Key Takeaways
- Patung Buddha Raksasa Leshan merupakan mahakarya yang dibangun oleh Biksu Hai Tong untuk menenangkan arus sungai ganas.
- Konon, patung ini pernah ‘menangis’ saat bencana kelaparan besar di China, menambah aura mistisnya.
- Ada dua cara untuk menikmati keindahan patung: mendaki bukit atau naik kapal, masing-masing menawarkan pengalaman berbeda.
- Terletak di Kota Leshan, akses termudah adalah dengan kereta cepat dari Chengdu, dilanjutkan dengan bus atau taksi.
- Sebelum berkunjung, cek cuaca dan datang pagi untuk menghindari antrean panjang di tangga.
Teman-teman, pernahkah mendengar kisah tentang sebuah patung batu yang bisa menitikkan air mata saat melihat penderitaan manusia?
Jika sedang merencanakan Wisata Chengdu China, ada satu destinasi yang wajib masuk dalam bucket list kalian. Bukan sekadar objek wisata biasa, tempat ini menyimpan aura spiritual yang kental, sejarah ribuan tahun, dan fenomena alam yang membuat bulu kuduk merinding. Tempat itu adalah Patung Buddha Raksasa Leshan atau dunia mengenalnya sebagai Leshan Giant Buddha.
Bayangkan sebuah patung setinggi 71 meter yang dipahat langsung di tebing batu curam, duduk tenang mengawasi pertemuan tiga sungai ganas. Namun, di balik kemegahannya, tersimpan cerita pilu tentang misteri patung Buddha menangis yang melegenda. Yuk, kita telusuri sejarah, mitos, dan cara menuju ke sana!
Sejarah Patung Buddha Leshan: Mahakarya Biksu Hai Tong
Sebelum kita bahas soal air mata, mari kita gali sedikit deep research tentang asal-usul tempat ini. Patung Buddha Raksasa Leshan bukanlah patung yang dibangun dalam semalam.
Kisah bermula di masa Dinasti Tang, sekitar tahun 713 Masehi. Saat itu, pertemuan tiga sungai—Sungai Minjiang, Sungai Dadu, dan Sungai Qingyi—sangat ganas. Arus air yang liar sering menenggelamkan kapal-kapal nelayan dan pedagang, menelan banyak korban jiwa. Masyarakat percaya ada roh jahat di dalam air yang meminta tumbal.
Seorang biksu bernama Hai Tong merasa iba. Ia memiliki gagasan gila namun mulia: memahat patung Buddha Maitreya raksasa di tebing gunung untuk “menenangkan” dewa sungai. Logikanya, bebatuan hasil pahatan yang jatuh ke sungai akan menimbun dasar sungai dan mengurangi derasnya arus.
Hai Tong mengemis dana selama 20 tahun. Legenda mengatakan, ketika pejabat korup mencoba memeras uang dana pembangunan, Hai Tong dengan berani mencongkel matanya sendiri sebagai bukti ketulusannya, berkata, “Kalian bisa mengambil mataku, tapi tidak uang untuk Buddha.”
Pembangunan Patung Buddha Terbesar di Dunia (untuk kategori patung batu ukir pra-modern) ini memakan waktu 90 tahun dan baru selesai pada tahun 803 Masehi oleh murid-muridnya. Dan benar saja, setelah patung selesai, arus sungai menjadi lebih tenang dan kapal-kapal bisa melintas dengan aman.
Misteri Patung Buddha Menangis: Antara Sains dan Legenda
Bagian ini adalah inti cerita yang membuat banyak orang penasaran. Konon, Patung Buddha Raksasa Leshan pernah menangis beberapa kali dalam sejarah modern China.
Salah satu peristiwa paling terkenal terjadi saat Kelaparan Besar melanda Tiongkok antara tahun 1959 dan 1961. Kala itu, penderitaan rakyat begitu hebat. Mayat-mayat korban kelaparan yang tak sempat dikuburkan dengan layak dihanyutkan ke sungai, mengapung melewati kaki Sang Buddha.
Legenda menyebutkan, Sang Buddha yang penuh welas asih tak kuasa melihat pemandangan memilukan itu. Ia menutup matanya dan air mata mengalir membasahi pipi batunya. Foto-foto fenomena ini sempat membuat heboh, bahkan pemerintah setempat dikabarkan melakukan renovasi besar-besaran untuk “membersihkan” air mata tersebut, namun jejaknya tetap kembali.
Secara ilmiah, fenomena ini sebenarnya bisa dijelaskan. Patung Buddha Raksasa Leshan memiliki sistem drainase canggih yang tersembunyi di dalam tubuhnya (di belakang telinga dan kepala) untuk mencegah erosi. Namun, polusi udara dan hujan asam selama bertahun-tahun menyebabkan pelapukan pada batuan kapur di sekitar mata, menciptakan goresan hitam vertikal yang tampak persis seperti air mata hitam.
Meski sains punya jawaban, bagi saya dan banyak peziarah lainnya, berdiri di sana dan melihat wajah teduh itu tetap memberikan getaran batin yang berbeda. Seolah Sang Buddha memang turut merasakan duka dunia.
Tulisan saya yang agak puitis : Embun Pagi yang Puitis di Kampung Ibu 🙂
Pengalaman Melihat Langsung: Memilih Jalur Sungai
Saat berkunjung ke sini, ada dua cara menikmati keindahan Leshan Giant Buddha: mendaki bukit atau naik kapal.
Kalau kalian punya fisik prima dan ingin melihat detail dari dekat (seperti menyentuh kaki Buddha), silakan mendaki melalui gerbang utama. Tapi ingat, antrean di tangga “Nine Bends” yang sempit di sisi tebing bisa sangat panjang dan melelahkan, apalagi saat musim liburan. Kita harus berdesak-desakan dengan ribuan turis lokal.
Saya pribadi lebih memilih jalur air. Dari dermaga, kita bisa naik kapal wisata. Angin sungai yang menyapa lembut dan pemandangan gedung pencakar langit kota Leshan yang kontras dengan tebing kuno menjadi pembuka yang manis.
Dari atas geladak kapal, Patung Buddha Raksasa Leshan terlihat utuh dan simetris. Kita bisa melihat betapa kecilnya manusia dibandingkan karya agung ini. Kepalanya saja setinggi 14,7 meter dengan 1.021 sanggul rambut yang diukir detail! Telinganya yang panjang (7 meter) seolah siap mendengar doa-doa yang terbawa angin.
Melihat dari kapal juga lebih aman dan santai, sangat cocok buat kalian yang membawa orang tua atau anak-anak. Plus, ini adalah angle terbaik untuk foto full body patung tanpa terhalang kepala turis lain!
Panduan Wisata Leshan Giant Buddha (Update 2025/2026)
Agar perjalanan teman-teman lancar, berikut informasi terbaru cara menuju ke sana dan biayanya.
Lokasi dan Cara Menuju ke Sana
Patung Buddha Raksasa Leshan terletak di Kota Leshan, Provinsi Sichuan, sekitar 140 km dari Chengdu.
- Kereta Cepat (High Speed Train): Ini cara termudah. Naiklah kereta C-train dari Stasiun Chengdu East (Chengudong) menuju Stasiun Leshan.
- Durasi: ± 1 jam.
- Harga: Sekitar 54 CNY (± Rp118.000).
- Dari Stasiun Leshan ke Lokasi: Setibanya di stasiun, teman-teman bisa naik Bus No. 3 atau Bus Wisata (Tourist Bus) langsung ke pintu masuk Leshan Giant Buddha Scenic Area. Atau naik taksi online (DiDi) dengan biaya sekitar 20-30 CNY.
Harga Tiket Masuk dan Kapal
Harga bisa berubah sewaktu-waktu, tapi berikut estimasi terbarunya:
- Tiket Masuk Area Wisata (Hiking): * Dewasa: 80 CNY (± Rp175.000).
- Ini akses untuk masuk taman, mendaki bukit, dan turun tangga ke kaki Buddha.
- Tiket Kapal Wisata (Boat Tour):
- Tiket Standar: 70 CNY (± Rp155.000).
- Speedboat (biasanya lebih mahal): Sekitar 150 CNY (± Rp330.000).
- Ingat, tiket kapal tidak termasuk tiket masuk taman (hiking). Jadi pilih salah satu atau keduanya jika waktu memungkinkan.
Tips Berkunjung ke Leshan Giant Buddha
- Datang Lebih Pagi: Jika ingin hiking, datanglah sepagi mungkin (buka jam 07.30 atau 08.00) untuk menghindari antrean horor di tangga tebing.
- Cek Cuaca: Hindari datang saat hujan deras karena tangga licin bisa ditutup demi keselamatan, dan pemandangan dari kapal akan tertutup kabut.
- Pakaian Nyaman: Gunakan sepatu kets yang nyaman. Area ini luas dan banyak tanjakan.
- Hati-hati Calo: Di sekitar stasiun atau pintu masuk, banyak yang menawarkan jasa pemandu atau tiket “jalur cepat”. Sebaiknya beli tiket di loket resmi atau booking online lewat aplikasi terpercaya.
Semoga cerita dan panduan ini bermanfaat ya! Patung Buddha Raksasa Leshan bukan hanya tentang batu yang dipahat, tapi tentang sejarah keteguhan hati manusia dan doa yang membatu.
Sampai jumpa di cerita perjalanan berikutnya!
Video Leshan Giant Budha
Salam, Evi

