
Pengalaman menginap di Villa Pintu Langit Dieng ini sungguh di luar ekspektasi. Teman-teman yang sedang mencari penginapan Dieng view bagus, rasanya tempat ini wajib berada di urutan teratas daftar liburan kalian. Bayangkan saja, kita bisa menikmati magisnya sunrise Dieng dari balkon sambil asyik berselimut menahan dingin, menatap pesona Desa Tieng, hingga sarapan ditemani gagahnya Gunung Sindoro.
Tentu saja, di artikel ini saya juga akan membocorkan panduan akses jalan, tips bertahan dari suhu ekstrem, hingga harga kamar Villa Pintu Langit Dieng agar kalian bisa menyiapkan bujet. Yuk, simak cerita lengkapnya!
Tiba di Ketinggian Bersama Gerimis dan Kabut
Sore itu, perjalanan kami dari Yogyakarta, tiba di kawasan Kejajar sudah menjelang sore. Gerimis dan kabut yang mengawal sejak di perjalan bikin suasana tambah syahdu. Saya sudah siap dengan jaket tebal sejak dalam mobil. Namun tak urung, saat pintu mobil terbuka, udara dingin khas dataran tinggi bulan Agustus langsung menusuk ke tulang lansia ini. Untungnya lobi tempat check in tidak jauh dari area parkir, saya pun sambil menggeret koper langsung berlari kecil ke sana. Meringis saat suami menegur bahwa cara saya membawa koper di lahan berkerikil itu akan membuat saya sendiri sengsara nanti. Rodanya pasti rusak dan saya akan menggotong koper itu saat checkout.
Saya mengabaikan. Dan untungnya kopernya baik-baik saja. Usai cek in dan mendapat kunci, kami rombongan lansia yang sudah karena paginya masih aktivitas di Jogja, langsung ingin ke kamar dan istirahat.
- Baca di sini tentang : Pengalaman Menginap di Grand Mercure Lampung: Sensasi Tidur di Atas Awan, View Magis & Panduan Lengkap Cuti Weekend!
Rezeki anak saleh (lansia kali lah :)), saya dan suami mendapatkan kamar yang berada di lantai paling atas dari area vila ini. Menurut teman-teman, itu tempat terbaik untuk melihat sunrise.
Memang, ada sedikit “harga” fisik yang harus dibayar. Kami harus naik turun tangga yang lumayan membuat paha bernyanyi dan napas sedikit ngos-ngosan. Untungnya staf Villa Pintu Langit siap membantu. Untuk Sobat JEI, percayalah, jika kalian harus gotong koper juga ke atas, pengorbanan itu terbayar lunas tanpa sisa begitu mendarat di balkonnya.
Pemandangan Lembah Tieng yang Memesona

Dari balkon kamar atas ini, pemandangan terbentang lepas tanpa halangan. Lembah Desa Tieng dengan rumah-rumahnya yang saling berdesakan rapi, berbungkus kabut di lereng gunung, itu seperti miniatur perkampungan di negeri dongeng.
Mata pun langsung segar mengamati terasering perkebunan warga yang berundak-undak hijau. Makin lama selimut kabut tebal terus berarak turun. Sangat puitis. Rasanya lelah bergelut dengan aktivitas jalan-jalan seharian menguap begitu saja bersama kabut. Belum lagi disapa udara dingin dari lembah yang menyapu wajah. Nikmat banget duduk menikmati secangkir kopi hitam di balkan Villa Pintu Langit sore itu.
Fasilitas Kamar: Jendela Kaca Raksasa dan “Drama” Sofa
Kenyamanan tak hanya terasa di balkon, tapi juga di dalam ruangan. Di dalam kamar yang saya tempati, terdapat jendela kaca yang begitu lebar. Alhasil, sambil duduk manis di dalam kamar pun, lukisan alam Dieng ini terpampang nyata.
Kamar ini juga dibekali fasilitas yang terbilang lengkap dan thoughtful untuk ukuran suhu sedingin ini. Tersedia dapur mini, alat pembuat teh dan kopi untuk menghangatkan suasana, handuk bersih, sendal kamar, dan yang paling krusial: shower air panas. Walau perlu ditampung dulu di ember, untungnya airnya mengalir lancar!
- Baca di sini tentang : Ide Cari Cuan di Masa Pensiun untuk Tiket Traveling: Merayu Rupiah Menjadi Tiket Pesawat Lansia
Sedikit Gatal namun Tetap Hangat
Nah, di balik segala keindahan itu, ada sedikit cerita “ngak ngenakin”. Sofanya punya sedikit masalah. Saat asyik duduk bersantai membaca buku dan sesekali menatap lembah dari balik jendela kaca, mendadak kulit terasa gatal-gatal. Tadinya saya kurang menghiraukan. Saya pikir mungkin belum mandi.
Eh lama-lama gatalnya makin jadi. Saat saya cek di kamar mandi, duh sudah banyak bentolan merah di paha belakang (gak tega bilang pantat :)). Sepertinya ada tamu tak diundang, kepinding (kutu busuk) nakal yang diam-diam ikut menginap di sofa itu.
Kulit saya sensitif. Gatalnya lumayan membuat saya salah fokus pada buku dan syahdunya pemandangan. Untung salep anti gatal selalu tersedia dalam kantong obat-obatan. Kalau tidak bisa saya akan menggaruk sepanjang malam.
Namun, terlepas dari insiden gatal-gatal itu, servis di sini sangat bagus. Para stafnya ramah dan selalu sigap membantu kebutuhan kami. Ini yang membuat pengalaman menginap di Villa Pintu Langit Dieng ini tetap terasa istimewa.
Menanti Keajaiban Pagi: Sunrise Eksklusif dari Teras Kamar

Jika ada satu hal yang paling spektakuler dari tempat ini, itu adalah momen pergantian malam menuju pagi. Malamnya saya dan teman-teman sudah janjian, akan melihat sunrise dari balkon.
Pagi itu, udara dingin di luar memang tak main-main, begitu membuka pintu, byuurrr…Bersama itu aroma embun dari lembah membahasih paru-paru, rasanya lega sekali. Dengan berbalut selimut dan topi kupluk tekad untuk melihat matahari terbit di depan kamar semakin asik.
Iya itu lah hebatnya menginap di sini. Kita tidak perlu repot-repot berjalan dan berkendara menembus gelap menuju menara pandang. Cukup buka pintu teras, tarik kursi, dan duduklah santai.
Pagi setelah subuh itu saya menjemput golden sunrise langsung dari balkon sambil duduk melipat kaki ke kursi dan melilitkan selimut tebal ke sekujur tubuh! Karena suami masih “ngorok” saya duduk diam-diam sendirian. Mendengarkan celoteh wisatawan lain juga keluar dari villa mereka. Dan yang paling ramai suara-suara wisatawan di menara pandang yang terletak di luar properti villa tapi terlihat jelas dari balkon saya duduk.
Tak lama, perlahan semburat jingga yang membelah kabut. Awan dengan sisa gerimis kemarin sore perlahan menyibak. Suasa-suara dari menara pandang dan balkon-balkon setiap villa jadi bertambah ramai. Sayang saja tidak kedengaran, tapi saya bisa membayangkan bunyi klik kamera dan ponsel itu mengabadikan fenemena alam itu.
Memandang ke lembah yang masih gelap, dan ke langit dengan warna jingga, benar-benar magis. Suami saya menyusul dan mengambil tempat duduk di sebelah.
Kuliner Hangat Menghadap Gunung Sindoro

Bagi Sobat JEI yang malas keluar malam menembus kabut untuk mencari makan, vila ini menyediakan layanan makan malam dan sarapan. Syaratnya, dikenakan biaya tambahan dan kita wajib pesan terlebih dahulu (pre-order).
Rasa masakannya standar. Namun Ini sangat menolong agar kita tak perlu kedinginan mencari makan malam keluar. Atau Sobat JEI bisa juga bawa makanan dari rumah. Tinggal di hangatkan di dapur mini. Atau lagi bisa bikin mie instant yang juga disediakan pengelola di kamar untuk dibeli.
Pagi yang Hangat di Resto Vila

Momen sarapan pun tak kalah istimewa. Restoran vila ini tidak hanya menawarkan pemandangan ke arah lembah yang berbalut awan, tetapi juga menyajikan pesona Gunung Sindoro secara paripurna.
Saat saya di sana, sehabis sarapan, cuaca mendadak bersahabat. Matahari bersinar hangat, menyapu sisa-sisa kabut, dan menampilkan wujud Gunung Sindoro yang berdiri angkuh namun indah. Menyeruput teh hangat dengan lanskap terbuka seperti ini adalah sebuah kemewahan tersendiri.
Akses Jalan Menuju Villa Pintu Langit Dieng
Sobat JEI mungkin bertanya-tanya, apakah akses menuju surga kecil ini sulit? Secara administratif, penginapan ini berlokasi di Desa Tieng, Kecamatan Kejajar, Wonosobo. Jaraknya sekitar 20 kilometer atau 40 menitan berkendara dari pusat kota Wonosobo.
Patokannya sangat mudah karena pintu masuknya bisa diakses berdekatan dengan area wisata Gardu Pandang Tieng. Jalan utamanya sudah beraspal mulus dan cukup lebar untuk dilalui mobil pribadi maupun motor.
Namun, perlu diingat bahwa rute ini adalah jalur pegunungan. Medannya didominasi tanjakan panjang, kelokan tajam, dan sering kali disambut kabut tebal yang tiba-tiba turun. Pastikan kendaraan dalam kondisi prima dan pengemudinya tidak sedang mengantuk!
Tipe dan Harga Kamar Villa Pintu Langit Dieng
Tentu pengalaman estetik ini membuat kalian penasaran, kira-kira berapa bujet yang harus disiapkan? Ada beberapa tipe kamar di kawasan ini yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan:
- Tipe Cabin (1 Lantai): Cocok untuk pasangan atau rombongan kecil. Fasilitas dasar lengkap dengan kamar mandi air hangat. Kisaran harganya mulai dari Rp 700.000 – Rp 1.000.000 per malam.
- Tipe Villa (2 Lantai): Sangat ideal untuk keluarga. Ruangannya lebih luas, memiliki area berkumpul, dan balkon teras yang lega. Kisaran harganya mulai dari Rp 1.200.000 – Rp 1.500.000 per malam.
(Catatan: Harga bisa sedikit bervariasi tergantung musim liburan, jadi pastikan reservasi jauh hari).
Tips Penting Sebelum Menginap dan Menjelajah Dieng
Agar liburan ke Dieng tidak berujung masuk angin, ada beberapa “aturan tak tertulis” yang wajib Sobat JEI patuhi:
1. “Starter Pack” Pakaian Tempur & Obat-obatan
Ingat, Dieng bukan tempat untuk adu gaya pakaian tipis. Bawa jaket tebal (kalau bisa windbreaker), kaus kaki, dan kupluk. Sistem berpakaian berlapis (layering) jauh lebih efektif. Jangan lupa bawa minyak kayu putih, tolak angin, dan obat sakit kepala. Mencari apotek 24 jam di atas gunung sama susahnya dengan mencari sinyal di pedalaman!
2. Siapkan Uang Tunai (Cash is King!)
Meskipun zaman sudah canggih, sinyal di dataran tinggi sering kali putus nyambung sehingga scan QRIS bisa bikin ngelus dada. Siapkan uang tunai untuk jajan tempe kemul anget, beli carica, atau membayar parkir.
3. Waktu Terbaik Berkunjung
Jika ingin mengejar fenomena embun upas (salju Dieng), datanglah di puncak kemarau sekitar Juli-Agustus. Namun ingat, suhunya bisa menyentuh angka minus! Selalu booking penginapan berbulan-bulan sebelumnya jika tak ingin luntang-lantung kedinginan.
eviindrawanto.com
Baca juga:
