
Mengelola emosi yang sedang campur aduk alias rollercoaster memang bukan perkara mudah. Pernahkah Sobat JEI merasa sedih, gembira, dan hampa berkecamuk menjadi satu di waktu bersamaan? Rasanya membingungkan. Shalat mungkin meredakannya sejenak, namun seringkali kita kembali tenggelam dalam pusaran rasa yang sama. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa menumpuk perasaan itu ibarat menyimpan bom waktu bagi kesehatan mental, dan kenapa “curhat” adalah mekanisme pertahanan diri yang krusial.
Dilema Curhat: Antara Logika Bapak dan Perasaan Ibu
Kemarin, perasaan saya tak menentu. Karena butuh “keranjang sampah” emosional, akhirnya saya menelepon Bapak. Kenapa bukan Ibu? Nah, ini strategi regulasi emosi tingkat lanjut.
Bapak saya, veteran kehidupan dengan pengalaman lebih dari 40 tahun menjadi ayah, langsung membaca tanda-tanda. Dia tahu ke mana arah angin bertiup. Katup emosi saya yang longgar langsung terbuka lebar kalau sudah bicara dengan beliau.
Saya sengaja menghindari Ibu di momen krusial ini. Mengalirkan emosi negatif ke ruang perasaan Ibu yang sempit akan berakibat fatal. Ibu tidak akan bisa tidur, makan tak enak, dan nasi pun terasa seperti sekam. Alih-alih menenangkan, Ibu biasanya akan menangis lebih dulu daripada saya. Jadi, bicara dengan Bapak adalah opsi paling logis untuk menjaga kestabilan emosi keluarga.
Baca juga:
Persepsi Orang Tua tentang Air Mata Dewasa
Apa yang terjadi kemudian? Bapak beranggapan bahwa air mata anak dewasa adalah sinyal bahaya besar. Bagi beliau, tangisan hanya wajar untuk balita; bagi orang dewasa, itu lambang penderitaan.
Beliau tetap tenang. Pertanyaan lembut tapi terus bersambung: “Ada masalah apa?”, “Suami bagaimana?”, “Bisnis lancar?”. Padahal, saya tidak punya masalah di tiga sektor itu. Saya hanya lelah. Kelelahan mental (burnout) akibat pekerjaan menumpuk seringkali menjadi pemicu utama mood swing.
Menurut Dr. John Gottman, psikolog terkenal, kemampuan orang tua atau pendengar untuk melakukan emotion coaching (memvalidasi perasaan tanpa langsung menghakimi atau panik) sangat penting. Reaksi panik orang tua seringkali justru menambah beban kognitif pada anak yang sedang stres.
Emosi Adalah Alat Bertahan Hidup, Bukan Musuh
Manusia terlahir dengan sistem limbik di otak yang memproduksi emosi. Allah SWT membekali kita perangkat ini bukan tanpa alasan. Emosi ibarat pacul bagi petani; alat untuk merambah alam dan bertahan dari marabahaya.
Sayangnya, emosi sering menjadi aspek yang paling disalahpahami. Padahal, menurut riset neurosains, emosi adalah sinyal data.
Analogi Tangki Gas dan Respon Otak
Mari kita beranalogi. Emosi manusia itu ibarat tangki gas. Inputnya datang dari pengalaman sensorik panca indra.
- Contoh Primitif: Kita lari atau membeku saat melihat ular. Ini adalah respon fight or flight yang dipicu oleh Amigdala di otak.
- Konteks Modern: Di era digital, ancamannya bukan lagi ular, tapi status Facebook teman yang “nyelekit”.
Otak kita tidak bisa membedakan ancaman fisik (ular) dan ancaman sosial (sindiran). Keduanya memicu reaksi kimia yang sama dan masuk ke “tangki emosi” kita.
Sebuah studi dari University of California, Berkeley menemukan bahwa otak manusia memproses rasa sakit sosial (seperti penolakan atau penghinaan di medsos) di area yang sama dengan rasa sakit fisik. Inilah kenapa hati yang “panas” rasanya benar-benar sakit.
Bahaya Menahan Emosi: Filosofi “Menahan Kentut”
Idealnya, gas dalam tangki harus kita buang agar tidak meledak. Namun, kita hidup dalam tatanan sosial yang rumit. Tuntutan profesi, wibawa, dan etika memaksa kita memasang “topeng”.
Dalam setting sosial ini, berbagi perasaan seringkali dianggap tabu. Rasanya persis seperti menahan kentut di dalam lift.
- Kita menahannya demi sopan santun.
- Membiarkan satu saja lolos akan mengganggu ketentraman umum.
- Membuat orang lain tidak nyaman.
Kebiasaan menahan ekspresi emosi ini sudah kita pelajari sejak sekolah dasar. Kita dipaksa tersenyum walau di dalam hati sedang terjadi Perang Dunia III. Usus melilit, jantung serasa direndam bumbu pedas sebelum dikremasi.
Dampak Fatal Supresi Emosi bagi Tubuh
Namun, menahan “gas beracun” ini amat berbahaya. Dampak memendam emosi tidak main-main.
- Efek Psikologis: Menimbulkan kecemasan kronis dan depresi.
- Efek Fisiologis (Psikosomatis): Magma emosi yang tidak keluar akan memadat dan meledak menjadi penyakit fisik. Mulai dari gangguan pencernaan, migrain, hingga masalah jantung.
Penelitian dari Harvard School of Public Health menunjukkan bahwa orang yang mengekspresikan kemarahan secara konstruktif memiliki risiko penyakit jantung lebih rendah dibandingkan mereka yang memendamnya. Emosi yang ditekan meningkatkan kadar hormon kortisol (hormon stres) yang merusak tubuh secara perlahan.
Solusi: Katarsis dan Pelepasan yang Sehat
Seperti gunung berapi, kita tidak boleh membiarkan magma memadat lalu meledak menghancurkan segalanya. Kita butuh katarsis atau pelepasan emosi yang rutin.
Beruntunglah jika Sobat JEI memiliki orang-orang tercinta. Percayakan perasaan terdalam Anda kepada mereka. Entah itu kebahagiaan, ketakutan, atau sekadar kekesalan remeh.
Tips Praktis Melepas Emosi :
- Validasi Perasaan: Akui bahwa Anda sedang sedih atau marah. Jangan disangkal.
- Cari Pendengar Aman: Seperti saya memilih Bapak daripada Ibu untuk situasi tertentu. Pilihlah orang yang bisa mendengarkan tanpa menambah drama.
- Menangis: Air mata mengandung hormon stres yang dikeluarkan tubuh. Menangis adalah detoksifikasi alami.
- Tertawa: Setelah menangis, carilah humor.
Ingatlah pesan Bob Newhart: “Laughter gives us distance. It allows us to step back from an event, deal with it and then move on.” (Tawa memberi kita jarak. Ia mengizinkan kita mundur sejenak dari masalah, menghadapinya, lalu melangkah maju).
Jadi Sobat JEI, jangan biarkan tangki emosimu meledak. Lepaskan perlahan, dan hiduplah lebih ringan!
eviindrawanto.com
