
Ringkasan
- Pasar tradisional seperti Pasar Lereng Bukittinggi menggambarkan persaingan bisnis yang ketat di antara para pedagang.
- Layanan seperti kelapa parut segar menjadi contoh value-added service untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang manja.
- Pedagang menawarkan produk segar, seperti ikan dan ayam, yang baru dipotong untuk menjamin kesegaran dan rasa yang lebih baik.
- Layanan VIP, seperti bumbu ulek tangan, meningkatkan kualitas masakan dan memberikan pengalaman berbeda bagi pembeli.
- Persaingan bisnis di pasar tradisional sangat melelahkan, namun para pedagang tetap berusaha untuk memuaskan pelanggan yang manja.
Pasar tradisional sering disebut sebagai contoh nyata pasar persaingan sempurna. Mekanisme permintaan, suplai, dan harga ditentukan secara alami oleh pasar. Di sini, slogan “pembeli adalah raja” benar-benar berlaku. Demi melayani sang raja, para pedagang harus memutar otak untuk mengembangkan layanan terbaik.
Philip Kotler, bapak pemasaran modern, pernah menyebutkan bahwa customer intimacy adalah kunci memenangkan pasar yang padat. Hal ini semakin saya sadari saat berbelanja bumbu dapur segar. Pengalaman ini saya dapatkan langsung di Pasar Lereng Bukittinggi.
Mengamati Persaingan Bisnis di Pasar Tradisional
Suatu hari saat pulang kampung, saya dan kakak memutuskan belanja kebutuhan dapur. Tujuan kami adalah Pasar Lereng Bukittinggi. Ini adalah pasar tradisional legendaris yang sudah eksis sejak zaman kolonial. Secara historis, kawasan ini mulai berkembang pesat sejak Belanda membangun Fort de Kock pada tahun 1825. Letaknya yang unik di kemiringan menghubungkan Pasar Atas dan Pasar Bawah. Jalur ini menjadi saksi bisu sengitnya persaingan bisnis antar pedagang lintas generasi hingga hari ini.
Sambil melihat catatan belanja, saya mengamati aktivitas di sekeliling. Otak saya otomatis membandingkannya dengan pasar tradisional di Tangerang. Pasar di Tangerang adalah tempat saya biasa membeli bahan segar sehari-hari.
Menurut studi Journal of Retailing and Consumer Services, pasar di suatu daerah adalah cerminan konsumsi masyarakatnya. Tangerang adalah melting pot. Pasarnya menyediakan bahan makanan untuk berbagai etnis.
Kondisi ini sedikit berbeda dengan Bukittinggi. Meskipun banyak masyarakat non-Minangkabau tinggal di sini, bahan dasarnya tetap didominasi masakan Minang. Salah satu buktinya adalah banyaknya penjual kelapa dengan fasilitas parutan lengkap.
Baca juga:
Memanjakan Pelanggan yang Manja dengan Santan Segar
Ibu-ibu yang ingin memasak gulai santan sangat dimanjakan di sini. Teman-teman tinggal memilih buah kelapa yang diinginkan. Setelah itu, minta penjual untuk memarut sekaligus memerasnya.
Hasilnya adalah santan murni segar yang siap diolah di dapur. Kita tidak perlu lagi capek memarut kelapa sendiri di rumah.
Dalam teori Service Marketing, ini disebut value-added service. Pedagang menghilangkan kesulitan (pain point) pembeli untuk menciptakan loyalitas. Menurut saya, ini adalah kemanjaan luar biasa yang bisa diterima oleh pelanggan yang manja.
Standar Kesegaran Tinggi untuk Hewan Hidup
Saya kemudian beralih ke area penjualan ikan dan ayam. Di sini, kita bisa membeli hewan-hewan tersebut dalam keadaan hidup. Penjual akan memotong dan membersihkannya saat itu juga.
Kita membawa pulang ayam dan ikan yang baru saja dipotong. Bahkan, darah merah segar seringkali masih mengalir saat sampai di rumah.
Ahli pangan sering menekankan pentingnya kesegaran protein. Daging yang baru dipotong memiliki tekstur serat yang belum mengalami rigor mortis (kekakuan otot). Ini membuat rasa masakan jauh lebih manis dan lezat dibandingkan daging beku.
Service VIP di Pasar Lereng Bukittinggi – Bumbu Ulek Tangan
Ibu rumah tangga yang butuh bumbu segar juga tak harus punya cobek atau blender. Pasar Lereng Bukittinggi menyediakan bumbu halus siap pakai. Teman-teman tinggal menyebut jenis masakan dan jumlah bahan. Penjual akan meraciknya sesuai permintaan.
Namun, ada layanan yang lebih istimewa lagi. Jika Anda merasa bumbu giling mesin kurang sedap, Teman-teman bisa meminta service VIP di Pasar Lereng Bukittinggi. Kita bisa membeli cabai bulat lalu meminta penjual menguleknya dengan cobek batu. Persis seperti cara ibu kita zaman dulu.
Mengapa Ulekan Batu Lebih Mahal?
Beberapa kios bumbu di Pasar Lereng Bukittinggi menyediakan layanan premium ini. Mereka tidak menggunakan mesin blender. Di salah satu kios, seorang ibu tampak mengulek sendiri pesanan kami dengan cobek batu.
Pakar kuliner Indonesia, William Wongso, sering menyebut bahwa bumbu yang diulek batu lebih sedap. Tekanan batu mengeluarkan minyak atsiri alami tanpa panas berlebih dari mesin blender. Rasa masakan pun menjadi lebih otentik.
Memang, harga bumbu ini sedikit lebih mahal dari yang digiling mesin. Rasanya pun jelas berbeda. Namun, diam-diam saya merasa iba. Ibu tersebut harus menguras tenaga ekstra demi melayani pembeli.
Ini adalah bukti nyata kerasnya persaingan bisnis. Bisnis ini sangat melelahkan, namun pedagang tetap melakukannya demi kepuasan raja mereka. Bagaimana dengan kalian teman-teman, apakah termasuk pelanggan yang manja juga?
Salam,
–Evi

