
Sobat JEI, masakan Minang dominan cabe ibarat api dengan asap: dua elemen yang mustahil dipisahkan. Di balik semaraknya warna merah pada rendang atau dendeng balado, tersimpan kisah adaptasi geografis dan filosofi budaya yang mendalam. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa orang Minang seolah “tergila-gila” pada buah pedas ini, mulai dari strategi nenek moyang melawan hawa dingin di kaki Gunung Merapi hingga keterkaitan sakral antara cabe dan warna merah dalam adat Minangkabau.
Jejak Sejarah: Mengapa Masakan Minang Dominan Cabe?
Tak terbayangkan rasanya menyantap Kalio, Pangek, Palai, Asam Padeh, hingga Samba Uwok tanpa kehadiran cabai. Namun, apakah cabai adalah tanaman asli Minangkabau?
Secara historis, cabai (Capsicum) bukanlah tanaman asli Nusantara. Sejarawan kuliner Fadly Rahman dalam penelitiannya menyebutkan bahwa cabai baru masuk ke Indonesia pada abad ke-16, dibawa oleh pelaut Portugis dan Spanyol dari Benua Amerika.
Sebelum kedatangan cabai, nenek moyang orang Minang menggunakan lada, jahe, dan andaliman untuk mendapatkan rasa pedas dan hangat. Namun, ketika cabai diperkenalkan, masyarakat Minang mengadopsinya dengan sangat cepat. Mengapa? Selain rasanya yang lebih menantang, cabai ternyata memiliki sifat pengawet alami yang sangat mendukung budaya merantau orang Minang. Kandungan antimikroba dalam cabai membantu makanan seperti rendang bertahan lama selama perjalanan jauh. Inilah salah satu alasan kuat mengapa masakan Minang dominan cabe hingga hari ini.
Bukan Sekadar Pedas: Filosofi Rasa
Dominasi cabai sering membuat orang salah kaprah. Apakah semua masakan Padang harus membakar lidah? Menurut saya, tidak sepenuhnya demikian.
Pakar kuliner Indonesia, William Wongso, sering menekankan bahwa kekuatan kuliner Minang terletak pada kompleksitas bumbu, bukan sekadar rasa pedas yang menyakitkan. Orang Minang mencintai rasa pedas yang “berisi”, bukan pedas yang menyiksa.
Buktinya, Sobat JEI jarang menemukan penggunaan cabe rawit (cabe setan) sebagai bumbu utama dalam porsi besar. Kita lebih memilih memperbanyak cabe merah keriting. Cabai jenis ini memberikan warna merah yang cantik, aroma langu yang khas, dan rasa pedas yang sopan di lidah. Menggunakan cabe rawit semata mungkin terasa seperti “selingkuh” dari pakem rasa Minang yang otentik. Kita mengejar harmoni rasa, bukan sekadar sensasi terbakar.
Solusi Hangat di Kaki Gunung Merapi
Faktor geografis memainkan peran vital dalam membentuk selera makan kita. Wilayah pemukiman suku Minangkabau mayoritas berada di bawah naungan empat gunung utama: Merapi, Singgalang, Tandikek, dan Sago.
Kampung saya sendiri terjepit di antara Gunung Merapi dan Singgalang. Hawa dinginnya ampun-ampunan, terutama saat pagi, sore, dan malam hari. Apalagi saat musim hujan, kabut tebal atau halimun seringkali baru beranjak pergi pukul sepuluh pagi. Menggigil adalah makanan sehari-hari.
Tubuh kita membutuhkan kehangatan. Karena ajaran Islam melarang konsumsi alkohol (arak), nenek moyang kita cerdas mencari solusi halal. Riset ilmiah modern mendukung kearifan lokal ini. Senyawa Capsaicin dalam cabai terbukti memicu termogenesis, proses biologis yang membakar kalori dan menghasilkan panas tubuh. Jadi, semangkuk gulai panas bukan hanya soal kenyang, tapi soal bertahan hidup di tengah hawa pegunungan yang menusuk.
Simbolisme Cabe dan Warna Merah dalam Adat Minangkabau
Sobat JEI, mari kita tinjau dari kacamata antropologi. Kebudayaan adalah kumpulan gejala yang diorganisir melalui pola perilaku, benda, dan kepercayaan.
Ada hubungan istimewa antara cabe dan warna merah dalam adat Minangkabau. Meskipun ada menu berbahan cabai hijau seperti itiak lado mudo, warna merah tetap memegang tahta tertinggi. Warna ini bukan sekadar estetika piring makan, tapi juga representasi identitas.
Kita bisa melihat dominasi warna merah pada:
- Tenunan pakaian adat.
- Ukiran-ukiran di Rumah Gadang.
- Bendera adat Minangkabau (Marawa).
Dalam Marawa, terdapat tiga warna utama: Hitam, Kuning, dan Merah. Menurut budayawan Minang, warna merah (yang biasanya diletakkan di tengah atau sisi tertentu) melambangkan keberanian dan ketegasan. Sifat ini sering diasosiasikan dengan peran Dubalang (penjaga keamanan nagari) yang harus berani, atau Alim Ulama yang harus tegas dalam menegakkan hukum agama—pedas dan lurus seperti cabai.
Jadi, kehadiran cabai di setiap piring makan orang Minang adalah manifestasi dari karakter budaya itu sendiri: berani, tegas, namun tetap memberi kehangatan dan manfaat bagi sesama.
Bagaimana menurut Sobat JEI? Apakah kalian tim cabe merah atau cabe hijau?
