
Membedah branding Volendam benar-benar membuka mata saya tentang bagaimana sebuah desa nelayan jadi ikon dunia. Artikel ini merangkum kisah seru perjalanan saya menembus dinginnya musim semi Belanda, membongkar strategi wirausaha komunal yang jenius, hingga rahasia di balik tata kota tua yang membius jutaan turis. Mari kita bahas tuntas bagaimana ekosistem bisnis pesisir ini bekerja, Sobat JEI!
Sore yang Dingin dan Romantis di Schipol
eviindrawanto.com – Pesawat mendarat di Bandara Schiphol tepat pukul dua sore waktu setempat. Bulan April di Amsterdam memang sudah masuk musim semi. Tapi percayalah, udara dinginnya masih sukses menggigit tulang tua saya.
Saya langsung merasa benar-benar berada di Eropa saat melihat bendera Belanda berkibar berdampingan dengan bendera Uni Eropa. Cuaca mendung dan gerimis tipis membasahi pelataran bandara. Suasana sore itu terasa makin beku tapi syahdu.
Kami bergegas menuju Aankomstpassage, area jalan di lantai dasar depan aula kedatangan. Kami mau mengambil mobil sewaan untuk road trip 14 hari ke depan. Anak bungsu saya yang mencetuskan ide luar biasa ini. Dia ingin menjelajah jalur anti-mainstream Eropa. Menyusuri pedesaan dengan mobil tentu lebih bebas.
Menjelang sore, anak saya akhirnya menemukan mobil sewaannya. Menariknya, kami tidak bertemu satu manusia pun dari pihak rental! Kami melakukan semua transaksi dan negosiasi murni lewat email dan aplikasi. Luar biasa efisien.
Destinasi pertama kami sore itu adalah Volendam. Ini adalah kunjungan kedua saya sejak tahun 2014. Tujuan utamanya sekadar mampir sebelum bermalam di Semenanjung Marken. Tapi, saya juga ingin memamerkan tempat ikonis ini kepada anggota rombongan yang baru pertama kali merumput di Belanda.
Mengapa Harus Membedah Branding Volendam?

Sobat JEI pasti sudah sering membaca ulasan tentang pesona visual Volendam di internet. Tapi kali ini, saya sengaja mengajak kalian menepi sejenak. Mari membedah branding Volendam murni dari kacamata wirausaha pariwisata.
Mengapa hanya Volendam yang sukses besar? Padahal Indonesia juga punya ribuan desa pesisir yang budayanya tak kalah eksotis, membentang dari Kepulauan Mentawai hingga pesisir Lampung. Jawabannya ada pada kejeniusan warga lokal melakukan komodifikasi budaya.
Pakar sosiologi pariwisata, Dean MacCannell, menyebut fenomena ini sebagai konsep staged authenticity atau keaslian yang sengaja dipentaskan. Warga Volendam tidak sekadar menjual pemandangan masa lalu. Mereka sukses membangun ekosistem bisnis terintegrasi yang sangat keren.
Konsistensi Visual: Kunci Desa Nelayan Jadi Ikon Dunia
Volendam tidak pernah bermimpi menjadi semegah Amsterdam atau Rotterdam. Mereka tahu persis kekuatan mereka. Dalam dunia bisnis, pakar pemasaran legendaris Philip Kotler menyebut strategi ini sebagai penguasaan niche market yang sangat tajam.
Etalase Hidup yang Memanjakan Mata
Saya sangat menikmati momen mengamati rumah-rumah di sepanjang pelabuhan. Bangunan bergaya vernakular ini memamerkan cat hijau tua, coklat terakota, berpadu garis putih bersih. Atap pelana dari bata merah menyimbolkan harmoni dan kekompakan masyarakat pesisir masa lalu.
Peneliti tata kota modern sepakat bahwa keseragaman fasad bangunan ampuh menciptakan sense of place atau memori spasial yang kuat bagi pengunjung. Warga menjaga konsistensi visual ini hingga ke detail terkecil.
Jendela besar tanpa tirai sengaja memamerkan interior rapi, pajangan keramik Delft blue, hingga miniatur kapal. Transparansi ini seolah merepresentasikan kebanggaan lokal warga. Merawat aset otentik secara kolektif inilah strategi wirausaha pariwisata yang brilian.
Pelabuhan Abad ke-19 sebagai Teater Terbuka

Dari area perumahan, saya melangkah mendekati dermaga tempat kapal-kapal bersandar. Angin Laut Utara bertiup makin kencang! Saya buru-buru merapatkan jaket dan memasang tudung kepala. Matahari sore memang bersinar lembut, tapi hawanya ampun-ampunan dinginnya.
Pelabuhan ini adalah kunci utama saat kita membedah branding Volendam. Dermaga ini kurang lebih masih berwujud sama seperti abad ke-19. Ini bukan wilayah yang tertinggal zaman, melainkan mahakarya nostalgia marketing.
Pakar ekonomi pengalaman (Experience Economy), B. Joseph Pine II, pernah menegaskan bahwa bisnis terbaik adalah yang mampu “mengorkestrasi pengalaman pelanggannya”.
Botter (kapal penangkap ikan kayu) warga rawat dengan sangat telaten bak properti teater raksasa. Decit tali kapal dan aroma khas Laut Utara sukses melempar imajinasi turis kembali ke masa lalu. Inilah bukti valid bagaimana desa nelayan jadi ikon dunia. Jangan pernah takut menjadi berbeda, karena keunikan adalah aset terkuat sebuah brand.
Baca juga:
Narasi Bisnis yang Menghidupkan Produk
Sobat JEI pasti familier dengan foto turis berbaju adat Belanda. Lengkap dengan topi hulletje dan sepatu kayu klompen. Artis hingga politikus kita rajin memajang foto serupa di ruang tamunya. Mengapa wisatawan rela antre panjang untuk berfoto?
Pakar kepemimpinan Simon Sinek selalu berpesan, “People don’t buy what you do; they buy why you do it.” Turis sejatinya tidak sedang menyewa sepotong baju tua. Mereka sedang membeli ilusi dan kebanggaan komunal agar bisa merasa menjadi warga lokal sejenak. Cerita dan narasi pemasaran inilah yang menyulap desa nelayan jadi ikon dunia.
Ekosistem Bisnis yang Saling Mengunci

Sore itu cacing di perut sudah demo minta jatah. Kami mampir ke resto kibbeling yang ramai turis. Manajemen resto bekerja super efisien. Saat antre, pelayan langsung menyodorkan daftar menu. Begitu dapat meja, pesanan datang, dan kami langsung kalap. Kami menuntaskan santapan lezat itu kurang dari satu jam!
Inilah poin penting saat kita membedah branding Volendam. Semua elemen wirausaha saling mengunci rapat. Profesor Michael Porter dari Harvard Business School menyebut ini sebagai keunggulan business cluster.
Kedai ikan, studio foto, pembuat keju, dan toko suvenir berjalan seirama. Tidak ada papan iklan norak yang saling sikut untuk menarik perhatian. Kolaborasi komunal ini menciptakan customer experience yang mulus tanpa cela.
Rombongan kami lanjut berburu suvenir. Menantu saya memilih sepasang klompen kayu. Sepatu ini sebenarnya keras dan kaku. Tapi, penjual sukses menanamkan narasi bahwa klompen adalah simbol ketangguhan leluhur menahan dinginnya air pasang. Sentuhan cerita otentik ini berhasil meroketkan value sepotong kayu pahatan biasa menjadi artefak budaya incaran turis global.
Refleksi Wirausaha untuk Sobat JEI
Hari semakin sore dan udara semakin beku. Tulang tua saya sudah menagih kasur empuk setelah dua hari non-stop di jalan. Sebelum masuk kembali ke mobil sewaan, saya menoleh sekali lagi ke arah dermaga. Entah kapan bisa kembali lagi ke sini.
Melihat kesuksesan ekosistem pesisir ini, saya sadar Indonesia memiliki potensi yang jauh melebihi ini. Kita hanya butuh keberanian mempertahankan keaslian lokal dan kemauan mengemas cerita secara kreatif. Menjadi wirausaha bukan sekadar perkara menjual barang. Ini tentang bagaimana kita membuat orang lain jatuh cinta pada value yang kita tawarkan.
Tips Berkunjung ke Volendam
- Pilih Waktu Tepat: Musim semi (April-Mei) adalah waktu terbaik, tapi tetap bawa jaket tebal atau windbreaker karena angin Laut Utara sangat kencang.
- Cicipi Kuliner Lokal: Jangan lewatkan Kibbeling (potongan ikan goreng tepung) hangat dan Haring segar di pinggir dermaga.
- Datang Lebih Pagi atau Sore: Hindari jam makan siang jika tidak ingin berdesakan dengan rombongan tour bus besar.
Cara Menuju ke Sini
- Menggunakan Mobil: Dari Amsterdam, jaraknya hanya sekitar 20 km (30 menit berkendara). Area parkir cukup luas di dekat pelabuhan (biasanya berbayar via mesin atau aplikasi).
- Transportasi Umum: Sobat JEI bisa naik bus nomor 316 dari stasiun Amsterdam Centraal. Bus berangkat setiap 15 menit dan langsung berhenti di pusat desa Volendam. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit saja. Lakukan tap-in dan tap-out menggunakan kartu OV-chipkaart atau kartu debit/kredit contactless.
eviindrawanto.com
