
Sobat JEI, apa yang tetap di dunia ini? Tidak ada. Segala sesuatu pasti berubah. Yang hidup akan mati. Yang muda akan menua. Perubahan itu abadi.
Filsuf Yunani Kuno, Heraclitus, pernah berkata, “No man ever steps in the same river twice.” Tidak ada orang yang melangkah di sungai yang sama dua kali. Airnya terus mengalir, dan orang itu pun terus berubah.
Pagi ini, saya tercenung. Sahabat keluarga kami tiba-tiba berpulang menghadap Sang Khalik. Kabar ini mengejutkan. Rasanya baru kemarin kami berbincang hangat. Namun, begitulah hukum alam bekerja. Tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.
Perubahan Itu Abadi dalam Siklus Kehidupan
Sahabat kami ini adalah sosok yang menyenangkan. Ia ayah dan suami yang baik. Sebagai pegawai, idealismenya patut membanggakan negeri ini.
Prinsip hidupnya mempesona: “Memberi pengaruh baik kepada setiap orang.” Ia percaya kita tak perlu sekadar mengkritik. Kita punya peluang untuk mengubah keadaan. Mulai dari diri sendiri, keluarga, lalu meluas ke negara.
Namun, menjadi orang baik bukan syarat mutlak berumur panjang. Hukum semesta bekerja adil. Tubuh memiliki batas biologisnya sendiri. Sahabat ini seorang perokok berat.
Menurut World Heart Federation, tembakau menyebabkan 1,9 juta kematian akibat penyakit jantung koroner setiap tahunnya. Zat kimia dalam rokok merusak pembuluh darah secara sistematis.
Fakta medis ini sering kita abaikan. Perubahan itu abadi, termasuk perubahan kondisi sel tubuh kita akibat paparan racun bertahun-tahun.
Dampak Stres dan Gaya Hidup pada Jantung
Selain merokok, sepertinya tingkat stres tinggi memperburuk keadaan teman kami ini. Seperti kita tahu bahwa stres memicu pelepasan hormon kortisol dan adrenalin. Jika terjadi terus-menerus, jantung bekerja terlalu keras.
Maut tak perlu mengetuk pintu. Jantung yang berdetak sejak dalam rahim itu akhirnya menyerah. Irama hidupnya berhenti. Ia pergi, meninggalkan potensi kebaikan yang belum tuntas. Negara kehilangan putra terbaiknya.
- Baca di sini tentang : Nilai-Nilai Kadang Memaksa Kita Jadi Munafik
Kesiapan Kita Menerima Perubahan Mendadak
Kehilangan ini tentu memukul teman dan koleganya. Saya sendiri butuh waktu meyakinkan diri bahwa ia telah tiada. Namun, guncangan terbesar tentu dirasakan istri dan anak-anaknya.
Di sinilah kesiapan kita menerima perubahan diuji. Elisabeth Kübler-Ross, seorang psikiater Swiss-Amerika, menyebutkan lima tahapan kesedihan (The Five Stages of Grief). Mulai dari penyangkalan hingga penerimaan. Keluarga yang ditinggalkan harus melewati fase berat ini dengan cepat karena hidup terus berjalan.
Aliran hidup keluarga mereka akan berubah total. Sang Ibu kini memegang kendali penuh.
Membangun Resiliensi Ekonomi Keluarga
Saat saya bertanya langkah selanjutnya, sang istri menjawab dengan air mata. Ia memikirkan opsi bekerja kembali atau membuka usaha. Ia perlu menenangkan diri, mengurus pensiun, dan memastikan pendidikan anak-anak aman.
Psikolog Martin Seligman mengenalkan konsep Resilience (ketangguhan). Kemampuan bangkit dari trauma adalah kunci kelangsungan hidup.
Saya bersyukur Sobat JEI, istri sahabat saya ini sosok wanita tangguh. Ia cantik, muda, dan bergelar sarjana. Potensinya besar.
Jika ia memutuskan bekerja, banyak instansi pasti membuka pintu. Jika memilih jadi entrepreneur, ia punya modal kemandirian. Kesiapan kita menerima perubahan status dari istri menjadi kepala keluarga adalah langkah krusial.
Kehidupan menuntut adaptasi cepat. Kemampuan membuat keputusan independen kini menjadi aset terpenting baginya. Kita doakan yang terbaik untuk mereka ya, Sobat JEI.
Salam, Evi
Baca juga:
