Key Takeaways
- Pantai Tanjung Kait Tangerang menawarkan suasana yang sederhana dan autentik, jauh dari pantai-pantai elit seperti Maldives.
- Daya tarik utama adalah restoran apung yang menambah keindahan suasana makan seafood segar langsung dari laut.
- Klenteng Tjo Soe Kong dekat pantai menyimpan sejarah penting dan menjadi spot foto yang menarik.
- Tempat ini adalah surga bagi pemancing dan mereka yang suka berburu sunset yang dramatis di sore hari.
- Akses ke Pantai Tanjung Kait semakin mudah, dengan biaya masuk yang terjangkau, namun perhatikan praktik parkir yang tidak resmi.
Travel Blog Indonesia – Pernahkah kalian merasa butuh “kabur” sejenak dari hiruk-pikuk kota, tapi dompet dan waktu tidak mengizinkan untuk terbang ke Bali? Saya sering merasakannya. Kadang, kita tidak butuh pasir putih atau ombak biru kristal untuk menemukan ketenangan. Kadang, yang kita butuhkan hanya angin laut yang kencang, ikan bakar segar yang baru diangkat dari jaring, dan suasana sederhana yang membumi.
Selamat datang kembali di Pantai Tanjung Kait Tangerang. Jika kalian membaca tulisan lama saya di tahun 2016, banyak hal telah berubah, namun “jiwa” tempat ini tetap sama. Di tahun 2026 ini, Tanjung Kait bukan sekadar pantai pinggiran; ia adalah destinasi bagi mereka yang mencari autentisitas rasa dan suasana.
Mari kita kupas tuntas wajah baru dan lama dari pesona pesisir utara Tangerang ini.
Bukan Sekadar Pantai, Ini Tentang Suasana
Jujur saja, jika kalian datang ke sini mencari pantai ala Maldives atau bahkan Anyer, kalian salah alamat. Pantai Tanjung Kait Tangerang tidak menjual keindahan pasir putih. Airnya cenderung kecokelatan—khas perairan utara Jawa yang berlumpur. Namun, di situlah letak keunikannya yang sering luput dari mata wisatawan instan.
Daya tarik utama di sini adalah deretan restoran apung Tanjung Kait atau rumah panggung yang menjorok jauh ke tengah laut. Struktur bambu yang kokoh ini menciptakan labirin di atas air yang memukau. Berjalan di atas titian bambu (yang sekarang sudah jauh lebih terawat dibanding sepuluh tahun lalu) memberikan sensasi tersendiri. Ada bunyi kretek-kretek bambu yang beradu dengan debur ombak, sebuah simfoni alam yang tidak akan kalian temukan di mall berpendingin udara.
Baca juga   Wisata Kuliner di Tangerang
Wisata Kuliner: Surga Seafood di Atas Laut

Inilah alasan utama mengapa orang rela menempuh perjalanan berliku ke ujung Mauk: Makanan!
Wisata kuliner seafood Tangerang tidak lengkap tanpa menyebut Tanjung Kait. Konsepnya sederhana tapi “mahal” secara pengalaman: Fresh from the sea. Kalian bisa memilih ikan, cumi, udang, atau kerang yang masih hidup di keramba-keramba milik nelayan.
Di tahun 2026 ini, beberapa tempat makan legendaris seperti RM Bunga Hati atau RM Pak Maman masih menjadi primadona, namun banyak juga spot baru yang menawarkan kenyamanan lebih. Bayangkan menyantap ikan bakar bumbu kuning yang gurih, ditemani sambal super pedas dan es kelapa muda, sambil duduk lesehan di gubuk bambu di tengah laut. Angin sepoi-sepoi akan membuat mata berat saking nyamannya.
- Tips : Harga seafood di sini relatif miring dibandingkan resto seafood di pusat kota Jakarta atau BSD. Untuk makan besar sekeluarga, biayanya masih sangat masuk akal. Pastikan untuk menanyakan harga per kilogram sebelum memesan agar tidak kaget saat bayar, ya!
Baca di sini tentang : Reed Flute Cave, Gua Seruling Bambu di Guilin, Cina
Menelusuri Jejak Sejarah di Klenteng Tjo Soe Kong
Jangan hanya makan lalu pulang. Pantai Tanjung Kait Tangerang menyimpan permata sejarah yang tak ternilai. Tepat di dekat pintu masuk kawasan pantai, berdiri megah Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait (Tjoe Soe Kong Bio).
Klenteng ini bukan bangunan sembarangan. Dibangun sejak abad ke-18 oleh imigran Tiongkok, klenteng ini konon selamat dari dahsyatnya tsunami letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Arsitekturnya yang kuno dengan ukiran naga yang detail menjadi kontras yang indah dengan kehidupan kampung nelayan di sekitarnya.
Ini adalah bukti nyata toleransi yang sudah terjalin ratusan tahun di Desa Wisata Tanjung Anom. Warga setempat yang mayoritas Muslim hidup berdampingan harmonis dengan aktivitas peribadatan di klenteng.
Bagi kalian pemburu foto human interest atau arsitektur, klenteng ini wajib masuk dalam bucket list.
Surga Bagi Pemancing dan Pemburu Sunset
Selain makan, apa lagi yang bisa dilakukan?
- Memancing: Bagi hobiis, ini adalah surga. Tempat mancing di Tanjung Kait sangat beragam, mulai dari memancing di pinggiran dermaga bambu, menyewa lapak di bagan (rumah ikan) tengah laut, hingga menyewa perahu nelayan untuk spot yang lebih dalam.
- Menyeberang Pulau: Dari sini, kalian juga bisa menyewa perahu untuk menyeberang ke Pulau Untung Jawa atau sekadar berkeliling melihat aktivitas nelayan dari dekat.
- Sunset Hunting: Datanglah sekitar pukul 16.30 WIB. Matahari terbenam di sini memiliki karakter dramatis dengan siluet bagan-bagan bambu dan perahu nelayan sebagai latar depannya.
Panduan Menuju Lokasi & Tips Penting (Update 2026)
Sebagai destinasi wisata murah dekat Jakarta, akses ke Tanjung Kait kini semakin ramai.
- Rute: Jika dari Jakarta atau Tangerang Kota, arahkan kendaraan menuju Kecamatan Mauk. Jalanan sudah relatif beton mulus, meski di beberapa titik mendekati lokasi masih ada jalanan desa yang agak sempit. Gunakan Google Maps dengan kata kunci “Pantai Tanjung Kait Mauk”.
- Tiket Masuk & Parkir: Secara resmi tiket masuknya sangat murah (sekitar Rp10.000 – Rp20.000 per kendaraan). Namun, disclaimer jujur dari saya: praktik pungutan parkir tidak resmi kadang masih terjadi. Siapkan uang receh Rp2.000 – Rp5.000 untuk berjaga-jaga. Anggap saja sedekah untuk warga lokal yang menjaga kendaraan kita.
- Waktu Terbaik: Hindari siang bolong karena panasnya cukup menyengat. Sore hari adalah waktu emas.
Jadi, Gimana?
Pantai Tanjung Kait Tangerang mengajarkan kita bahwa bahagia itu sederhana. Ia tidak memoles dirinya menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Ia apa adanya: bau amis laut, keramahan nelayan, bambu yang berderit, dan rasa seafood yang jujur.
Jika kalian butuh tempat untuk “menepi” sejenak tanpa harus pergi jauh, Tanjung Kait masih setia menunggu dengan segala kesederhanaannya yang memikat.
Sudah siap untuk makan ikan bakar akhir pekan ini?
Baca juga:
Perak Tong Cave Temple Uji Stamina
Desa Tanjung Anom Tanjung Kait Tangerang
Baca juga:







