
Key Takeaways
- Penulis merasa blog sudah kehilangan daya tarik, tetapi menyadari pentingnya blog di era media sosial.
- Blog memberikan aset milik sendiri, SEO yang baik untuk lalu lintas jangka panjang, membangun otoritas, dan konversi penjualan yang lebih tinggi.
- Penulis merencanakan rebranding blog dari ‘Travel Blog Indonesia’ menjadi ‘Jurnal Evi Indrawanto’ untuk mencerminkan perkembangan diri.
- Rebranding ini melibatkan audit konten lama, optimasi teknis, dan penerapan strategi SEO yang lebih fokus pada pengalaman pengguna.
- Harapan dengan rebranding blog adalah menciptakan ruang yang lebih mendalam dan bermanfaat bagi pembaca.
Halo, Teman-teman!
Sudah lama sekali saya “nganggurin” blog ini. Mungkin ada 2 tahun tidak ada tulisan baru. Bukannya tidak punya bahan, karena saya masih traveling, masih suka pada cerita budaya, dan lebih dari pada itu masih bisnis di Arenga Indonesia. Jadi tidak menulis lebih ke arah malas saja bukan yang lain.
Saya berpikir blog sudah kehilangan rohnya karena kehadiran sosial media lain yang lebih masif seperti Titktok, Reels dan Youtube. Hari gini siapa yang mau baca blog? Apa lagi teman-teman-teman blogger juga sudah banyak meninggalkan blog dan beralih ke platform yang lebih ramai.
Tapi ternyata pemikiran saya untuk meninggalkan blog itu salah. Itu berdasarkan konsultasi ke Paman Google, paman yang paling banyak menyimpan informasi di bumi. Begini katanya, mengapa blog masih sangat penting di tengah gempuran video-video pendek yang membuat kita terkesima:
Mengapa Blog Masih Kuat (The “Why”)
- Aset Milik Sendiri (Owned Media)
- Media sosial adalah “tanah sewaan”. Algoritma bisa berubah, akun bisa diblokir, atau platform bisa ditinggalkan pengguna (seperti yang terjadi pada beberapa platform lama).
- Blog/Website adalah aset digital yang Kamu kontrol sepenuhnya—mulai dari desain, data audience, hingga cara monetisasi. Ini adalah fondasi branding yang paling stabil.
- Mesin Pencari (SEO) & Lalu Lintas Jangka Panjang
- Postingan media sosial seringkali tenggelam dalam waktu 24-48 jam. Sebaliknya, artikel blog yang dioptimalkan dengan baik (SEO) bisa mendatangkan pengunjung secara konsisten selama bertahun-tahun (evergreen content).
- Saat orang mencari solusi atau ulasan mendalam di Google, mereka mencari artikel, bukan video 15 detik.
- Membangun Otoritas & Kepercayaan (E-E-A-T)
- Untuk branding, kepercayaan adalah mata uang utama. Blog memungkinkan Kamu mengupas tuntas suatu topik, menunjukkan keahlian (Expertise), pengalaman (Experience), otoritas (Authoritativeness), dan kepercayaan (Trustworthiness).
- Hal ini sulit dicapai hanya dengan caption Instagram atau video singkat.
- Konversi Penjualan yang Lebih Tinggi
- Pengunjung yang membaca blog biasanya memiliki niat (intent) yang lebih tinggi. Mereka sedang meriset sebelum membeli. Artikel yang edukatif dapat membimbing pembaca dari sekadar “tahu” menjadi “pembeli” dengan lebih efektif daripada iklan sekilas.
Baca di sini tentang Blog Dalam Perjalanan Hidup Saya
Ya begilah pendapat si Paman. Blog memang bukan lagi satu-satunya pemain, tetapi tetap menjadi pusat komando (hub) terbaik untuk strategi branding jangka panjang. Jika media sosial adalah “brosur” yang kita bagikan di jalan, blog adalah “kantor” atau “toko” tempat kita menjamu tamu dan melakukan transaksi serius.
Keren kan? Itu juga alasan saya mulai menulis lagi.
Selain itu, umur saya terus bertambah. Dulu bisa jalan ke sana-kemari cari konten tanpa lelah. Sekarang fisik membatasi, gak bisa lagi seperti 15-10 tahun lalu. Selain itu prioritas saya dalam hidup juga berubah. Saya seharusnya berpikir lebih dalam, lebih bermakna, lebih bermanfaat bagi lingkungan. Dan saya juga harus merawat ingatan, agar demensia tidak mengendalikan hidup di hari tua.
Karena dengan terus ngeblog saya tetap membutuhkan banyak bacaan. Saya tetap harus banyak beli buku dan bertemu dengan orang-orang. Nah dari sanalah saya berharap usia lanjut tidak akan mendegradasi ingatan saya.
Baca juga:
Mulai Merubah Arah Blog
Mungkin ada diantara teman-teman yang mulai menyadari perubahan suasana di “rumah” digital saya belakangan ini. Ya, setelah bertahun-tahun dikenal sebagai Travel Blog Indonesia, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah besar: melakukan rebranding total menjadi Jurnal Evi Indrawanto.
Jurnal Evi Indrawanto sebetulnya juga adalah judul blog ini pertama kali dibangun. Karena 15 tahun lalu blog travel blogger sedang hits dan saya juga hobi jalan-jalan, judulnya diganti jadi Travel Blog Indonesia. Sekarang saya kembalikan, setting model awal :).
Keputusan ini tidak saya ambil dalam semalam. Ada perdebatan panjang di kepala saya, terutama soal risiko teknis dan SEO. Tapi, saya percaya bahwa dalam dunia digital yang berubah sangat cepat, diam di tempat adalah risiko yang jauh lebih besar.
Hari ini, saya ingin mengajak Teman-teman mengintip sedikit “dapur” di balik keputusan ini. Bukan sekadar soal ganti nama, tapi tentang pelajaran membangun identitas digital yang lebih kuat dan autentik.
Mengapa Harus Rebranding Blog dengan Ganti Nama?
Dulu, nama Travel Blog Indonesia terasa sangat pas. Kata kuncinya kuat, jelas, dan langsung memberi tahu mesin pencari (Google) tentang apa isi blog ini. Namun, seiring waktu berjalan, saya merasa nama itu menjadi “baju yang kekecilan”.
Saya tidak lagi hanya menulis tentang itinerary atau destinasi wisata atau tips jalan-jalan standar. Ketertarikan saya berkembang. Saya makin sering menulis tentang sejarah di balik sebuah situs budaya, filosofi kuliner tradisional, hingga opini pribadi tentang industri kreatif.
Nama Jurnal Evi Indrawanto memberi saya ruang napas yang lebih lega. Ini adalah deklarasi bahwa blog ini adalah representasi utuh dari diri saya—seorang traveler, penulis, pebisnis, dan pembelajar seumur hidup. Di era di mana konten AI merajalela, saya percaya sentuhan personal dan brand diri sendiri (personal brand) adalah mata uang yang paling berharga.
Drama di Balik Layar: Teknis yang Bikin “Senam Jantung”
Bagi Teman-teman yang juga nge-blog, pasti tahu betapa “horornya” mengubah struktur blog yang sudah mapan. Ini bukan sekadar ganti logo header.
Salah satu langkah paling berisiko yang saya ambil adalah merombak struktur permalink dan memperbaiki sitemap. Mengubah URL artikel lama itu ibarat memindahkan alamat rumah tanpa memberi tahu kantor pos; surat-surat (trafik) bisa nyasar ke mana-mana!
Tapi itu harus dilakukan. Saya menghabiskan waktu berhari-hari untuk:
- Audit Konten Lama: Saya memilah ratusan artikel lawas. Artikel yang informasinya sudah basi saya tulis ulang (rewrite) agar relevan kembali. Kualitas harus di atas kuantitas.
- Optimasi Teknis: Memastikan navigasi situs lebih rapi agar Teman-teman lebih nyaman berselancar di sini.
- Perbaikan SEO: Menerapkan strategi SEO terbaru yang lebih fokus pada pengalaman pengguna (User Experience) daripada sekadar menjejali kata kunci.
Kategory Blog Rebranding
Secara umum kategori blog lama dan rebranding tidak berubah.
- Untuk Travel Stories teman-teman bisa klik di sini
- Untuk banyak cerita Arenga Indonesia tentang Pohon dan Gula Aren ada di sini.
- Untuk apapun cerita bisnis dan segala lika-liku pemikiran saya bisa dilihat di sini.
Visi Baru untuk Jurnal Evi Indrawanto
Jadi, apa yang berubah untuk Teman-teman pembaca setia?
Harapannya, dengan rebranding blog ini akan menjadi ruang yang lebih “kaya”. Teman-teman tidak hanya akan menemukan panduan wisata, tapi juga cerita-cerita yang lebih mendalam, reflektif, dan tentu saja, bermanfaat.
Saya ingin blog ini bukan sekadar tempat singgah sesaat karena hasil pencarian Google, tapi menjadi tempat Teman-teman kembali lagi dan lagi untuk berdiskusi dan berbagi wawasan.
Terima kasih sudah menemani perjalanan saya dari Travel Blog Indonesia hingga menjadi Jurnal Evi Indrawanto. Perubahan ini saya dedikasikan untuk memberikan konten yang lebih baik bagi Teman-teman semua.
Punya pengalaman serupa soal rebranding atau mengutak-atik blog? Yuk, sharing di kolom komentar!
Salam, Evi
