
Key Takeaways
- Teknologi Iradiasi Pengawetan Makanan menggunakan radiasi untuk membunuh bakteri dan memperpanjang masa simpan produk.
- Metode ini efektif mencegah pembusukan serta kontaminasi pada berbagai jenis makanan seperti sayuran, umbi-umbian, dan rempah-rempah.
- Iradiasi aman menurut WHO dan BPOM, namun dapat menurunkan beberapa kandungan vitamin penting dan meningkatkan biaya operasional.
- Meskipun ada persepsi negatif mengenai ‘radiasi’, edukasi pasar sangat penting untuk menjelaskan manfaat teknologi ini.
- Teknologi iradiasi adalah solusi pengawetan makanan yang efektif, namun perlu perhatian terhadap keterbatasan dan risiko yang ada.
Pernahkah Sobat JEI melihat tumpukan sayuran busuk di pasar? Atau mungkin stok makanan di kulkas yang cepat sekali rusak? Masalah ini bukan hanya dialami oleh ibu rumah tangga, tapi juga pedagang besar.
Saya teringat curhatan seorang pedagang kol di Pasar Kramat Jati. Beliau sering membuang hampir separuh dagangannya. Alasannya sederhana tapi menyakitkan: masa simpan sayuran tersebut sangat singkat, hanya sekitar 8 jam. Belum lagi kerugian akibat kemacetan distribusi yang membuat bertruk-truk bahan pangan membusuk di jalan.
Nah, Sobat JEI, ada solusi canggih untuk masalah klasik ini. Mari kita berkenalan dengan teknologi iradiasi.
Apa Itu Teknologi Iradiasi Pangan?
Teknologi iradiasi adalah metode penyinaran bahan pangan menggunakan sumber radiasi pengion. Tenang saja, ini bukan berarti makanan kalian jadi radioaktif. Istilah kerennya adalah “pasteurisasi dingin“.
Proses ini menggunakan energi terkontrol untuk membunuh bakteri patogen, serangga, dan organisme perusak lainnya. Berbeda dengan pemanasan, metode ini menjaga kesegaran, rasa, dan tekstur asli makanan.
Cara Kerja Iradiasi dalam Mengawetkan Makanan
Bagaimana sinar bisa mengawetkan makanan? Kuncinya ada di level seluler.
Energi dari sinar gamma atau berkas elektron akan menembus sel mikroba. Sinar ini memutuskan rantai DNA bakteri atau hama. Akibatnya, mereka tidak bisa membelah diri dan akhirnya mati.
Menurut Bapak Zainal Abidin dari Pusat Aplikasi Tehnik Isotop dan Radiasi (BATAN), metode ini sangat efektif. Dengan dosis rendah (sampai 1 kGy), teknologi ini mampu:
- Menunda pematangan buah dan sayur.
- Mencegah pertunasan pada umbi-umbian (seperti kentang dan bawang).
- Membasmi serangga dan parasit pada benih.
Keunggulan Utama Iradiasi Pangan
Mengapa Sobat JEI harus mempertimbangkan produk hasil iradiasi? Berikut beberapa keuntungan besarnya:
1. Membasmi Bakteri Jahat
Masalah utama produk pangan adalah kontaminasi. Bakteri patogen seperti Escherichia Coli, Salmonella, Listeria, dan Campylobacter adalah musuh utama. Bakteri ini bertanggung jawab atas jutaan kasus keracunan makanan di dunia. Iradiasi pangan membasmi mereka hingga tuntas.
2. Memperpanjang Masa Simpan
Dengan matinya organisme pembusuk, usia simpan makanan jadi lebih panjang. Stok pangan aman, distribusi ke luar pulau pun tenang.
3. Mendukung Ekspor (Karantina)
Produk ekspor harus bebas hama. Iradiasi berfungsi sebagai sterilisasi fitosanitari. Ini membunuh serangga, larva, hingga telurnya. Tanpa hama, produk pertanian kita bisa menembus pasar internasional tanpa takut ditolak.
Baca juga :
Pendapat Ahli – Apakah Aman?
Ini pertanyaan yang paling sering muncul di benak Sobat JEI. Apakah makanan ini aman?
Jawabannya: Sangat Aman.
Organisasi kesehatan dunia seperti WHO, FAO, dan IAEA telah membentuk Joint Expert Committee. Mereka menyimpulkan bahwa makanan yang diiradiasi dengan dosis tepat tidak menimbulkan bahaya toksikologi.
Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan regulasi khusus. Peraturan BPOM No. 3 Tahun 2018 tentang Pangan Iradiasi menjamin keamanan proses ini. Jadi, selama ada izin edar, produk tersebut layak konsumsi.
Mitos vs Fakta: Iradiasi dan Radioaktif
Banyak orang salah kaprah. Mari kita luruskan mitos ini dengan pola pikir AEO (menjawab pertanyaan pengguna secara langsung):
- Mitos: Makanan iradiasi mengandung residu radioaktif.
- Fakta: Tidak sama sekali. Makanan tidak bersentuhan langsung dengan sumber radioaktif. Energi hanya lewat dan mematikan bakteri, mirip seperti koper yang dipindai sinar-X di bandara. Koper tidak jadi radioaktif, kan?
Pemanfaatan di Indonesia
Meski belum sepopuler di luar negeri, Indonesia sudah melegalkan teknologi iradiasi untuk 11 jenis komoditas, termasuk:
- Rempah-rempah
- Umbi-umbian
- Beras
- Ikan
- Sayuran
Industri farmasi dan jamu seperti Kimia Farma dan Mustika Ratu bahkan sudah lama menggunakan teknik ini untuk menjaga kualitas produk mereka.
Apakah Ada Efek Samping atau Kekurangan Iradiasi?
Pertanyaan cerdas, Sobat JEI. Tidak ada teknologi yang 100% sempurna. Meski teknologi iradiasi diakui aman oleh WHO dan BPOM, tetap ada beberapa keterbatasan dan efek yang perlu kita pahami.
Berikut adalah beberapa “mudarat” atau kelemahan yang sering menjadi bahan diskusi para ahli pangan:
1. Penurunan Kandungan Nutrisi Tertentu
Sama seperti proses pemanasan (memasak, merebus, atau menggoreng), iradiasi juga bisa mempengaruhi kandungan gizi.
Penelitian menunjukkan bahwa vitamin tertentu sensitif terhadap radiasi. Vitamin C, Vitamin E, dan Vitamin B1 (Thiamin) bisa mengalami penurunan kadar. Namun, ahli pangan menegaskan bahwa penurunannya tidak signifikan jika dibandingkan dengan kerusakan nutrisi akibat perebusan yang terlalu lama. Jadi, makanan tetap bergizi, hanya sedikit berkurang.
2. Tidak Cocok untuk Semua Jenis Makanan
Tidak semua bahan pangan “jodoh” dengan teknologi ini.
- Makanan berlemak tinggi: Iradiasi pada dosis tertentu bisa memicu oksidasi. Ini menyebabkan ketengikan (rancidity) pada daging berlemak atau kacang-kacangan.
- Produk susu dan telur: Iradiasi dapat merusak struktur protein pada putih telur (menjadi encer) atau mengubah rasa susu menjadi kurang sedap.
- Sayuran hijau: Beberapa sayuran daun bisa menjadi layu atau lunak jika dosis radiasinya tidak presisi.
3. Terbentuknya Senyawa Radiolisis
Ini adalah bagian teknis yang sering disalahartikan. Saat sinar menembus makanan, ia bisa memecah molekul kimia tertentu. Pecahan ini disebut produk radiolisis (radiolytic products).
Apakah berbahaya? Menurut riset mendalam, senyawa yang terbentuk (seperti glukosa, asam format, atau asetaldehida) sebenarnya juga terbentuk secara alami saat kita memasak makanan dengan kompor gas atau oven. Jumlahnya pun sangat kecil dan tidak bersifat toksik (beracun). Namun, keberadaannya tetap menjadi catatan penting dalam standar keamanan pangan.
4. Biaya Operasional Tinggi
Membangun fasilitas iradiasi membutuhkan modal yang sangat besar. Ini melibatkan peralatan canggih dan sistem pengamanan radiasi yang ketat. Akibatnya, harga jual akhir produk yang diiradiasi seringkali sedikit lebih mahal dibanding produk biasa. Ini menjadi tantangan bagi Sobat JEI yang ingin menekan harga pokok produksi.
5. Persepsi Negatif Konsumen
Ini adalah tantangan non-teknis terbesar. Kata “radiasi” atau “nuklir” seringkali membuat konsumen takut duluan. Padahal, mekanismenya berbeda jauh dengan bom nuklir.
Edukasi pasar menjadi PR besar. Produsen harus bekerja keras meyakinkan pembaca label bahwa logo Radura (logo khusus pangan iradiasi) adalah tanda kebersihan, bukan tanda bahaya.
Pesan Akhir dari Teknologi Iradiasi untuk Pengawetan Makanan – Ampuh Basmi Bakteri, Tapi Apa Risikonya?
Kesimpulannya, teknologi iradiasi menghadirkan solusi pengawetan makanan yang revolusioner dengan kemampuannya membasmi bakteri patogen dan memperpanjang umur simpan tanpa meninggalkan residu kimia, sehingga sangat strategis untuk menembus pasar ekspor.
Namun, Sobat JEI juga perlu menimbang keterbatasannya secara bijak, seperti potensi penurunan kadar vitamin tertentu, risiko ketengikan pada produk tinggi lemak, serta biaya operasional yang cukup tinggi. Pada akhirnya, iradiasi adalah metode yang sangat aman dan efektif selama diterapkan pada jenis komoditas yang tepat dengan dosis yang presisi, demi menyeimbangkan antara keamanan pangan dan kualitas nutrisi yang terjaga.
