
Pelajaran dari The Three Musketeers ternyata memberikan perspektif segar tentang pola asuh dan keberanian mengambil risiko, jauh melampaui sekadar aksi laga abad ke-17. Tanpa rencana matang, malam Minggu kemarin saya dan keluarga mampir ke XXI Living World Alam Sutera. Tujuan kami sederhana: menikmati film The Three Musketeers (2011) karya Paul W.S. Anderson. Namun, siapa sangka saya justru membawa pulang perenungan mendalam tentang bagaimana kita membesarkan anak.
Artikel ini tidak akan mengulas sinematografi secara teknis. Fokus kita adalah membedah pesan moral tersembunyi, khususnya tentang keberanian menghadapi kegagalan.
Berikut adalah ringkasan poin penting yang akan Sobat JEI dapatkan:
- Pentingnya mentalitas berani membuat kesalahan untuk pertumbuhan karakter.
- Analisis karakter dan pelajaran dari D’Artagnan tentang kegigihan.
- Bahaya over-parenting dan zona nyaman bagi anak.
Pelajaran dari D’Artagnan dan Semangat Musketeer
Pelajaran dari D’Artagnan dimulai dari kisah klasik pengkhianatan dan kebangkitan. Film ini membuka adegan dengan jatuhnya mental Athos, Porthos, dan Aramis akibat ulah Milady de Winter. Pembubaran The Three Musketeers oleh Cardinal Richelieu membuat mereka kehilangan arah.
Namun, situasi berubah saat D’Artagnan muda datang dari desa ke Paris. Energinya yang meledak-ledak menyatukan kembali para ksatria yang retak ini untuk melawan konspirasi penggulingan Raja Louis XIII.
Dalam karya asli Alexandre Dumas tahun 1844, karakter D’Artagnan memang digambarkan sebagai simbol “Hero’s Journey”. Riset sastra menunjukkan bahwa Dumas menciptakan karakter ini berdasarkan tokoh nyata, Charles de Batz-Castelmore d’Artagnan. Sosoknya merepresentasikan transisi dari kenaifan menuju kebijaksanaan melalui serangkaian konflik dan kesalahan, sebuah proses yang dalam psikologi modern dikenal sebagai experiential learning.
Mengapa Harus Berani Membuat Kesalahan?
Berani membuat kesalahan adalah pesan paling menohok yang saya tangkap dari film ini. Ada satu adegan krusial saat D’Artagnan hendak merantau ke Paris. Sang ibu, seperti ibu pada umumnya, berpesan agar ia menjaga sikap dan menghindari keributan.
Sebaliknya, sang ayah justru memberikan nasihat kontroversial: “Buatlah keributan, berkelahilah, dan lakukan kesalahan sebanyak mungkin.”
Nasihat ini terdengar gila, bukan? Di dunia nyata, orang tua “waras” pasti melarang anaknya berbuat salah. Kita cenderung menjejalkan rambu-rambu moral agar anak aman dari sanksi sosial. Namun, pelajaran dari The Three Musketeers ini menantang norma tersebut.
Profesor psikologi Carol Dweck dalam bukunya tentang Growth Mindset menyebutkan bahwa ketakutan akan kesalahan mematikan kreativitas. Anak yang dididik untuk menghindari kesalahan cenderung menjadi “fragile” (rapuh). Sebaliknya, anak yang diajarkan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar akan memiliki resiliensi (daya lenting) yang tinggi menghadapi tantangan masa depan.
Bahaya Mencetak Generasi Pengecut
Pelajaran dari The Three Musketeers mengingatkan kita bahwa menabukan kesalahan justru berbahaya. Ayah D’Artagnan, seorang mantan Musketeer, tentu bukan sosok amoral. Ia hanya memahami realitas hidup yang keras.
Ia melihat bahwa batasan berlebihan menciptakan pengecut. Banyak orang takut mengambil risiko dan enggan bertanggung jawab karena takut salah. Padahal, keberanian sejati lahir dari pengalaman bangkit setelah jatuh.
Apakah setelah ini saya akan membiarkan anak-anak melakukan kesalahan fatal? Tentu tidak. Pelajaran dari D’Artagnan bukan tentang menjadi ceroboh tanpa tujuan. D’Artagnan berani mengambil risiko karena ia sudah memiliki fondasi nilai yang kuat dari ayahnya.
Keberanian mengambil risiko harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Tanpa bekal moral, nasihat “berbuatlah kesalahan” hanya akan menciptakan monster, bukan ksatria tangguh.
Jadi, Sobat JEI, sudahkah kita memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar dari kegagalan mereka sendiri hari ini?
