
Key Takeaways
- Pengalaman penulis tentang rasa bersalah yang muncul setelah menggunakan uang SPP untuk menyewa komik.
- Penulis merasa takut mengakui kesalahan kepada orang tuanya, yang menyebabkan stres dan kebohongan.
- Ketika pengakuan diajukan dengan jujur kepada ibunya, reaksi kasih sayang membuat semuanya lebih baik.
- Kejujuran adalah kunci untuk meraih solusi; pintu pertolongan terbuka ketika kita berani mengetuknya.
- Pelajaran bagi anak dan orang tua: Jangan takut mengaku salah dan jadilah tempat yang aman untuk anak.
Pernahkah Sobat JEI merasa dunia seakan runtuh karena sebuah kesalahan kecil? Saat rasa bersalah menghantui pikiran dan ketakutan pada orang tua membuat kita ingin menghilang saja? Saya pernah mengalaminya.
Kisah ini bukan sekadar nostalgia masa kecil. Ini adalah bukti hidup bahwa kejujuran—seberat apa pun itu—selalu membawa kelegaan. Seperti pepatah lama yang sering kita dengar: tetaplah mengetuk maka pintu akan terbuka.
Awal Mula Petaka: Candu Buku Cerita Silat
Saat remaja, saya adalah penggemar berat buku cerita silat. Karya Kho Ping Hoo, Gan KL, hingga Kosasih saya lahap habis. Kios penyewaan buku di dekat rumah adalah surga dunia bagi saya.
Namun, surga itu butuh ongkos. Ketika uang saku tak cukup, pikiran pendek seorang anak SMP pun bekerja. Saya nekat menggunakan uang SPP untuk menyewa komik.
Ya, Sobat JEI tidak salah baca. Dua bulan berturut-turut, uang sekolah itu lari ke kios komik.
Akibatnya bisa ditebak. Pihak sekolah memanggil saya ke ruang BP. Di sana, saya kembali berbohong. Dengan wajah polos, saya mengarang cerita tentang bapak yang sakit dan ibu yang tak punya uang.
Guru BP percaya, tapi masalah belum selesai. Sekolah mengirim surat tagihan ke rumah. Di sinilah drama keluarga yang sesungguhnya dimulai.
Mengapa Anak Menyembunyikan Masalah? (Tinjauan Psikologi)
Sebelum lanjut ke nasib saya, mari kita bedah sedikit dari sisi psikologi. Mengapa saya dulu memilih berbohong daripada jujur?
Menurut Nicole Schwarz, seorang Parent Coach ternama, anak sering menyembunyikan masalah karena takut akan penghakiman. Mereka cemas orang tua akan langsung marah tanpa mau mendengar alasan di baliknya.
Dalam kasus saya, ketakutan pada ibu adalah pemicu utamanya. Saya membayangkan ibu akan marah besar, bahkan mungkin mengusir saya. Ketakutan inilah yang membuat “pintu hati” saya tertutup rapat untuk berkata jujur.
Padahal, menyimpan rahasia itu berat. Riset kesehatan mental menunjukkan bahwa ketidakjujuran memicu stres dan meningkatkan hormon kortisol. Itulah yang saya rasakan waktu itu. Makan tak enak, tidur tak nyenyak.
Baca juga:
Usaha Mengetuk Pintu yang Salah
Kembali ke cerita. Surat tagihan sekolah sudah di tangan. Saya panik setengah mati. Berbagai cara saya tempuh untuk menutupi kesalahan ini. Saya mencoba “mengetuk” berbagai pintu, tapi bukan pintu yang benar.
1. Meminta Bantuan Tetangga
Saya dan teman akrab saya, Risna, mencoba meminjam uang pada Om Teguh, tetangga yang baik hati. Bukannya meminjamkan uang, Om Teguh malah menawarkan diri untuk menemani saya mengaku pada ibu. Saya langsung mundur teratur. Pintu pertama tertutup!
2. Ide Bisnis yang Layu Sebelum Berkembang
Risna lalu menyarankan saya berjualan nasi uduk di Kramat Sentiong. Idenya bagus, tapi mustahil dilakukan anak sekolah yang harus berangkat pagi buta. Ide ini menguap begitu saja. Pintu kedua pun tertutup.
3. Menjadi Buruh Cuci
Saya bahkan menawarkan diri menjadi asisten Tante Misna, seorang tukang cuci. Namun, waktu tak menunggu. Belum sempat uang terkumpul, tagihan bulan ketiga sudah di depan mata.
Di titik ini, saya merasa seperti menghadapi jalan buntu. Masalah SPP ini terasa seperti monster yang siap menelan saya hidup-hidup.
Keajaiban “Mengetuk” Pintu Kejujuran
Puncak keputusasaan saya terjadi ketika uang tabungan receh yang saya kumpulkan dengan susah payah malah hilang dicuri orang.
Rasanya saya ingin mati saja. Tapi, bunuh diri minum Baygon itu pahit. Mengiris nadi itu sakit. Menabrakkan diri ke kereta api juga konyol.
Akhirnya, saya melakukan satu-satunya hal yang tersisa: Menangis meraung-raung di hadapan ibu.
Saya pasrah. Saya sudah lelah “mengetuk” pintu-pintu lain yang tak memberi solusi. Saat itu, saya akhirnya mengetuk pintu yang paling saya takuti: pengakuan dosa pada ibu.
Dan apa yang terjadi?
Pintu itu terbuka lebar.
Ibu memang terkejut melihat saya histeris. Namun, setelah mendengar pengakuan saya soal uang SPP yang terpakai untuk komik, reaksi beliau di luar dugaan.
Ibu memeluk saya. Erat sekali.
Tidak ada pukulan. Tidak ada caci maki. Yang ada hanya kasih sayang ibu yang menenangkan. Besoknya, ibu melunasi semua tunggakan SPP saya. Mungkin beliau harus membobok celengan atau meminjam uang, tapi beliau tak pernah mengungkitnya lagi.
Pelajaran Mahal Bagi Sobat JEI
Pengalaman ini mengajarkan saya makna sejati dari kalimat tetaplah mengetuk maka pintu akan terbuka.
Dalam konteks spiritual, ini mengajarkan ketekunan dalam doa. Namun dalam kehidupan sehari-hari, ini adalah tentang keberanian untuk jujur.
Ketika kita berani mengetuk pintu kebenaran, solusi akan terbuka.
- Bagi Anak: Jangan takut mengaku salah. Orang tua mungkin marah, tapi kasih sayang mereka jauh lebih besar dari kesalahanmu.
- Bagi Orang Tua: Jadilah tempat pulang yang aman. Respon yang tenang akan membuat anak lebih mudah terbuka di masa depan.
Kejujuran memang pahit di awal, tapi ia adalah obat paling mujarab untuk hati yang gelisah. Jadi, jika Sobat JEI sedang memendam masalah berat saat ini, cobalah untuk mulai mengetuk. Pintu pertolongan itu mungkin sudah lama menunggu untuk Anda buka.
