
Leuit simbol kedaulatan pangan ternyata bukan sekadar slogan, melainkan benteng nyata pertahanan hidup. Sobat JEI, saat dunia pusing dengan fluktuasi harga beras, masyarakat Kasepuhan Banten Kidul justru tidur nyenyak dengan perut kenyang. Tulisan ini akan mengupas kontrasnya nasib lumbung padi di kampung halaman saya dengan kejeniusan lokal masyarakat Banten Kidul yang masih lestari. Kita akan membedah bagaimana warisan leluhur berupa sistem lumbung ini terbukti ampuh melawan ancaman krisis pangan global. Mari kita telusuri kearifan ini lebih dalam.
Leuit Simbol Kedaulatan Pangan vs Realitas Modern
Di kampung saya, Magek-Bukittinggi, lumbung padi atau Rangkiang kini hanya menjadi monumen bisu. Nasibnya sama merananya dengan Rumah Gadang yang kian sepi. Masyarakat tampaknya sepakat memeluk sistem ekonomi modern sepenuhnya. Mereka tidak lagi menyimpan surplus padi sebagai cadangan makanan, melainkan menjualnya ke pasar. Uang hasil penjualan baru mereka simpan di bank.
Fenomena ini selaras dengan pendapat Prof. Dr. Koentjaraningrat, bapak antropologi Indonesia. Beliau menyebutkan bahwa pergeseran nilai budaya sering terjadi ketika orientasi masyarakat berubah dari komunal menjadi individualis-ekonomis. Akibatnya, fungsi sosial lumbung sebagai penyangga pangan komunitas perlahan luntur tergantikan oleh mekanisme pasar.
Kondisi ini bertolak belakang dengan Kasepuhan Banten Kidul di lereng Gunung Halimun. Di sini, leuit simbol kedaulatan pangan masih berdiri gagah. Nenek moyang mereka mewariskan aturan tegas: padi haram menjadi komoditas. Penduduk boleh menjual hasil bumi lain, tapi padi tidak.
Saya pernah bertanya pada seorang warga setempat mengenai hukuman bagi pelanggar. Ternyata, tetua adat tidak memberikan sanksi fisik. Namun, tak satu pun penduduk berani melanggar aturan karuhun (nenek moyang) tersebut. “Pamali,” katanya singkat. Kepatuhan ini mencerminkan apa yang disebut oleh sosiolog Soerjono Soekanto sebagai living law atau hukum yang hidup. Hukum adat ini mengikat kuat karena kesadaran kolektif, bukan karena takut pada penjara.
- Baca di sini tentang : Pengalaman Lansia Trekking di Baduy Luar – Ujian Napas dan Lutut Menuju Gajeboh
Kejeniusan Lokal dalam Arsitektur Leuit

Sobat JEI mungkin akan terkesima melihat bagaimana mereka menyimpan surplus sawah. Mereka menggunakan kejeniusan lokal dalam membangun Leuit. Bangunan kecil ini berdiri di atas empat tiang kayu, berdinding anyaman bambu, dan beratap rumbia. Hampir setiap rumah di Kasepuhan Banten memilikinya.
Awalnya, saya mengira bangunan ini hanya rumah mainan anak-anak atau gudang perkakas. Namun, jumlahnya yang masif menyadarkan saya akan fungsinya yang vital. Bangunan inilah alasan warga desa tidak pernah pusing dengan lonjakan harga beras. Lumbung mereka selalu penuh.
Arsitek Eko Prawoto, pakar arsitektur vernakular, sering menekankan bahwa bangunan tradisional selalu memiliki respon cerdas terhadap lingkungan. Struktur panggung pada Leuit melindungi padi dari kelembapan tanah dan serangan tikus. Sirkulasi udara dari dinding bambu menjaga gabah tetap kering secara alami. Ini membuktikan bahwa leuit simbol kedaulatan pangan adalah mahakarya teknologi tepat guna yang melampaui zamannya.
Warisan Leluhur Penyelamat Krisis
Di tengah kekisruhan produksi padi nasional dan ancaman impor beras, warisan leluhur orang Banten ini justru tampil sebagai solusi. Sistem leuit berhasil menghindarkan anak cucu mereka dari keresahan sistem perberasan nasional. Leuit simbol kedaulatan pangan mereka benar-benar bekerja, bukan sekadar hiasan budaya.
Vandana Shiva, aktivis lingkungan dan kedaulatan pangan global, selalu menyuarakan bahwa kemandirian benih dan pangan adalah kunci kebebasan petani. Kasepuhan Banten Kidul mempraktikkan hal ini secara harfiah. Mereka tidak bergantung pada pasar, melainkan pada ekosistem yang mereka bangun sendiri. Padi mereka ikat dan cantel pada sebatang bambu untuk pengeringan sebelum masuk leuit. Proses ini memastikan kualitas gabah bertahan tahunan.
Sistem Leuit Si Jimat
Sistem kejeniusan lokal ini memastikan masyarakat Kasepuhan Banten tidak akan pernah kelaparan. Mekanismenya sangat menarik. Leuit milik warga pribadi bernama Incu Buyut. Sedangkan lumbung komunal besar bernama Leuit Si Jimat.
Leuit Si Jimat terletak dekat Imah Gede, kediaman kepala adat Kasepuhan Banten Ciptagelar (dulu Abah Anom, kini Abah Ugi). Tiap tahun, Kasepuhan menggelar Seren Taun, sebuah upacara syukur pasca panen. Dalam acara ini, Incu Buyut menyumbangkan padi ke Leuit Si Jimat. Jumlahnya sukarela, sesuai kemampuan.
Jika terjadi gagal panen, warga boleh meminjam padi dari Leuit Si Jimat. Inilah implementasi nyata dari teori Social Capital (Modal Sosial) yang populerkan oleh Robert D. Putnam. Jaringan kepercayaan dan norma timbal balik (resiprositas) ini menciptakan jaring pengaman sosial yang kuat. Warisan leluhur ini membuat mereka berdaulat penuh atas pangan mereka sendiri.
Selain fungsi ekonomi, Leuit juga menjadi simbol status sosial. Semakin banyak leuit, semakin tinggi gengsi pemiliknya. Bagaimana menurut Sobat JEI? Perlukah kita mengadaptasi kearifan ini di tengah gempuran modernisasi?
Salam, Evi
