Kota-kota di mana pun berada adalah cermin karakter pengunjungnya. Kita dapat memandang mereka seperti manusia; ada yang baru kenal langsung jatuh cinta, ada pula yang butuh waktu untuk memahami. Bagi saya, Kuching adalah jenis yang pertama. Pintu kotanya seolah selalu terbuka, menyambut dengan hangat setiap kali saya kembali.
Di tahun 2026 ini, sekali lagi saya mendarat di Kuching International Airport. City of Hornbill ini masih menyimpan the untold stories yang selalu berbisik memanggil pulang. Namun, kali ini ada wajah baru yang berpadu harmonis dengan kenangan lama.
Jika teman-teman berencana ke sini, izinkan saya membagikan lukisan kenangan terbaru saya di kota yang kian cantik ini.
Ikon Kota yang Tak Lekang Waktu
Langit biru menaungi Kota Kuching saat saya tiba. Matahari penuh cahaya itu seperti cinta seorang ibu, menerangi ke mana pun kaki melangkah. Sambil menyeret koper, hati saya bersenandung, “Hai, aku kembali ke kotamu!”
Perjalanan dari bandara ke hotel di area Waterfront kini terasa lebih dinamis. Jika dulu kita hanya bergantung pada taksi atau e-hailing, di tahun 2026 ini Kuching sedang berbenah dengan transportasi modernnya. Teman-teman mungkin akan berpapasan dengan bus hidrogen atau melihat jalur Autonomous Rapid Transit (ART) yang mulai menghiasi wajah kota, sebuah kontras menarik dengan bangunan kolonial di sekitarnya.
Senja di Jembatan Darul Hana
Sore harinya, kaki saya otomatis melangkah ke tepi Sungai Sarawak. Dulu, Jembatan Darul Hana adalah primadona baru. Kini, ia telah menjadi legenda modern yang menyatukan dua sisi kota. Berdiri di deck-nya saat matahari perlahan tenggelam adalah ritual yang tak boleh teman-teman lewatkan.
Menikmati sunset di sini rasanya makin sempurna dengan mengikuti Sarawak Sunset River Cruise. Sensasinya berbeda saat melihat Kuching dari tengah sungai. Melintas di bawah Darul Hana, memandang Astanaโbekas istana keluarga Brookeโsaya kembali menemukan kebenaran bahwa sejarah tak pernah benar-benar mengucapkan selamat tinggal.
Menyapa Sejarah di Borneo Cultures Museum
Berjalan di Kuching berarti masuk ke lorong waktu. Selain sejarah keluarga Brooke yang dramatis (seperti dalam novel Sylvia, Queen of The Head Hunters yang pernah saya ulas), kini ada satu destinasi wajib yang harus teman-teman kunjungi: Borneo Cultures Museum.
Ini adalah pembaruan terbesar sejak kunjungan terakhir saya. Gedung ikonik berwarna emas ini berdiri megah, menyimpan kekayaan budaya Borneo yang luar biasa. Jika teman-teman ingin memahami jiwa Sarawakโdari kisah para pemburu kepala hingga kerajinan tangan yang rumitโhabiskanlah waktu di sini. Rasanya jauh lebih megah dan interaktif dibandingkan museum lamanya.
Legenda Santubong yang Abadi
Di sela-sela perjalanan, cerita rakyat tetap menjadi bumbu penyedap. Saat teman-teman melihat Gunung Santubong dan Sejinjang dari kejauhan, ingatlah kisah dua putri kayangan yang tragis karena cinta. Mitos Putri Santubong (si penenun) dan Putri Sejinjang (si penumbuk padi) yang saling cemburu memperebutkan Pangeran Serapi masih menjadi dongeng pengantar tidur yang menarik diceritakan oleh tour guide lokal.
Dua wanita yang bersaing dalam cinta memang jarang berakhir bahagia, bukan? ๐
Pasar Minggu Medan Niaga Satok: Bersih dan Berwarna
Untuk urusan belanja lokal, lupakan pasar yang becek. Medan Niaga Satok adalah pasar “budaya” yang wajib teman-teman sambangi. Di tahun 2026, tempat ini tetap menjadi pusat denyut nadi warga lokal.
Masuk ke sini seperti masuk ke galeri kehidupan. Teman-teman bisa menemukan Buah Dabai (zaitun-nya Sarawak) yang unik, buah Engkalak, hingga tanaman hias yang menyegarkan mata. Dan tentu saja, oleh-oleh! Jangan lupa membeli kerajinan tangan atau kain tenun khas Borneo. Ingat, suvenir itu pengikat kenangan, Jenderal!
Menyeberang ke Kampung Boyan demi Kek Lapis
Belum sah ke Kuching kalau belum naik perahu tambang. Hanya dengan biaya receh dan waktu sekitar tiga menit, kita bisa menyeberang dari Waterfront ke Kampung Boyan. Tujuan utamanya? Tentu saja berburu Kek Lapis Sarawak.
Gerai-gerai legendaris seperti Mira Cake House masih menjadi juara. Rak-raknya penuh dengan kue lapis warna-warni bak pelangi. Rasanya legit, basah, dan bikin nagih. Teman-teman bisa membelinya dalam kemasan kotak tebal yang aman dibawa terbang sampai ke Indonesia.
Di kampung ini juga, aroma ikan terubok masin (asin) akan menggoda selera. Ikan ini punya struktur daging yang lembap, beda dengan ikan asin biasa. Cocok sekali dijadikan oleh-oleh untuk dimasak di rumah.
Kuching: Pulang ke Kenangan
Sambil menikmati semangkuk Laksa Sarawak atau Mee Kolok di kedai kopi tiam yang riuh, saya membayangkan perjalanan panjang kota ini. Dari era Rajah Putih, pendudukan Jepang, hingga kini menjadi kota modern dengan bus hidrogennya, Kuching tetap mempertahankan jiwanya.
Ingatan kita tentang sebuah kota dilukis oleh pengalaman. Dan di tahun 2026 ini, saya memutuskan untuk kembali melukis kenangan manis di sini.
Jadi, kapan teman-teman menyusul melukis kenangan di Kota Kuching?
Artikel ini telah diperbarui pada Januari 2026 untuk relevansi informasi terkini.
- Baca juga di sini :ย ย Kuching di Akhir Septemberย
Sore di Kota Kuching
- Baca juga di sini :ย ย Rainforest World Music Festival 2018ย
Melukis Kenangan di Kota Kuching Lewat Dua Novel Sejarah
- Baca Melongok Kekayaanย ย Taman Nasional Bakoย
Ringkasan Novel Silvya, Queen of The Head Hunters
Ini cuplikan pembukaan novel Silvya, Queen of The Head Hunters, detik-detik terakhir keluarga Brooke meninggalkan Astana :
Pagi hari tanggal 24 September 1941, dua puluh satu meriam kerajaan melesat ke atas langit Kuching. Sesaat sebelum jam sembilan, sebelum gema terakhir meriam mati, Rajah Vyner dan Ranee Sylvia muncul dari Astana, istana kerajaan yang dibangun di seberang sungai. Dengan wajah serius mereka berjalan ke dermaga apung. Rajah, orang Inggris pemalu ini telah memerintah kerajaan hutan hujan di Kalimantan selama dua puluh empat tahun. Ia mengenakan white duck uniform dan solar topee yang tampak kikuk di tubuhnya. Ia melangkah di bawah payung kuning lambang kerajaan di Sarawak dan dipegang tinggi-tinggi oleh orang Melayu. Ranee mengenakan sarung kuning (kuning simbol bangsawan –evi), mengikuti beberapa langkah di belakang. Selain menjadi permaisuri, menurut adat, ia juga seorang budak bagi sang suami.
Cerita Mitos Gunung Santubong
Wisata Kota Tua Kuching
Pasar Minggu Medan Niaga Satok
Kampung Boyan dan Kek Lapis Sarawak
Baca juga:

























