
Mengupas pesona uang selalu berhasil memancing rasa penasaran kita, Sobat JEI. Kalian pasti pernah tersenyum membaca tulisan ada uang abang sayang di bak belakang truk, lalu mendadak merenung, mengapa kita begitu terikat pada uang? Artikel ini merangkum jawabannya secara tuntas untuk kalian. Kita membahas evolusi alat tukar, fungsi esensialnya bagi manusia, hingga sisi psikologis yang membuat kertas bernilai ini mengendalikan peradaban modern kita. Yuk, kita mulai!
Realita Ada Uang Abang Sayang di Jalanan
Sebagai travel blogger, saya sering mengamati hal-hal unik saat berada di jalan. Suatu hari saat melaju ke Semarang, saya mengekor sebuah truk besar berselubung terpal. Tulisan nyeleneh di bak belakangnya langsung mencuri perhatian saya: ada uang abang sayang, tidak ada uang abang ditendang.
Sopir truk pantura memang punya cara kreatif mengekspresikan kerasnya dunia. Ada lagi yang menulis begini, yang membuat saya tertawa saat membaca. Seperti : “Kutunggu jandamu, 2 anak cukup, 2 istri bangkrut, Cinta abang untuk Eneng seorang..”. Biasanya juga disertai berbagai gambar perempuan berpose seronok. Namun saya sadar, tulisan bernada humor ini sebenarnya memuat kebenaran pragmatis.
Itu sejalan dengan pemikiran Dr. Aaron Ahuvia, seorang pakar psikologi konsumen, menemukan bahwa manusia modern secara tidak sadar sering menyamakan kepemilikan uang dengan keamanan dan kapasitas mencintai. Jadi, saat kita kekurangan finansial, urusan kasih sayang kadang ikut tersendat karena stres menutupi logika.
Mengupas Pesona Uang Lewat Sejarah Ekonomi
Mari kita mengupas pesona uang dari kacamata masa lalu. Ilmu ekonomi tradisional awalnya melihat uang sekadar alat tukar. Masyarakat zaman dahulu sepakat menggunakan kerang, roti, atau kambing sebagai standar pembayaran sah.
Coba bayangkan ribetnya sistem barter murni. Saat saya butuh kemeja katun, masa saya harus memanggul segoni gula aren semut ke pasar? Sangat tidak praktis! Antropolog David Graeber dalam riset mendalamnya, Debt: The First 5000 Years, membuktikan bahwa manusia purba menciptakan sistem utang dan uang justru untuk menghindari kerumitan barter yang sering tidak sinkron ini.
Tiga Fungsi Utama yang Mengubah Peradaban
Sejarawan ekonomi Niall Ferguson mencatat dalam bukunya The Ascent of Money bahwa uang menggerakkan seluruh lini kemajuan manusia. Uang bekerja melalui tiga fungsi utama. Pertama, uang bertindak sebagai medium pertukaran. Uang benar-benar mengatasi masalah tanpa menciptakan masalah baru.
Kedua, uang berfungsi sebagai satuan hitung. Kita menggunakannya untuk menakar harga barang secara akurat dan menghitung nilai kekayaan. Ketiga, uang bertindak sebagai penyimpan nilai. Saat penjual madu hutan menerima pembayaran hari ini, ia bisa menyimpannya dengan aman untuk membeli kebutuhan lain pada bulan depan.
Mengapa Kita Begitu Terikat Pada Uang Secara Emosional?
Lalu, mengapa kita begitu terikat pada uang sampai menyentuh level emosional? Selain menaikkan status sosial, pesona terkuat uang justru terletak pada ketiadaan identitas aslinya.
Pakar ekonomi perilaku Dan Ariely menyebut sifat ini sebagai fungibility (kesepadanan). Selembar uang seratus ribu tidak menyimpan riwayat pemilik sebelumnya. Uang memutus ikatan sejarah secara absolut. Sifat anonim ini pula yang sering merayu jiwa korup untuk menerima suap sekoper penuh, karena uang tidak pernah menghakimi asal-usul kelahirannya.
Baca juga:
Mengubah Nilai Abstrak Menjadi Angka Pasti
Uang juga punya sihir mengubah nilai kualitatif menjadi hitungan kuantitatif. Sosiolog Georg Simmel dalam karyanya The Philosophy of Money menegaskan bahwa uang memaksa manusia menakar segalanya dengan angka pasti.
Saya pernah melongo melihat seorang kolektor menawar lukisan karya Affandi milik kerabat saya. Ia berani membayar hampir satu miliar rupiah untuk kanvas berjudul “Teratai” yang sekilas tampak awut-awutan. Gila, bukan?
Para pengikut Robert Kiyosaki pasti setuju bahwa uang mewakili kebebasan individu. Uang memberi kita kuasa untuk memilih dan mengekspansi ruang sosial kita sesuka hati. Uang benar-benar mengekspresikan rasionalitas dunia modern secara amat sempurna.
Tips Menjaga Hubungan Sehat dengan Uang
Agar kalian tidak sekadar menjadi hamba uang, coba terapkan beberapa tips psikologis berikut:
- Pahami peran uang: Gunakan uang sebagai alat bantu mempermudah hidup, bukan tujuan akhir pencarian Anda.
- Kendalikan ego: Jangan biarkan gengsi sosial memaksa Anda mengeluarkan uang di luar batas kemampuan nalar.
- Beli pengalaman: Riset membuktikan bahwa menginvestasikan uang untuk traveling memberi kebahagiaan lebih awet daripada sekadar membeli barang mewah.
- Pisahkan emosi dari dompet: Jangan membuat keputusan belanja besar saat Anda sedang sangat sedih atau sangat gembira.
Selamat berburu, mendistribusikan, dan mengoleksi benda penuh pesona ini, Sobat JEI. Semoga kewarasan finansial kita selalu terjaga!
eviindrawanto.com
