Key Takeaways
- Pasar Raya Kota Bima adalah jantung kuliner yang mengungkapkan budaya dan identitas lokal.
- Rasa asam mendominasi masakan tradisional Bima, berfungsi sebagai penambah selera dan pengawet alami.
- Musi dan daun kosambi adalah rempah khas Bima yang memiliki khasiat kesehatan dan mengenhance rasa masakan.
- Uta Mbeca Ro’o Parong menjadi kuliner harian yang sehat dan terjangkau bagi masyarakat Bima.
- Pasar tradisional Bima menawarkan pengalaman budaya yang kaya dan hidangan otentik yang sulit ditemukan di tempat lain.
Pernahkah Teman-teman merasa perjalanan itu hambar hanya karena lidah tak diajak bertualang? Hari pertama saya menginjakkan kaki di tanah “Dou Mbojo”, sebuah pertanyaan sederhana dari Mbak Fadlun di pagi buta mengubah segalanya: “Mbak Evi, mau ikut ke pasar?”
Seketika, naluri “emak-emak” saya menyala. Pasar bukan sekadar tempat jual beli, melainkan panggung sandiwara kehidupan paling jujur. Dan benar saja, di sanalah saya menemukan rahasia dapur yang membuat makanan khas Bima begitu memikat dan sulit dilupakan. Jika Anda pikir kuliner Nusa Tenggara Barat (NTB) hanya tentang Ayam Taliwang, bersiaplah, karena Bima punya kejutan rasa asam-pedas yang akan membuat air liur Anda menetes bahkan sebelum suapan pertama.
Mari saya ajak Anda menelusuri lorong becek Pasar Raya Kota Bima, menyingkap eksotisme rempah yang mungkin belum pernah Anda dengar seumur hidup.
Menjelajah Jantung Rasa di Pasar Raya Kota Bima
Seperti halnya saat saya terkesima di Pasar Tradisional Kandangan, Kalimantan Selatan, pasar di Bima adalah “laboratorium” budaya yang hidup. Di sini, kuliner Bima bukan sekadar pengisi perut, tapi identitas.
Anda mungkin bisa mencapai pasar ini dengan ojek, tapi saran teman-teman Makembo untuk menaiki Benhur (delman khas Bima) adalah keputusan terbaik. Dengan ongkos Rp20.000, sensasi angin pagi di atas gerobak roda mobil yang ditarik kuda ini menjadi pembuka cerita yang manis.
Begitu sampai, riuh rendah pedagang menyambut. “Kita mau masuk TV!” kelakar mereka saat melihat kamera kami. Keramahan ini adalah bumbu rahasia yang tak tertulis dalam resep mana pun.
Baca juga Perjalanan Dari Kota Bima ke Desa Sangiang Wera
Dominasi Rasa Asam: Filosofi Kuliner Tanah Mbojo

Secara garis besar, lidah orang Bima sangat akrab dengan rasa asam yang menyegarkan. Ini bukan kebetulan. Berdasarkan deep research budaya kuliner setempat, dominasi rasa asam (acid) dalam masakan tradisional Bima—seperti pada Bandeng Bakar yang saya nikmati—ternyata berfungsi ganda: sebagai penambah nafsu makan di tengah cuaca Bima yang terik, dan sebagai pengawet alami.
Di pasar ini, saya menemukan parade buah asam yang luar biasa:
- Asam Jawa Bima: Konon rasanya lebih tajam dan “nendang” dibanding asam di Jawa. Inilah kunci kelezatan Uta Palumara Londe (bandeng kuah santan) dan Saronco Janga (sop asam ayam).
- Fu’u Wua Kawi (Kawista): Buah dari kerabat jeruk-jerukan (Rutaceae) ini adalah primadona Rujak Bima. Aromanya khas, perpaduan manis-asam yang difermentasi, sering hadir dalam tradisi Kiri Loko (ritual tujuh bulanan).
Baca juga Jalan-jalan ke Bima Nusa Tenggara Barat
Harta Karun Rempah: Musi dan Daun Kosambi
Mata saya tertumbuk pada bunga kering misterius. Penjual menyebutnya Musi. Bukan sekadar bumbu, Musi adalah rempah ajaib yang menghangatkan badan dan melancarkan peredaran darah. Sebuah kearifan lokal yang relevan dengan tren kesehatan tahun 2026 di mana functional food makin dicari.
Tak jauh dari situ, ada bola-bola daun kering. Ternyata itu Daun Kosambi. Daun ini adalah “jodoh” sehidup semati bagi daging rusa. Masakan bernama Uta Mbecca Ro’o Sambi (daging rusa masak daun kosambi) menggunakan daun ini untuk melunakkan daging sekaligus memberikan aroma asap yang unik.
Baca juga Komplek Pemakaman Kesultanan Bima Dana Traha
Uta Mbeca Ro’o Parong: Superfood yang Merakyat
“Orang Mbojo tidak akan pernah kelaparan selama daun kelor masih melambai.”
Pepatah ini membuat saya tertawa, namun juga merenung. Di Jawa, kelor lekat dengan mistis. Di Bima, ini adalah menu harian yang lezat. Dan tahukah Anda? Dunia medis modern mengakui kelor sebagai superfood pencegah stunting dan kaya antioksidan.
Di Bima, sayur kelor naik kelas menjadi Uta Mbeca Ro’o Parong. Diracik bersama bunga labu parang dan buah oyong, sayur bening ini rasanya jauh lebih gurih daripada bayam. Dengan harga Rp5.000 per bungkus di pasar, ini adalah kuliner sehat murah meriah yang wajib dicoba para health enthusiast.
Kelezatan Mangge Mada dan Sambal Fermentasi
Salah satu bintang panggung kuliner Bima adalah Mangge Mada. Jantung pisang yang di daerah lain mungkin dibuang, di sini disulap menjadi gulai santan kuning yang creamy. Dimasak dengan bumbu rempah khas Bima, belimbing sayur, dan udang, rasanya meledak di mulut!
Dan jangan lupa oleh-oleh wajib: Sia Dungga. Ini adalah sambal fermentasi yang diolah dengan jeruk purut dan garam. Rasanya? Asam, asin, pedas, dan memiliki aroma fermentasi yang bikin ketagihan. Sangat cocok dibawa pulang sebagai oleh-oleh khas Bima yang awet.
Ritual Wa’a Mama: Lebih dari Sekadar Makan Sirih
Di tengah pasar, saya melihat transaksi budaya yang sakral. Penjual sirih dan pinang berderet rapi. Di Bima, tradisi Wa’a Mama (mengantar sirih) adalah bagian inti dari lamaran pernikahan.
Paket seserahan ini berisi:
- Nahi (sirih)
- U’a (pinang)
- Tambaku (tembakau)
- Tagambe & Afu Mama (kapur sirih)
Ini bukan sekadar simbol, tapi perekat sosial. Bahkan di tahun 2026 ini, saat modernisasi menggempur, melihat kaum ibu menginang di pasar adalah pemandangan eksotis yang menenangkan hati.
Surga Olahan Ikan (Uta)
Bagi orang Bima, makan tanpa ikan sama dengan belum makan. Uniknya, kata “Uta” (ikan) digunakan untuk menyebut “lauk” secara umum.
- Ngaha kai uta au? (Makan pakai ikan apa?)
- Ngaha kai uta janga (Makan pakai ikan ayam — maksudnya lauk ayam).
Di pasar, ikan teri fermentasi dan tongkol asap berjejer rapi. Teknik pengawetan tradisional menggunakan garam tanpa formalin ini menjamin keamanan pangan, isu yang sangat krusial bagi wisatawan modern.
Tips Wisata Kuliner Bima 2026
Bima kini bukan lagi sekadar kota transit. Dengan geliat pariwisata “Bima Raya” yang kian pesat, banyak spot kuliner baru bermunculan. Namun, pasar tradisional tetap menjadi tempat terbaik untuk merasakan denyut nadi masyarakat “Dou Mbojo”.
Rekomendasi Tambahan:
- Susu Kuda Liar Bima: Jangan lupa cari ini. Riset terbaru kian mengukuhkan manfaatnya untuk pencernaan dan vitalitas karena proses fermentasi alaminya.
- Bingka Dolu: Kue basah favorit para Sultan Bima dahulu kala, teksturnya lembut dan manis, cocok untuk penutup petualangan pedas Anda.
Ingin membuktikan keramahan Indonesia? Datanglah ke Pasar Tradisional Bima. Mereka menyambut dengan tangan terbuka, membiarkan kita memotret, bertanya, bahkan menyentuh dagangan meski tak membeli. Sebuah kemewahan interaksi yang mahal harganya di kota besar.
Foto-Foto Harta karun Kuliner Bima di Pasar Bima

Baca juga:



