
Trekking Nglanggeran ramah lansia membuktikan bahwa usia emas bukan alasan untuk gantung sepatu dari alam. Sobat JEI, artikel ini merangkum strategi slow trekking dan seni mendengarkan tubuh untuk mencapai Puncak Gede. Tujuan utamanya adalah memastikan wisata sehat orang tua di Jogja ini berjalan lancar dan minim risiko encok. Jika Anda mencari panduan rute aman Gunung Nglanggeran pemula, Anda berada di halaman yang tepat. Dr. William Haskell, profesor kedokteran dari Universitas Stanford, menegaskan bahwa jalan kaki di medan alami secara rutin meningkatkan keseimbangan neuromuskular lansia hingga 40%. Mari kita bedah rutenya perlahan!
Racun Manis dari Grup WhatsApp Teman Seusia
Seperti biasa, ide brilian (dan sedikit nekat) ini bermula dari grup obrolan teman-teman seusia. Grup yang biasanya hanya ramai dengan sapaan selamat pagi dan stiker jempol, tiba-tiba menjadi sangat riuh.
Gara-garanya seorang kawan membagikan sebuah informasi menarik tentang pesona Trekking Nglanggeran ramah lansia. Mata saya langsung berbinar membacanya. Antusiasme saya makin memuncak ketika kawan-kawan mulai membedah rute pendakian tebing batu purba tersebut.
Ketinggian Bersahabat yang Membangkitkan Percaya Diri
Dari group WA saya beralih ke Instagram, Youtube dan Tiktok. Rasanya gak salah pilih jika saya dan suami ikutan mendaki Gunung Api Purba Nglanggeran ini. Dari sudut manapun foto dan video yang beredar diambil, gunung ini menawarkan pemandangan alam cukup menggoda.
Bongkahan batu andesit raksasanya tergolek dengan ketidak teraturan yang purba. Mungkin menggelinding begitu saja dari perut bumi ketika gunung berapi purba ini meletus ribuan tahun lalu. Itu yang membuatkan secara visual sekarang tampil dengan dramatis dan eksotis.
Apalagi, ketinggiannya juga tidak terlalu ekstrem bagi lansia atau pemula. Catatan tertulis menyebutkan ketinggian Gunung Api Purba Nglanggeran ini “hanya” sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Angka ini tentu menjadi angin segar bagi kami. Kami memang sedang mencari referensi wisata sehat orang tua di Jogja untuk mengisi waktu luang. Mengetahui ketinggiannya yang cukup bersahabat, kepercayaan diri saya pun langsung meroket tajam.
Nostalgia Papandayan dan Semangat Pembuktian
Pikiran saya seketika bernostalgia ke masa satu tahun sebelumnya. Saya pernah menaklukkan gagahnya Gunung Papandayan di Garut yang menjulang hingga 2.665 mdpl.
Logika sederhananya begini. Jika rekam jejak mendaki Papandayan yang lumayan tinggi itu saja berhasil saya amankan, masa iya bukit purba setinggi 700 mdpl ini gagal saya daki?
Semangat pembuktian diri inilah yang akhirnya memantapkan niat saya. Menjajal rute aman Gunung Nglanggeran pemula sepertinya akan menjadi arena bermain alam yang sangat seru dan tidak terlalu menyiksa lutut. Saatnya naik gunung lagi, pikir saya sesaat sebelum mendaftarkan diri bersama suami.
- Baca tentang : Lansia Mendaki Gunung? Bisa! Ini Panduan dan Estimasi Waktu Trekking Papandayan yang Aman
Memulai Langkah di Kalisongo

Pagi itu pun akhirnya datang. Pagi-pagi kami sudah keluar dari hotel di Mallioboro. Sekitar satu jam berkendara, wajah gunung purbapun mulai terlihat. Bbegitu sampai di dekat area parkir, membaca tulisan Situs Geologi Nglanggeran, hati saya mulai berdebar-debar. Antara antusias dan sedikit meragukan diri. Akan kah saya sukses mencapai Puncak Gede?
Turun dari mobil, udara khas pegunungan terasa menyegarkan paru-paru saya. Bau lumur yang disemburkan bebatuan tua juga terasa. Dinding bebatuan yang direkat semen sebagai tagar lokasi membuat saya berpikir, bahwa ini akan sangat menyenangkan.
Iya setiap pendakiran di Gunung Api Purba Nglenggaran di mulai dari dari area parkir Kalisongo. Agar pendakian tidak terganggu masalah metabolisme, penggelola menyadiakan fasilitas yang cukup terawat. Ada toilet bersih, musala nyaman, dan deretan warung logistik jika belum sarapan. Ketersediaan fasilitas ini sangat penting untuk mencegah kepanikan mendadak saat kandung kemih para petualan mulai rewel.
Fasilitas Dasar Penurun Stres
Tadi saya deg-degan. Setelah urusan toilet selesai, saya mulai santai. Apa lagi melihat beberapa mobil juga mulai banyak masuk tempat parkir. Ada rombongan keluarga dengan anak kecil, ada pula rombongan lansia seperti kami.
Nah, menurut riset mendalam dari Journal of Environmental Psychology, fasilitas dasar yang mumpuni di titik awal pendakian seperti ini, memang efektif menurunkan hormon kortisol (hormon stres). Tingkat kecemasan pendaki pemula dan lansia bisa turun drastis hingga 30%. Hal ini membuat proses adaptasi mental berjalan jauh lebih baik. Ok deh!
Pemanasan Dinamis di Pendopo
Ketua rombongan kami mulai mengurus tiket. Pesertanya mulai foto-foto, seolah-olah gak mau kehilangan sedikit momen pun dalam petualangan kami di Nglanggeran.
Mulai berjalan dari Pendopo Joglo Kalisongo, kaki kita mulai menjajagi trek berupa anak tangga terbuat dari semen. Cukup landai dan menarik untuk foto-foto rombongan.
Di sekitar sini trek masih sejuk karena dinaungi pepohonan rindang. Ini sesuai banget pendapat Dr. Michael Fredericson, spesialis kedokteran olahraga, yang selalu menekankan pentingnya jalan santai pada 10 menit pertama. Tujuannya sederhana, yaitu memicu cairan sinovial untuk melumasi sendi lutut.
Ibarat memanaskan mesin motor klasik (tua) ya Sobat JEI, lutut lansia juga butuh pelumas alami sebelum bertemu tanjakan.
Song Gudel: Rute aman Gunung Nglanggeran pemula

Tantangan perlahan naik saat jalan aspal berubah menjadi tanah berbatu. Tentu napas mulai memburu. Pentingnya tongkat trekking di sini mulai terasa. Untungnya melangkah menuju Pos 1 yang bernama Song Gudel, pengelola juga memasang tali untuk penyeimbang. Bila kelupaan bawa tongkat trekking, setidaknya tali ini membantu menyeimbangkan tubuh saat menaiki tangga bartu satu-persatu.
Mengenai nama Song Gudel, konon warga lokal sering menemukan anak kerbau (gudel) asyik bersembunyi di celah tebing ini. Mungkin kerbaunya juga sedang ikut slow trekking.
Geologi Batuan Purba
Secara geologi, bebatuan raksasa yang akan menemani kita selama trekking di Gunung Api Purba Nglenggaran ini berjenis agglomerate dan breksi andesit.
Peneliti geologi dari UPN Veteran Yogyakarta mencatat formasi batu ini terbentuk dari erupsi gunung api purba bawah laut pada zaman Miosen Awal. Umurnya kira-kira 60 hingga 70 juta tahun lalu. Bayangkan, diantara keringat yang mulai bercucuran, kamu membayangkan berjalan di atas dasar laut purba yang terangkat ke permukaan. Sensasinya, setidaknya untuk saya, bikin merinding juga.
Seni Mendengarkan Detak Jantung
Iya, jika kamu lansia, di sini detak jantung sudah mulai bertabuh. Namun selalu ingat bahwa kunci keberhasilan Trekking Nglanggeran ramah lansia pada etape ini adalah manajemen napas. Teman-teman tidak perlu terburu-buru menyalip pendaki lain. Apa lagi menyalip anak muda, lupakan! Untuk kita yang penting bukan kecepatan tapi mendengarkan tubuh dengan saksama.
Agar teman-teman lebih yakin lagi, Dr. Kenneth Cooper, sang bapak aerobik dunia, mengingatkan para lansia untuk selalu menjaga heart rate (detak jantung) di zona nyaman. Jadikan Song Gudel tempat mengatur napas sambil mengagumi pahatan alam jutaan tahun lalu.
Tipsnya mudah, perbanyak foto-foto narsis. Mendaki beberapa tanjakan, berhenti ngambil foto atau bikin video. Itu sangat membantu mengatur pukulan jantung agar lebih bersahabat.
Lorong Sumpitan: Ujian Wisata sehat orang tua di Jogja

Percayalah, menuju lorong sumpitan beban hidup tidak akan terasa. Karena kita sibuk mengatur napas, meredakan debaran jantung, dan melap keringat yang mulai deras seperti gerimis sore.
Kini kita tiba di titik primadona, Lorong Sumpitan. Celah raksasa ini sangat sempit karena himpitan dua tebing batu raksasa. Lebar lorong ini hanya pas untuk satu tubuh orang dewasa.
Tapi di sini lah pengalaman paling seru. Karena begitu sempitnya, kamu yang takut ruang sempit atau kegelapan, harus hati-hati sebelum masuk. Jepitan diantara dua batu besar ini menimbulkan sensasi seolah sedang di perut bumi. Yang suka “parnoan” bisa saja diserang rasa panik, apa lagi membayangkan gimana ya jika tiba-tiba gempat bumi?
Setelah menanjak beberapa meter di lorong sumpitan, kita akan naik tangga. Saat saya datang tangganya sudah terbuat dari besi, tapi bentuknya tetap seperti tangga darurat yang digunakan di rumah. Jadi hati-hati lagi saat menaiki tangga ini.
Pemandangan begitu kita nongol di tangga paling atas juga eksotis, seolah kita keluar dari perut bumi. Makanya banyak yang foto-foto di sini. Akibatnya jalan di bawah macet, antrian bisa panjang. Jadi kamu sabar saja ya, tunggu giliran naik.
Menjadi Bemper Pendamping
Pengelola memang sudah berbaik hati memasang tangga besi kokoh di celah curam ini. Cuma, jika Sobat JEI yang mendampingi orang tua wajib mengambil posisi di belakang mereka. Jadilah bemper pelindung yang tanggap jika mereka butuh sandaran.
Trik Menjaga Tempurung Lutut Saat Naik Tangga Lorong Sumpitan
Nah untuk teman-teman tua saya, jangan lupa Genggam erat sisi tebing batu atau railing kayu yang tersedia. Gak usah malu-malu atau mikir macem-macem. Tangga curam ini lebih mudah ditaklukan jika kita mau bekerja sama dengan guide atau kawan pendamping.
Ahli biomekanika dari American College of Sports Medicine menyarankan lansia untuk selalu menapakkan seluruh telapak kaki di anak tangga. Jangan pernah berjinjit saat menanjak. Menapak penuh terbukti secara klinis mengurangi beban berlebih pada patela (tempurung lutut). Lorong ini memang sering macet saat musim liburan karena banyak orang berfoto ria. Anggap saja kemacetan ini sebagai bonus waktu istirahat gratis.
Rehat Penuh Kedamaian di Gunung Bagong

Rasa lega seketika menyergap setelah Sobat JEI lolos dari jepitan tebing. Kita tiba di area terbuka yang luas bernama Pos Gunung Bagong. Masih agak mendaki sedikit ke puncak Pos Gunung Bagong ini, namun jalur lebih melandai dan sangat bersahabat di titik ini.
Nah karena kita sudah sampai di puncak, jangan lupa foto di bawah tiang bendera ya, seperti para pemuncak-pemuncak di gunung tinggi itu. Di sana disediakan taging bumi juga kok, berupa plat kayu yang ditulis pakai cat bahwa kita sudah sampai di puncak tertinggi pertama Gunung Api Purba Ngelanggeran.
Restorative Environment yang Mengusir Lelah
Sampai di Puncak Gunung Bagong, treknya masih adem, tapi muka kami sudah seperti kepiting rebus semua. Tapi kami tertawa bahagia, sibuk mengeluarkan ponsel dari ransel, jepret sana-jepret sini. Mungkin karena endorfin sudah membanjiri tubuh, rasanya ringan saja tertawa di sela-sela napas yang memburu.
Apa lagi memandang ke bawah, tampak hamparan sawah sejauh mata memandang. Belok sedikit tampak juga rumah warga Gunungkidul, terlihat mungil dan estetik dari atas sini. Angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah terasa seperti “doping” alami. Membuat deburan jantung kembali normal dan keringat mengering.
Dr. Roger Ulrich, pionir desain kesehatan lingkungan, mendefinisikan fenomena ini sebagai restorative environment. Pemandangan alam yang terbuka luas terbukti secara medis mampu menurunkan tekanan darah dan merelaksasi ketegangan otot secara instan. Pos ini adalah rest area paling sempurna sebelum kita melakukan dorongan terakhir ke puncak.
Puncak Gede: Garis Akhir Trekking Nglanggeran ramah lansia

Setelah berjalan santai selama kurang lebih 1,5 jam, kita akhirnya menapakkan kaki di Puncak Gede. Inilah titik tertinggi dari serangkaian rute Gunung Api Purba Nglanggeran.
Dari Gunung Bagong, jalur trekking relatif rata. Pepohonan juga rimbun. Rmpun bambu menambh keteduhan. Sesekali akan terdengar cericit burung. Di jalur ini pengelola juga menyadiakan pondokan untuk para pendaki yang ingin istirahat. Mengaso atau menikmati bekal makanan dan minuman yang dibawa.
Tapi ingat ya teman-teman, sampahmu adalah tanggung jawabmu. Masukan kembali ke dalam tas dan bawa turun bersama kenangan yang kamu ukir di sana.
Dan untuk terakhir kalinya masih ada sedikit siksaan, sampai kita benar-benar mendarat di Puncak Gede yang datar. Tangga bambunya itu lho, cukup tinggi, perlu keimanan tebal bagi lansia yang ingin memanjat. Sudah gitu, di ujung tangga kita masih perlu ngesot sedikit sampai benar-benar melihat pemandangan 360 derajat ke area bawahnya.
Setibanya di Puncak Gede, hamparan visual yang tersaji di depan mata sungguh membayar lunas setiap embusan napas berat selama perjalanan. Sobat JEI akan berpijak di atas pelataran batu andesit raksasa yang luas, berfungsi bak balkon alami untuk memandang mahakarya alam Gunungkidul dari ketinggian. Sejauh mata memandang, terhampar permadani hijau dari petak-petak sawah yang rapi, rimbunnya pepohonan desa, hingga kemilau air dari Embung Nglanggeran di kejauhan yang memantulkan cahaya matahari.
Saya mengikuti beberapa anak muda yang duduk-duduk di tepi jurang sejenak. Menikmati semilir angin sejuk menyapu wajah. Mereka seolah ikut merayakan keberhasilan kita menaklukkan rute aman Gunung Nglanggeran pemula ini, menjadikan trekking Nglanggeran ramah lansia bukan sekadar aktivitas fisik biasa, melainkan sebuah wisata sehat orang tua di Jogja yang sungguh memanjakan mata dan meremajakan jiwa.
Tapi gak lama-lama juga karena suami tak mengijinkan saya berlama-lama di sana, takut merosot ke bawah katanya. Selain itu saya juga sibuk berpikir untuk turun nanti, artinya harus ngesot lagi mencapai tangga turun.
Validasi Teori Penuaan yang Sukses
Menyadari sudah setua ini masih bisa bertualang, berhasil mencapai titik tertinggi Gunung Api Purba Nglenggaran, yah, terbersit kebanggaan emosional juga sih. Saya sampai memeluk suami saking bahagianya.
Pencapaian ini tentu bisa memvalidasi teori Successful Aging dari sosiolog John Rowe dan Robert Kahn. Teori tersebut menyatakan bahwa keterlibatan aktif dalam kehidupan sosial dan aktivitas fisik ringan adalah pilar utama menjaga kualitas hidup di hari tua. Semangat baja memang tidak pernah mengenal tanggal kedaluwarsa ya, Teman-teman!
Cara Menuju Lokasi dan Tips Tambahan
Bagi Sobat JEI yang ingin mewujudkan wisata sehat orang tua di Jogja ini, lokasinya berada di Desa Wisata Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul.
Akses Mudah dari Pusat Kota
Perjalanan dari pusat Kota Yogyakarta memakan waktu sekitar 1 jam saja (sekitar 25 km). Sobat JEI cukup mengarahkan kendaraan ke Jalan Wonosari. Terus ikuti jalur utama menanjak yang melewati kawasan Bukit Bintang. Setelah sampai di perempatan Patuk (ada Pos Polisi), beloklah ke kiri menuju arah Desa Nglanggeran. Kondisi jalan sudah beraspal mulus hingga ke lokasi parkir, sehingga sangat aman untuk kendaraan pribadi maupun minibus wisata.
Tips Praktis Slow Trekking
- Andalkan Tongkat Trekking: Alat ini sangat krusial untuk membagi beban tubuh dari lutut ke lengan.
- Pakai Sepatu Antiselip: Pastikan alas kaki memiliki cengkeraman kuat karena batuan andesit bisa terasa licin saat lembap.
- Bawa Air Mineral Ekstra: Penurunan fungsi fisiologis membuat lansia sering tidak merasa haus meskipun tubuh mereka sudah dehidrasi.
- Datang Lebih Pagi: Mulailah pendakian pukul 07.00 WIB saat udara masih kaya oksigen dan sengatan matahari belum menguras tenaga.
eviindrawanto.com
