
Keterikatan umat manusia pada cinta ibu bukan sekadar relasi biologis, melainkan fondasi utama rasa aman yang membentuk peradaban kita. Melalui pemikiran tajam Erich Fromm yang membedah teori Bachofen, kita akan menelusuri bagaimana kasih sayang tanpa syarat seorang ibu menjadi titik mula kelahiran humanisme universal. Artikel ini merangkum renungan malam saya tentang sejarah gender, psikologi, dan kerinduan abadi kita pada sosok ibu yang tak lekang oleh waktu.
Keterikatan Umat Manusia pada Cinta Ibu: Sebuah Renungan di Malam Hujan
Malam sudah turun. Di luar, hujan rintik-rintik menciptakan irama syahdu. Seperti biasa, agar kantuk segera tiba, saya harus memegang buku yang isinya agak berat. Ini obat tidur paling ampuh bagi saya. Bahasan berat membuat otak cepat lelah. Kalau sudah begitu, perkara tidur pun jadi mudah.
Malam gerimis itu saya kangen pada Erich Fromm. Beliau adalah antropolog sekaligus psikolog sosial mazhab Frankfurt yang banyak membahas keterikatan umat manusia pada cinta ibu. Buku lama saya berjudul Cinta, Seksualitas, Matriarki dan Gender akhirnya saya buka kembali.
Artikel ini akan membahas ringkasan pemikiran Fromm tentang bagaimana cinta ibu menjadi fondasi rasa aman kita. Kita juga akan menelusuri bagaimana peran perempuan menjadi titik awal kelahiran humanisme universal.
Erich Fromm dan “Perang Gerilya” Gender
Sambil melap sampul yang berdebu, saya seperti bertemu kembali dengan kawan lama. Dulu, saya pernah tergila-gila pada gaya bahasa Fromm yang menggigit.
Ia mengenalkan saya pada konsep “peperangan” antar jenis kelamin. Fromm menyebutnya perang gerilya. Perang ini konon berlangsung selama 6.000 tahun dan diakhiri dengan kemenangan laki-laki atas perempuan (patriarki).
Malam itu saya membuka sembarang halaman. Saya bertekad membaca minimal 10 halaman. Kebetulan, bagian yang terbuka membahas keterikatan umat manusia pada cinta ibu.
Hak Ibu: Fondasi Cinta Tanpa Syarat
Fromm menajamkan analisanya melalui karya Johann Jakob Bachofen tentang “Hak Ibu” (Mother Right). Ini menarik jika kita kaitkan dengan psikologi modern.
Menurut teori kelekatan (attachment theory) yang dikembangkan John Bowlby, ikatan emosional awal dengan ibu adalah cetak biru bagi semua hubungan masa depan kita. Bachofen, jauh sebelumnya, sudah melihat hal ini.
Perempuan, sejak masa muda, belajar menebar cinta melampaui batas ego mereka. Kemampuan ini mereka gunakan untuk melindungi eksistensi orang lain. Sifat inilah yang menitis pada setiap kebudayaan dan kebajikan.
Mengapa Cinta Ibu Itu Spesial?
Bagi kita, ibu adalah representasi kehidupan. Ia adalah kehangatan, sumber makanan, dan rasa aman. Hanya ibu yang mampu memberikan cinta tanpa syarat.
Pengalaman dicintai ibu itu unik karena:
- Kita tidak perlu patuh untuk dicintai.
- Kita tidak harus berguna agar disayang.
- Kita dicintai semata-mata karena kita adalah anak ibu.
Inilah inti dari keterikatan umat manusia pada cinta ibu. Kerinduan ini tidak pernah meninggalkan manusia sampai akhirnya kembali ke pangkuan “Ibu Bumi”.
Kelahiran Humanisme dari Kasih Sayang Ibu
Cinta, perhatian, dan tanggung jawab terhadap sesama adalah dunia ibu. Kasih ibu adalah benih yang tumbuh dari kebersamaan. Inilah yang menjadi dasar berkembangnya dan terjadinya kelahiran humanisme universal.
Ibu mencintai anak-anaknya tanpa pilih kasih. Anak-anak kemudian belajar melakukan hal serupa. Dalam perspektif neurosains modern, interaksi penuh kasih ini memicu pelepasan oksitosin atau “hormon cinta”. Hormon ini memperkuat empati sosial kita.
Prinsip cinta ibu adalah egaliter. Semua anak sama di matanya. Berbeda dengan cinta ayah yang seringkali bersyarat (berdasarkan prestasi atau kepatuhan), cinta ibu adalah basis persaudaraan universal.
Evolusi Menuju Figur Ayah dan Kesetaraan
Bachofen meneruskan analisanya. Ikatan paling primordial bagi umat manusia adalah ikatan terhadap ibu. Namun, perkembangan kedewasaan menuntut kita melaju mendekati ayah sebagai figur sentral otoritas dan hukum.
Tahap selanjutnya adalah yang paling ideal. Kita tidak lagi terobsesi pada sosok ibu atau ayah sebagai individu. Kita beralih pada prinsip cinta (ibu) dan keadilan (ayah) yang menyatu. Di sinilah kelahiran humanisme mencapai puncaknya dalam bentuk kesetaraan gender.
Pandangan Kontras: Freud vs Bachofen
Ada perbedaan tajam antara Sigmund Freud dan Bachofen:
- Freud (Patriarkal): Memandang perempuan sebagai “lelaki yang tak sempurna”.
- Bachofen (Matriarkal): Memandang ibu sebagai representasi kekuatan primer alam, realita, dan cinta.
Kekuatan ibu bukan pada daya tarik seksualnya semata. Kekuatan itu ada karena ibu menghadirkan ikatan batin yang sulit diatasi oleh siapa pun.
Kembali ke Realita
Amat menarik mengikuti jalan pikiran Fromm tentang kesetaraan gender ini. Bila cadar patriarki kita buka sedikit, kita terseret ke masa lalu. Masa ketika perempuan menjadi pusat semesta ekonomi dan kehidupan.
Jujur saja, Sobat JEI, saya tidak terlalu peduli apakah teori Bachofen yang dilirik Fromm ini 100% benar secara historis. Saya lebih suka menjadi penikmat kedalamannya.
Kalaupun salah, saya ikut kata-kata Fromm: “Bagaimanapun sejarah pemikiran adalah sejarah dari kesalahan…”
Besok paginya, saya menemukan buku itu sudah tertutup rapi di tempat tidur. Rupanya semalam saat saya tertidur pulas, suami yang membereskannya. Sebuah gestur kecil yang manis, bukan?
Apakah Sobat JEI juga merasakan keterikatan umat manusia pada cinta ibu ini dalam kehidupan sehari-hari? Bagikan di kolom komentar ya!
