimikroba.
Oleh karena itu, nenek saya sering menjemur bawang, ikan, hingga belut di atas pagu tersebut. Di sudut lain, sebuah kantong anyaman berisi bumbu dapur tergantung manis di dekat tiang.
Kemudian, aroma kayu terbakar perlahan membuka memori saya pada sosok yang sangat istimewa. Seorang wanita tua bersahaja selalu duduk setia di depan tungku setiap pagi dan sore. Jadi deh, rekam jejak wangi asap dan bayangan itu selalu menyatu sempurna. Mereka melilit erat seperti gula aren cair yang kental dalam memori saraf saya.
Ritual Pagi Biai Mengusir Halimun
Perempuan hebat itu adalah nenek saya tercinta. Kami biasa memanggilnya Biai, mengikuti sapaan paman dan bibi. Sehabis menunaikan shalat subuh, Biai pasti langsung turun ke dapur. Ritual paginya bermula dengan bunyi “nyesss” yang khas.
Gesekan kepala korek api belerang seketika memecah kesunyian pagi. Sesaat kemudian, wangi asap bercampur minyak tanah menguar tajam ke udara. Udara dingin pegunungan justru membantu menyebarkan molekul bau itu secara cepat. Aroma tersebut menyusup lewat celah lubang dinding papan menuju kamar tidur saya. Bahkan, bau itu menebarkan perasaan hangat, kenyang, dan terayomi.
Nah, riset psikologi membuktikan bahwa wangi yang familiar mampu memicu produksi hormon serotonin pembawa rasa nyaman. Alhasil, hormon ini membuat saya makin ogah menyibak selimut tebal.
Menyantap Maco Balah di Tengah Aroma Kayu Terbakar
Kampung kami bersandar nyaman tak jauh dari kaki Bukit Barisan. Geografi pegunungan ini secara alami menciptakan iklim mikro yang sangat dingin. Jika kita melihat dari udara, kampung kami menyerupai ceruk dasar mangkuk.
Tengah malam, kabut halimun tebal akibat kondensasi uap air sudah turun menyelimuti bumi. Menjelang subuh, kabut itu makin pekat dan menusuk tulang.
Saat meracik sarapan di pagi buta, Biai sering mendekatkan kedua tangannya ke bibir tungku. Matanya menerawang jauh menembus tarian api merah.
Begitu nasi matang, Biai segera menarik keluar bara menyala dari tungku. Beliau meratakan bara itu dengan sangat hati-hati. Tujuannya tak lain untuk memanggang ikan asin incaran kami. Ikan sepat, maco balah, dan maco kukai menjadi korban lezat di atas bara.
Suhu panas seketika memicu reaksi Maillard pada protein dan gula alami ikan. Reaksi kimia ini melepaskan wangi gurih luar biasa. Bau sedap itu kontan membuat naga-naga di perut saya meronta-ronta kegirangan. Sementara itu, Biai asyik merebus pucuk daun singkong segar hasil petikan kebun belakang.
Bunga Busuk Pemicu Asap

Di belakang rumah, sebuah kolam ikan kecil menanti dengan tenang. Selepas kolam, terhampar ladang yang berbatasan langsung dengan hutan keluarga. Hutan kecil ini juga merangkap fungsi sebagai makam kaum kerabat.
Di sinilah Biai rajin mengumpulkan ranting-ranting kering pohon besar yang jatuh. Kadang-kadang, beliau juga menebang kayu perdu yang tumbuh merimba. Salah satunya adalah tanaman liar yang kami juluki bunga busuk.
Belakangan ini, saya baru tahu dari Mbak Dani bahwa tanaman ini bernama Tree Marigold (Tithonia diversiflora). Batang keringnya memiliki rongga berserat selulosa tinggi yang mirip gabus. Struktur seluler berpori ini membuatnya sangat mudah terbakar sebagai kayu pemantik.
Sayangnya, kalori panasnya tergolong sangat rendah. Api cepat melalap habis batangnya tanpa menyisakan bara merah, melainkan langsung menjadi abu. Walaupun begitu, aroma kayu terbakar dari bunga matahari liar ini menghasilkan kepulan asap putih yang tebal dan tak terlupakan.
Jejak Aroma Kayu Terbakar Masa Kecil
Tentu saja, aroma kayu terbakar tidak melulu membangkitkan memori tentang Biai semata. Wangi ini juga merekam jejak petualangan masa kecil saya yang lumayan konyol.
Saya pernah nekat ikut-ikutan membakar ikan di tepi sungai bersama teman sebaya. Hasil akhirnya sungguh epik sekaligus tragis. Ikan tangkapan kami berakhir gosong total mirip batu arang. Parahnya lagi, jari-jari mungil saya tak sengaja menggenggam bara menyala. Luka bakar termal merusak lapisan protein kulit saya seketika.
Saraf nociceptor di ujung jari langsung mengirim sinyal nyeri berdenyut-denyut tanpa ampun ke otak sebagai respons peradangan itu. Akibatnya, tangan saya melepuh parah dan perihnya bertahan hingga seminggu penuh.
Meskipun sangat menyakitkan, memori itu tetap memahat senyum geli jika saya ingat-ingat lagi hari ini. Apakah Sobat JEI punya aroma kenangan masa lalu yang tak terlupakan?
@eviindrawanto2026
