
Key Takeaways
- Mahkota Siger Lampung adalah simbol kehormatan yang dipakai pengantin wanita dalam pernikahan adat di Lampung.
- Siger mengandung filosofi luhur, melambangkan kewanitaan, kesucian, dan tanggung jawab keluarga.
- Terdapat dua jenis Siger: Siger Pepadun dengan sembilan lekukan dan Siger Saibatin dengan tujuh lekukan sebagai perwakilan budaya masing-masing.
- Siger terbuat dari bahan seperti kuningan atau emas, dengan berat hingga 3 kilogram, dihiasi ukiran flora.
- Mahkota Siger Lampung juga menghiasi ruang publik dan merefleksikan kekuasaan serta kehormatan dalam budaya lokal.
Halo Sobat JEI, saat memasuki kawasan Pelabuhan Bakauheni—baik melintasi Selat Sunda maupun menyusuri Jalan Trans Sumatera—pandangan kita pasti akan langsung terkunci pada satu titik. Sebuah bangunan kuning berbentuk mahkota berdiri gagah di atas Bukit Bakauheni, menjulang 110 meter di atas permukaan laut.
Ketika Kapal Roro Panorama Nusantara yang saya tumpangi mendekati dermaga, kilauan bangunan tersebut memantulkan cahaya matahari sore dengan begitu memukau. Ia bukan sekadar penanda titik nol Sumatera di bagian Selatan, melainkan wujud raksasa dari Mahkota Siger Lampung. Sebagai pintu gerbang utama, menara ini menyapa setiap pendatang dengan pesan simbolis: Anda sedang memasuki tanah yang memegang teguh tradisi leluhur.
Sangat menarik mengamati bagaimana ikon provinsi ini justru mengadopsi bentuk hiasan kepala wanita, dan bukan atribut mahkota siger laki-laki atau Kopiah Emas. Pilihan ini tentu bukan tanpa alasan, melainkan refleksi dari makna mahkota siger yang menjunjung tinggi kehormatan dan kemuliaan perempuan dalam tatanan adat setempat.
Jika versi betonnya saja tampak begitu agung, bayangkan bagaimana berat dan motif mahkota siger yang asli ketika bertengger di kepala pengantin wanita. Benda yang oleh masyarakat lokal Mahkota lampung disebut juga dengan nama Sigokh ini, menyimpan rahasia keanggunan yang siap kita telusuri lebih jauh.
Apa Itu Siger Lampung?
Secara sederhana, Siger Lampung adalah mahkota emas yang dikenakan oleh pengantin wanita dalam pernikahan adat Lampung. Mahkota ini menjadi titik fokus utama yang memancarkan aura ratu pada sang mempelai wanita. Tanpa kehadirannya, busana pengantin Lampung rasanya belum lengkap.
Dalam keseharian masyarakat pesisir atau Saibatin, benda ikonik ini kerap disebut Sigokh. Namun, apapun sebutannya, fungsinya tetap sama: sebagai lambang kehormatan yang tak ternilai harganya.
Mengupas Filosofi dan Simbolisme Mahkota Siger Lampung

Di balik kemilaunya, tersimpan filosofi luhur yang menjadi pedoman hidup. Makna mahkota siger sejatinya adalah simbol kewanitaan yang agung. Bentuknya melambangkan kesucian, status sosial yang tinggi, serta kelembutan seorang ibu.
Selain itu, Siger juga merepresentasikan sifat cermat, ramah tamah, dan kerja keras. Saat seorang wanita mengenakan Siger, ia memikul tanggung jawab besar untuk menjaga nama baik keluarga dan menjadi penyejuk dalam rumah tangganya kelak.
Perbedaan Siger Pepadun dan Saibatin
Meskipun sama-sama bernama Siger, terdapat dua jenis utama yang membedakan asal usul adatnya. Sobat JEI perlu memahami perbedaan ini agar tidak salah mengenali:
1. Siger Pepadun
Siger dari adat Pepadun memiliki ciri khas sembilan lekukan atau ruji (Siger Taruk Tujuh). Angka sembilan ini melambangkan sembilan marga yang bersatu membentuk masyarakat Lampung (Abung Siwo Mego). Desainnya cenderung lebih melebar dan rendah jika kita bandingkan dengan saudaranya dari pesisir.
2. Siger Saibatin
Sementara itu, Siger Saibatin memiliki tujuh lekukan (Siger Lekuk Pitu). Tujuh lekukan ini merepresentasikan tujuh adok atau gelar dalam masyarakat pesisir. Bentuknya lebih ramping namun menjulang tinggi dengan hiasan yang sangat detail menutup bagian atas kepala.
Detail Fisik – Keindahan yang Menantang
Mengenakan pakaian adat Lampung membutuhkan stamina yang prima. Mengapa demikian? Hal ini berkaitan langsung dengan berat dan motif mahkota siger itu sendiri.
Secara tradisional, Siger terbuat dari bahan kuningan, tembaga, atau bahkan emas murni bagi kalangan bangsawan. Bobotnya bisa mencapai 1,5 hingga 3 kilogram! Sobat JEI bisa membayangkan bagaimana pengantin wanita harus menjaga postur kepala tetap tegak dan anggun sambil menopang beban tersebut selama resepsi berlangsung.
Motifnya pun tidak sembarangan. Siger biasanya berhiaskan ukiran rumit berbentuk flora, seperti bunga tanjung dan sulur-suluran. Motif ini melambangkan keindahan alam dan kesuburan, sebuah harapan agar pernikahan tersebut membuahkan keturunan dan rezeki yang melimpah.
Baca juga:
Pasangan Siger untuk Mempelai Pria
Jika pengantin wanita tampil megah dengan Siger, lalu apa yang pria kenakan? Seringkali muncul pertanyaan mengenai mahkota siger laki-laki.
Secara harfiah, pria tidak mengenakan “siger”. Istilah yang tepat untuk hiasan kepala pengantin pria Lampung adalah Kopiah Emas. Bentuknya menyerupai peci namun berbahan kuningan atau kain bersulam benang emas dengan ujung yang meninggi. Kopiah Emas ini menyeimbangkan kemewahan Siger sang istri, menciptakan harmoni visual yang gagah dan berwibawa di pelaminan.
Siger di Mana-Mana: Jejak di Ruang Publik dan Tautannya dengan Minangkabau

Jadi gak heran ya Sobat JEI, kalau kita jalan-jalan di sekitar Lampung, simbol kebanggaan ini terlihat di mana-mana. Mahkota Siger menghias banyak tempat, mulai dari tugu di alun-alun kota, menempel artistik pada dinding ruko, sekolah, kantor pemerintahan, hingga diletakkan di tempat tertinggi atap rumah pribadi. Fenomena visual ini mempertegas makna mahkota siger sebagai lambang kekuasaan dan kehormatan yang dijunjung tinggi.
Uniknya, meski pemakaian praktisnya dalam adat hanya untuk wanita—dan kita tidak melihat simbol mahkota siger laki-laki atau Kopiah Emas di puncak gedung—justru atribut wanitalah yang dipilih menjadi wajah provinsi ini. Walaupun replika di atap bangunan tentu tidak memiliki berat dan motif mahkota siger sekompleks aslinya yang terbuat dari emas, kehadirannya tetap memancarkan aura kemegahan yang sama.
Pemandangan ini mengingatkan saya pada adat istiadat suku saya sendiri, Minangkabau. Di sana garis keturunan ditarik dari ibu (matrilineal), sementara di Lampung umumnya dari ayah (patrilineal). Namun, pemuliaan simbol wanita melalui benda yang Mahkota lampung disebut juga dengan Sigokh ini memantik rasa penasaran saya: mungkinkah antara adat Minangkabau dan Lampung saling terkait? Setidaknya, mungkinkah simbol ini menjadi jejak bahwa jauh di masa lalu, kita pernah memiliki nenek moyang yang sama? Sebuah renungan budaya yang menarik untuk Sobat JEI pikirkan.
Bagaimana Sobat JEI? Semakin bangga bukan dengan kekayaan budaya Nusantara kita? Keindahan Siger Lampung mengajarkan kita bahwa dalam setiap detail busana adat, tersimpan doa dan harapan mulia para leluhur.
Salam dari Lampung,
Evi
