Daftar isi
Yang saya maksud dengan kambing hitam di sini bukan tentang kambing berbulu hitam. Seperti yang sedang digembalakan anak-anak Sumba dalam foto di atas.
Mencari Kambing Hitam
Saya jarang menonton TV, apalagi menonton sinetron. Tapi suatu sore saya membuat pengecualian. Saat iseng menyalakan TV, layar langsung menampilkan sinetron impor. Wajah aktornya bagus sekali, bagai terbuat dari rautan kayu jati yang dipoles licin.
Cuma saja, karakter yang dimainkan aktor itu jelek sekali. Saat bangun kesiangan, seluruh kru rumah tangga kena damprat. Mengapa mereka tak membangunkannya lebih awal? Saat akan berangkat pun dia berteriak, mengapa sopir tidak standby? Masih belum puas jadi neraka bagi orang lain, sopirnya disuruh memencet klakson kencang-kencang agar mobil lain minggir.
Pokoknya pusing menonton anak orang kaya itu. Ia melemparkan kesalahan ke sana-kemari. Padahal kalau tidak main game sampai malam, dia tak perlu marah-marah seperti itu. Perilaku ini mengingatkan kita pada satu metafora klasik: Mencari Kambing Hitam.
Apa Itu Kambing Hitam?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kambing hitam artinya adalah orang atau peristiwa yang sebenarnya tidak bersalah, tapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan.
Istilah ini bukan asli Indonesia. Dalam bahasa Inggris disebut Scapegoat. Asal-usulnya bisa ditelusuri hingga ke teks-teks kuno. Dalam budaya Ibrani kuno (dan tercatat dalam Alkitab/Kitab Imamat), ada ritual di mana seekor kambing dipilih secara simbolis untuk dibebani dosa-dosa masyarakat, lalu dilepaskan ke padang gurun (atau didorong ke jurang). Tujuannya agar komunitas merasa bersih dari dosa.
Sayangnya, ritual kuno ini bertransformasi menjadi perilaku toksik di kehidupan modern.
Mengapa Kita Suka Mencari Kambing Hitam?
Pertanyaannya, kenapa manusia—mungkin termasuk Anda dan saya—begitu mudah menunjuk jari ke orang lain?
Jika kita bedah secara psikologis, ini adalah bentuk Mekanisme Pertahanan Diri (Defense Mechanism). Mengakui kesalahan itu menyakitkan bagi ego kita. Rasanya malu, tidak kompeten, atau lemah.
Otak kita, yang tidak nyaman dengan perasaan bersalah (sebuah kondisi yang disebut Cognitive Dissonance), secara otomatis mencari jalan keluar tercepat: proyeksikan kesalahan itu keluar. Dengan menyalahkan orang lain, kita merasa “aman” dan citra diri kita terjaga.
Dari Sinetron ke Dunia Nyata
Perilaku “mencari kambing hitam” tidak hanya milik tokoh sinetron antagonis. Ini terjadi di sekeliling kita, bahkan dalam skala yang lebih serius:
- Politik Kantor: Pernahkah melihat atasan yang strateginya gagal, lalu menyalahkan tim eksekutor yang “kurang gesit”? Atau rekan kerja yang telat deadline tapi menyalahkan koneksi internet atau divisi lain? Ini adalah upaya menutupi ketidakmampuan diri sendiri.
- Media Sosial: Di era digital, netizen sering beramai-ramai mencari satu sosok untuk disalahkan atas isu sosial yang kompleks. Kita merasa puas setelah menghujat satu “kambing hitam”, padahal masalah aslinya mungkin sistemik dan rumit.
- Refleksi Diri Saya Sendiri: Saya pun tidak luput. Dulu, saya bercita-cita jadi penulis. Tapi saya menemukan banyak alasan untuk tidak mengerjakannya: tidak ada fasilitas, terlalu sibuk, lelah, atau tidak punya ide.Padahal, itu semua hanya kambing hitam untuk melindungi egoisme saya. Saya takut tulisan saya jelek, saya takut gagal. Lebih mudah menyalahkan “waktu yang sempit” daripada mengakui bahwa saya kurang disiplin.
Harga Mahal Sebuah Penyangkalan
Mungkin rasanya lega sesaat ketika berhasil menyalahkan keadaan. Tapi, ada harga mahal yang harus dibayar:
- Stagnasi Diri (Jalan di Tempat): Orang yang selalu menyalahkan faktor eksternal tidak akan pernah belajar. Kita kehilangan momen berharga untuk evaluasi diri.
- Kehilangan Kepercayaan: Dalam hubungan (baik rumah tangga maupun pekerjaan), kebiasaan menyalahkan akan menggerus rasa percaya. Siapa yang mau bekerja dengan orang yang selalu “cuci tangan”?
Mengubah Pola Pikir: Dari Korban Menjadi Pemegang Kendali
Lalu, apa yang harus ditambahkan agar hidup kita lebih berkualitas dan berhenti mencari kambing hitam? Jawabannya adalah mengubah Locus of Control.
Alih-alih memiliki External Locus of Control (merasa hidup dikendalikan oleh nasib, orang lain, atau keadaan), mulailah bangun Internal Locus of Control.
Langkah praktisnya disebut Radical Ownership (Kepemilikan Radikal):
- Saat terjadi masalah, tanyakan dulu: “Apa peran saya dalam kekacauan ini?” (Meskipun peran Anda hanya 5%, akui itu).
- Ganti kalimat “Saya telat karena macet” menjadi “Saya telat karena saya tidak berangkat lebih awal untuk mengantisipasi macet.”
- Berhenti mengeluh tentang masalah, mulailah menawarkan solusi.
Jadi, Gimana?
Sebuah pepatah Tiongkok kuno pernah berkata:
“Dia yang menyalahkan orang lain memiliki perjalanan panjang di depannya. Dia yang menyalahkan dirinya sendiri sudah menempuh separuh jalan. Dia yang tidak menyalahkan siapa pun, telah sampai di tujuan.”
Menarik ya merenungi arti kambing hitam ini. Pada akhirnya, menolak bertanggung jawab terhadap kesalahan sendiri sama saja membohongi diri sendiri. Jadi, kapan terakhir kali teman-teman menangkap basah diri sendiri sedang mencari kambing hitam?
@eviindrawanto
Baca juga:


