Saat menulis berbagi kebahagiaan menang lomba blog ini, rasanya paru-paru saya seperti menghirup embun pagi. Segar dan langsung menyejukkan hati.

Selamat pagi, Sobat JEI! Tentu saja, hari Senin itu saya belum berada di rumah. Selesai menikmati sarapan di penginapan, saya memutuskan untuk berselancar maya terlebih dahulu. Sambil menunggu waktu, saya bersilancar di dunia maya dan sengaja mampir ke blog Pakde Cholik.
Lagipula, hari itu adalah jadwal pengumuman lomba blog bergengsi di sana. Tanpa menunggu lama, kejutan manis itu pun datang menyapa. Nama saya nangkring gagah di urutan pertama pemenang Kontes Unggulan Indonesia Bangkit.Wow!
Berbagi Kebahagiaan Menang Lomba Blog Bersama Suami
Karena takut salah baca, saya segera memanggil suami. Bahkan, saya sempat khawatir sedang berhalusinasi tingkat tinggi. Oleh karena itu, saya menyuruhnya ikut mengintip layar ponsel. Saya pun memastikan, apakah benar perempuan di layar itu adalah istrinya.
Setelah mengamati dengan saksama, ia akhirnya buka suara. Menurutnya, sepanjang foto emak sok imut berlabel huruf “I” itu memang wajahku, kayaknya pengumuman itu tidak salah.
Tentu saja, saya langsung tertawa kesenangan. Tanpa mempedulikan tempat, saya terkekeh sangat kencang. Akibatnya, saya sampai butuh mengambil secangkir teh panas lagi. Tujuannya, semata untuk menenangkan detak jantung yang berpacu cepat.
Kemudian, bapak-bapak yang baru muncul di pintu penginapan langsung saya sapa dengan riang. Begini toh rasanya saat hormon dopamin membanjiri otak.
Yah begitu lah. Secara ilmiah, lonjakan dopamin memang memicu euforia luar biasa saat kita meraih sebuah pencapaian. Pantas saja, banyak orang menjadi sangat kecanduan jadi juara. Apakah reaksi saya ini norak? Jangan khawatir, suami saya sudah mengatakannya lebih dulu!
Refleksi Diri di Balik Kemenangan
Mari kita bahas sedikit esensi tulisan saya tersebut, Sobat JEI. Artikel berjudul “Indonesia Bangkit: Beli Indonesia” itu berangkat dari sebuah keprihatinan yang mendalam. Saat ini, produk asing melenggang kangkung dengan bebas di negara kita. Faktanya, hampir semua sektor industri telah mereka masuki secara masif.
Daripada pusing membaca statistik makroekonomi yang rumit, mari kita lakukan riset kecil. Coba hitung saja isi perabotan rumah kita sendiri. Berapa persen produk asli dalam negeri yang kita miliki?
Saya sangat yakin, jumlah barang impor pasti jauh lebih mendominasi. Walaupun tidak selalu berupa barang impor fisik, dominasi lisensi merek asing sangat terasa kuat. Padahal, kemandirian ekonomi sebuah negara sangat bergantung pada ketahanan pasar domestiknya.
Misi Beli Indonesia Lewat Berbagi Kebahagiaan Menang Lomba Blog
Sebagai contoh nyata, mari kita perhatikan benda yang paling sederhana. Di rumah, saya iseng memeriksa gunting kertas, gunting kuku, dan jarum jahit. Sungguh mengejutkan, semuanya jelas-jelas mencantumkan label Made in RRC.
Sejujurnya, saya baru benar-benar menyadari fakta ini sekarang. Tepat sebelum menulis draf ini, pikiran saya tergerak untuk membongkar kotak jahit tua.
Astaga naga! Ke mana saja kesadaran saya selama ini? Ternyata, barang paling remeh temeh di setiap rumah tangga pun masih mengandalkan pasokan negara lain. Padahal, industri manufaktur lokal skala UMKM sangat membutuhkan penyerapan pasar agar terus hidup.
Oleh sebab itu, wawasan kecil ini menjadi tamparan keras bagi saya pribadi.
- Baca di sini tentang : Laisser Faire Aren Indonesia
Hadiah Batik dan Semangat Baru Berkarya
Seperti pesan dalam tulisan yang menang tersebut, kita punya banyak cara menaikkan harkat bangsa. Salah satu langkah terpenting adalah meningkatkan kesadaran untuk mencintai produk dalam negeri.
Namun, sekadar mencintai di dalam hati saja tentu tidak akan pernah cukup. Oleh karena itu, kita harus mulai membelinya secara nyata. Besok-besok, kalau butuh jarum jahit baru, saya pasti akan mencari tulisan Made in Indonesia. Membeli produk lokal berarti kita ikut memastikan dapur para perajin tetap mengepul.
Sebagai pembaruan cerita, tanggal 14 Juni lalu hadiah-hadiahnya sudah sampai di rumah. Terima kasih banyak untuk Pakde dan Mbak Nia. Hadiah batiknya sungguh luar biasa keren! Warnanya benar-benar sangat pas dengan selera saya.
Memakai batik asli buatan perajin adalah bentuk nyata aksi Beli Indonesia, mengingat kain ini adalah warisan budaya takbenda UNESCO yang sangat berharga. Selain itu, buku hadiahnya pasti akan menambah semangat saya untuk terus rajin nge-blog.
Dengan cara apa kita bisa membeli kembali Indonesia ini, kawan-kawan? Mari kita mulai dari langkah kecil di rumah masing-masing. Kata kunci penutup artikel: aksi nyata dukung produk lokal.
@eviindrawato2026
Baca juga:
