
Key Takeaways
- Sultan Syarif Abdurrahman Masjid, juga dikenal sebagai Masjid Jami Pontianak, adalah landmark bersejarah di Pontianak yang menyimpan aura magis.
- Masjid ini merupakan titik nol Kota Pontianak, didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman pada tahun 1771 sebelum Keraton Kadriah.
- Masjid ini memiliki arsitektur yang unik, dibangun dari kayu belian berkualitas tinggi dan memiliki enam pilar raksasa.
- Pengunjung dapat menjangkau masjid melalui jalur darat atau lebih seru menggunakan jalur sungai, menikmati pemandangan Sungai Kapuas.
- Untuk pengalaman terbaik, kunjungi saat sore hari dan gunakan pakaian sopan karena masjid ini masih aktif sebagai tempat ibadah.
Masjid Sultan Syarif Abdurrahman atau yang lebih akrab disebut warga lokal sebagai Masjid Jami Pontianak, bukan sekadar bangunan kayu biasa. Bagi Teman-teman yang menyukai wisata religi Pontianak, tempat ini adalah “jantung” sejarah kota yang berdenyut di tepian sungai terpanjang di Indonesia. Saat menginjakkan kaki di masjid tertua di Pontianak ini, ada aura magis yang menyergap, membawa imajinasi kita melayang ke masa lampau kesultanan Melayu.
Bagaimana tidak? Masjid tepi Sungai Kapuas ini adalah saksi bisu berdirinya Kota Pontianak. Di sinilah saya menemukan ketenangan di tengah derasnya hujan dan kehangatan cerita dari penjaganya.
Pesona Masjid Jami Pontianak di Kala Senja

Sore itu, kaki saya mendarat di pelataran Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Cuaca sedang syahdu, gerimis turun meningkahi suasana, seolah menyambut kedatangan kami di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Pontianak Timur.
Sebelum masuk, saya sempatkan diri berdiri di jembatan penghubung perkampungan. Pemandangannya sungguh romantis! Cahaya sore kekuningan jatuh memantul di atas air Sungai Kapuas yang kecoklatan, menciptakan siluet perahu-perahu kecil yang melintas. Suasana ini sukses membuat saya jadi mellow.
Tak lama, hujan berganti deras. Saya dan rombongan berlarian mencari perlindungan ke dalam masjid bersejarah di Pontianak ini.
Interior Magis dan Sambutan Hangat
Meski saat itu saya sedang berhalangan (haid) dan tidak bisa ikut shalat, saya duduk santai di dekat pintu masuk. Dari sini saja, kecantikannya sudah terasa magis. Masjid Sultan Syarif Abdurrahman ini memiliki lantai berkarpet hijau yang terasa begitu lapang, dinaungi langit-langit tinggi yang memberikan kesan kemegahan.
Kehangatan lain datang dari Bapak Abdul Hamid, sosok yang saat itu sudah 30 tahun mengabdikan diri mengurus masjid. Beliau bercerita dengan ramah, rasanya bagai bertemu paman sendiri. Obrolan kami mengalir ditemani suara hujan, membahas sejarah panjang ikon Kota Pontianak ini.
Sejarah Masjid Sultan Syarif Abdurrahman: Titik Nol Pontianak
Berdasarkan deep research dan cerita warga lokal, sejarah Masjid Jami Pontianak tidak bisa dipisahkan dari sosok pendirinya, Sultan Syarif Abdurrahman. Beliau adalah putra Al Habib Husin, seorang penyebar Islam dari Arab yang juga raja di Mempawah.
Menurut catatan sejarah, pada tanggal 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1184 H), Syarif Abdurrahman bersama rombongan membuka hutan di persimpangan Sungai Landak dan Sungai Kapuas. Uniknya, sebelum mendirikan istana atau Keraton Kadriah, beliau mendirikan masjid ini terlebih dahulu. Ini menandakan bahwa Masjid Sultan Syarif Abdurrahman adalah pondasi spiritual sekaligus cikal bakal lahirnya Kota Pontianak.
Arsitektur Masjid Kayu Belian Pontianak yang Kokoh
Salah satu hal yang membuat wisata sejarah Pontianak ini istimewa adalah arsitekturnya. Masjid ini dibangun menggunakan kayu belian (kayu besi) berkualitas tinggi, jenis kayu khas Kalimantan yang terkenal semakin kuat jika terkena air.
Atap masjid berbentuk tumpang berundak empat, melambangkan akulturasi budaya Islam dan lokal. Jendelanya yang berderet kaca kristal konon didatangkan langsung dari Eropa pada masa kejayaan kesultanan.
Baca juga:
Mitos dan Misteri 6 Pilar Masjid
Di dalam ruangan utama, terdapat 6 tiang penyangga raksasa dari kayu belian utuh. Tiang-tiang ini melambangkan 6 Rukun Iman. Ada sebuah cerita unik atau urban legend yang beredar tentang misteri 6 pilar masjid Pontianak ini.
Konon, tidak ada yang tahu pasti berapa kedalaman tiang ini tertancap ke tanah. Yang lebih menarik, ada kepercayaan bahwa belum ada satu orang pun yang berhasil memeluk lingkaran pilar tersebut secara penuh alias kedua ujung jari tangan saling bersentuhan.
“Bahkan bule yang besar-besar juga gagal,” ujar pengurus masjid memanas-manasi rasa penasaran saya.
Mendengar itu, saya pun tertantang. “Nggak apa-apa aku masuk Pak, aku sedang nggak shalat?” tanya saya ragu. “Lah sejak tadi Ibu juga sudah masuk,” jawab mereka sambil tertawa. Benar juga, duduk di pintu kan sudah termasuk area bangunan.
Saya pun mencoba memeluk salah satu tiang masjid tertua di Pontianak tersebut. Hasilnya? Jauh dari sampai! Diameter tiang penyangga ini memang sungguh besar, mungkin butuh dua orang dewasa untuk melingkarinya. Sebuah bukti betapa megah dan kokohnya pohon-pohon di hutan Kalimantan pada masa lalu.
Cara Menuju Masjid Sultan Syarif Abdurrahman
Bagi Teman-teman yang ingin berkunjung, lokasi Masjid Sultan Syarif Abdurrahman berada satu kompleks dengan Keraton Kadriah. Ada dua cara seru untuk menuju ke sana:
- Lewat Jalur Darat: Teman-teman bisa menggunakan kendaraan pribadi atau ojek online menyeberangi Jembatan Kapuas I menuju arah Pontianak Timur. Masuk ke Jl. Tanjung Raya 1, lalu ikuti petunjuk ke arah Kampung Beting.
- Lewat Jalur Sungai (Rekomendasi!): Untuk pengalaman yang lebih otentik, naiklah sampan atau speed boat dari Taman Alun Kapuas di pusat kota. Tarifnya sangat terjangkau. Sensasi menyeberangi Sungai Kapuas sambil melihat kemegahan masjid dari kejauhan adalah momen terbaik.
Tips Wisata Religi ke Masjid Jami Pontianak
Agar kunjungan Teman-teman lebih nyaman, berikut beberapa tipsnya:
- Pakaian Sopan: Karena ini adalah tempat ibadah yang masih aktif dan sakral, pastikan mengenakan pakaian yang menutup aurat dan sopan.
- Waktu Terbaik: Datanglah menjelang sore (Ashar ke Maghrib). Selain udaranya lebih sejuk, pemandangan sunset di dermaga masjid sangat memukau.
- Gabungkan Destinasi: Sekali jalan, kunjungi juga Istana Kadriah yang terletak tepat di belakang masjid untuk melengkapi wawasan sejarah Kesultanan Pontianak.
- Bawa Uang Kecil: Siapkan uang tunai untuk infaq masjid dan membayar jasa sampan penyeberangan.
Baca juga:
Baca juga Kopi Pancong, Tau Swan, dan Pisang Goreng Ponti
Baca juga Komplek Pemakaman Kesultanan Bima Dana Traha
Salam, Evi




