
Nyentrik atau Berpikir Positif? Pertanyaan ini menari-nari dalam pikiran saat seorang kawan meledek saya yang makin tua makin pilih-pilih teman. Dulu saya mungkin langsung termenung. Sekarang? Saya cuma tersenyum sambil mengintip cermin.
Habis mendapat pertanyaan tesebut, sesampai di rumah, saya memang langsung mampir ke muka cermin. Mungkin sedikit “unsecured” juga. Meneliti sisa-sisa jerawat, kerutan di bawah mata, dan uban yang makin betah nongkrong di kepala. Ya Tuhan, semoga tanda-tanda uzur ini membuat raga makin bijak, bukan makin masam. Apa lagi hanya menerima sindiran soal “nyentrik” tersebut.
Apakah benar saya semakin tua semakin nyentrik? Dalam artikel ini saya akan ajak Sobat JEI, berpikir lagi untuk memahami alasan mengapa saya lebih memilih menghindari si tukang gosip. Sebenarnya adalah strategi saya bertahan hidup tingkat tinggi. Kita akan belajar bersama tentang kaitan ajaib antara kewarasan emosi, detak jantung yang sehat, dan pilihan menyeleksi lingkungan sosial. Baca sampai bawah ya Sobat JEI 🙂
Filter Pertemanan di Usia Matang
Nyentrik atau berpikir positif, batasnya kadang memang setipis tisu. Saya akui, belakangan ini saya makin alergi mendengar keluhan tanpa ujung. Saya menolak keras mengakrabi tukang gosip. Karena saya berpikir, jika hari ini mereka menggosipkan orang lain, mungkin saja esok adalah giliran saya.
Apalagi saya paling tidak suka pada mereka yang hobi curiga dan gemar memicu permusuhan.
Hush, sana menyingkir! Bertahun-tahun menyelami lingkungan toksik mengajarkan saya satu hal mutlak. Segala hal negatif itu nol besar manfaatnya. Hidup hanya berjalan di tempat. Energi kita habis sekadar untuk menampung keluh kesah.
Ilmuwan psikologi dari Stanford University menyebut fenomena penyaringan teman ini sebagai Socioemotional Selectivity Theory. Manusia secara alami akan membuang drama demi mencari ketenangan batin seiring bertambahnya usia.
Saya mulai fokus pada hubungan yang bermakna saja. Jadi, saat mendengar ujaran kawan tadi, batin saya berbisik girang. Kalau menyaring teman toksik itu membuat saya tampak berbeda, baiklah. Saya bangga menyandang gelar tua-tua nyentrik!
Menolak Jantungan, Ini Bukti Ilmiah Keajaiban Emosi
Tahun ini angka di kue ulang tahun saya menyentuh 61. Demi merawat raga ini, biar tetap bisa trekking dan traveling, saya memasang radar proteksi kuat-kuat. Biarkan orang lain abai soal kaitan erat antara emosi dan kesehatan fisik. Saya tidak mau ikut-ikutan gegabah.
Riset mendalam dari Profesor Redford Williams di Duke University membuka mata saya lebar-lebar. Beliau membuktikan sifat bermusuhan tinggi mengarah pada kerentanan penyakit jantung koroner di usia 50.
Sangat mengerikan, bukan? Orang yang memelihara permusuhan punya risiko 4 hingga 7 kali lipat lebih besar merusak jantungnya sendiri. Otak merespons permusuhan dengan melepaskan hormon stres seperti kortisol secara masif. Akibatnya, tekanan darah meroket.
Amit-amit jabang bayi deh ya. Saya ogah ogah banget jantungan gara-gara meladeni drama tak penting! Nyentrik atau berpikir positif? Saya jelas mengambil opsi kedua demi jantung yang berdetak riang sampai lama.
Menghalau Virus Toksik Demi Imun Tubuh
Menjadi nyentrik ini juga saya pilih bukan tanpa alasan. Masalah utamanya ada pada radar empati saya yang terlalu peka. Saya sangat mudah menyerap emosi orang lain. Entah itu positif atau negatif.
Ilmuwan saraf menyebut fenomena ini sebagai emotional contagion, hasil kerja sel cermin (mirror neuron) di otak kita. Kalau teman kumpul suka menggerutu, pesimis, dan hilang harapan, saya pasti ikut tertular murung.
Permusuhan memicu stres akut yang membangkitkan hormon pemicu rasa sedih. Jadi, daripada menyetor nyawa pelan-pelan, lebih baik saya menghindari sumber penyakitnya, bukan?
Lagian, ini juga adalah sebuah perubahan strategis yang hakiki. Ketimbang menambah daftar panjang orang stres di Indonesia, bukannya lebih asyik mencari pergaulan positif? Lebih asik mendekatkan diri pada alam, trekking atau traveling?
Sains modern memiliki cabang ilmu psikoneuroimunologi yang mempelajari hal ini. Pikiran bahagia terbukti mendongkrak sistem kekebalan tubuh. Saat pikiran buruk berkurang, raga ikut berdendang sehat. Nyentrik atau berpikir positif? Kini sebagian temtan-teman saya sudah maklum mengapa saya gemar menyortir obrolan.
Mencegah Jauh Lebih Murah
Bagi saya, berkomunikasi dengan mereka yang beraura hangat sungguh melegakan dada. Mereka tak harus berstatus hebat. Cukup mereka yang tahu cara mensyukuri napas hari ini. Saya sering ngobrol dengan ibu-ibu penjual sayur di pasar. Ngbrol dengan driver ojol yang kebutlan saya tumpangi. Pokoknya siapapun yang membawa aura hangat, akan cocok berkawan dengan saya.
Karena teman-teman pasti sudah tahu kan ya, bahwa mencegah penyakit selalu lebih murah daripada menebus resep di apotek. Saya memantapkan tekad seratus persen. Menghindari manusia negatif adalah jalan ninja saya sekarang. Biar kerutan di wajah bertambah, asalkan hati selalu mekar berbunga, itu lah goal hari tua saya.
eviindrawanto.com
