
Di kampung saya, pesta selalu bermula dari dapur. Suasana dapur yang membuat rindu ini tercipta karena kami tidak menyerahkan urusan konsumsi pada katering profesional. Berbeda dengan masyarakat urban, dapur di tanah kelahiran saya berdenyut berkat gotong royong di dapur yang melibatkan seluruh kerabat. Pesta adalah peristiwa komunitas, milik komunitas, sumber kebanggaan atau aib komunitas, jadi anggotanya terlibat sejak dari perencanaan. Dari sebuah studi antropologi kuliner menyebutkan bahwa commensality (makan bersama) atau acara seperti ini, bukan sekadar soal nutrisi, tetapi ritual pengikat solidaritas sosial yang paling purba. Sepertinya benar!
Ringkasan Rinduku Pada Sebuah Dapur
- Pesta di kampung saya dimulai dari dapur, dengan suasana yang hangat berkat gotong royong komunitas.
- Perencanaan memasak untuk hajatan melibatkan seluruh kerabat, menciptakan ikatan solidaritas yang kuat.
- Pemimpin dapur biasanya sosok senior dengan tacit knowledge, mengasah intuisi dalam memasak.
- Pembagian peran dalam gotong royong di dapur berjalan harmonis, dengan generasi muda sebagai juru bantu.
- Suasana dapur membuat rindu karena kerja sama yang terjalin, meski kini dengan kehilangan keluarga yang mendalam.
Perencanaan Memasak untuk Hajatan
Keterlibatan anggota komunitas dimulai sejak perencanaan. Sebelum hari H, ibu memberi tahu sanak saudara. Teknologi memang mengubah cara mereka berkomunikasi; cukup lewat telepon atau pesan singkat (saat artikel ini dibuar WA belum masif), tidak perlu mendatangi satu per satu. Namun, esensinya tetap sama: mengundang kerabat untuk memasak untuk hajatan. Ini semacam adat tak tertulis. Bagi para sosiolog, fenomena ini sebagai pemeliharaan social capital atau modal sosial, di mana investasi waktu untuk kerabat akan berbalas dukungan emosional di masa depan.
Karena ketika kerabat lain melakukan hajatan yang sama, anggota kerabat juga akan ikut membantunya di dapur.
Jadi, pada hari yang ditentukan, para Bundo Kanduang (ibu-ibu) yang bersaudara Saparuik (seperut) akan berkumpul. Dalam budaya Minangkabau, saudara seperut (saparuik) adalah lingkaran kekerabatan paling intim yang ditarik dari garis keturunan ibu, menyatukan anak cucu dari satu nenek dalam ikatan solidaritas mutlak. Mereka tidak hanya berbagi hak atas harta pusaka, tetapi juga memegang teguh prinsip “sehina semalu” (berbagi aib dan kebanggaan), yang menjadikan mereka garda terdepan yang wajib hadir dan bekerja paling keras—termasuk di dapur—dalam setiap perhelatan keluarga tanpa perlu diminta.
Mereka itu lah yang merencanakan menu di rumah dapur. Kewajiban tuan rumah hanya menyediakan bahan. Selebihnya, kerabatlah yang mengambil alih kendali dapur hingga pesta usai.
Baca juga:
Dinamika dan Hierarki Gotong Royong di Dapur
Pemimpin Dapur dengan Tacit Knowledge
Dalam peristiwa ini, pemimpin dapur muncul secara organik. Biasanya, mereka adalah sosok paling senior dan berpengalaman. Dan (kalau saya perhatikan) paling banyak bacot juga hahaha …Orang ini lah yang memikul tanggung jawab penuh atas rasa masakan. Dalam budaya Minang, hanya ada dua rasa: enak dan enak sekali. Tuntutan ini memaksa pemimpin dapur mengasah intuisi mereka.
Tanpa timbangan, mereka tahu takaran bumbu pas untuk seekor sapi. Entah itu rendang, gulai, kalio atau asem pedas. Para ahli manajemen pengetahuan menyebut kemampuan ini sebagai tacit knowledge. Ini adalah jenis pengetahuan intuitif yang tertanam dalam diri seseorang akibat pengalaman panjang, yang sulit diterjemahkan ke dalam instruksi tertulis atau resep baku.
Pembagian Peran yang Harmonis
Mereka berbagi tugas dengan cair. Generasi muda atau yang kurang berpengalaman akan menangani persiapan bahan, seperti memotong dan membersihkan. Secara sosiologis, ini mencerminkan struktur fungsional dalam masyarakat tradisional di mana setiap individu secara otomatis menempati peran sesuai kapasitasnya demi kestabilan sistem.
Yang muda memposisikan diri sebagai juru bantu agar proses gotong royong di dapur berjalan mulus. Meski mahir, mereka jarang mengambil tempat dekat tungku. Area tungku adalah “zona vital” tempat keputusan krusial dibuat, seperti koreksi rasa. Ibarat kapal yang hanya punya satu nakhoda, dapur pun demikian. Pekerjaan “sepele” seperti mengupas bawang atau memotong buncis dan wortel untuk sayur tauco, itu juga krusial. Tanpa mereka, alur kerja nakhoda memasak akan terganggu.
Orkestra Tanpa Dirigen
Saya suka membayangkan bahwa kerja sama dalam acara masak gotong royong ini mirip konser musik. Semua terlibat dalam urutan gerakan berirama. Saat sayur tauco hendak naik ke atas tungku, santan dan potongan buncis sudah tersedia tepat waktu. Sang pemimpin bahkan tidak perlu memberi perintah verbal yang kaku. Dia cuma perlu bilang, ” Nani, bawa itu ke sini..”
Psikolog organisasi menyebut fenomena ini sebagai shared mental models. Setiap anggota tim memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan dan alur kerja, sehingga mereka bisa mengantisipasi kebutuhan rekan kerja tanpa komunikasi berlebih. Sambil diiringi gosip hangat, arus lalu lintas bahan berjalan sempurna. Kenangan akan kekompakan inilah yang menciptakan suasana dapur yang membuat saya rindu gak ketulungan. Dan menarik hati untuk pulang ke kampung halaman.
Sayangnya sekarang ibu sudah tiada. Bapak juga sudah almarhum. Dan beberapa orang dalam foto di atas juga sudah almarhum. Ibarat jalan, jalur saya ke kampung halaman untuk kondisi saat ini mulai terputus.
eviindrawanto.com
