Keterikatan pada asal-usul bukan sekadar romantisme masa lalu, tapi jangkar bagi jiwa yang sudah lama merantau. Dalam artikel ini, saya mengajak Sobat JEI menyelami kenangan rumah masa kecil, hamparan sawah yang memanggil rindu, dan bagaimana konsep a sense of place membentuk siapa kita hari iniโsemua berawal dari potret rumah tua yang mulai dimakan usia. Simak perjalanannya, ada tips merawat kenangan juga, lho!
Lorong Waktu dan Psikologi Ruang

Memutar Slide Kenangan di Jendela Tua
Sobat JEI, foto di atas saya ambil menjelang magrib dari samping rumah tempat saya dilahirkan. Jujur, kondisi fisiknya sudah memprihatinkan. Dinding papan tanggal di sana-sini, jendela berlubang melongo seperti mulut yang lupa menutup, belum lagi plafon dan lantainya.
Keluarga kami sudah bertahun-tahun meninggalkan rumah ini. Namun, ada hal menarik menurut psikologi lingkungan. Profesor Colin Ellard, seorang ahli psychogeography, menyebutkan bahwa tempat fisik memiliki kekuatan magis untuk memicu memori otobiografi. Itulah sebabnya, meski fisiknya hancur, yang tetap indah di sana adalah kenangannya.
Pemandangan Abadi yang Meriangkan Hati
Selain kenangan, ada satu hal yang konsisten membasuh hati: pemandangan dari halaman samping. Fajar dan senja adalah primadonanya. Kalau saja saya punya mesin waktu dan bisa mundur 35 tahun ke belakang, Sobat JEI akan melihat warna jendela foto ini berubah mengikuti siklus hidup padi.
Sebulan setelah tanam, pematang sawah hanya garis samar. Selebihnya adalah permadani hijau raksasa, lapangan bola dadakan bagi bocah kampung. A sense of place atau rasa memiliki terhadap tempat ini tumbuh subur di sini.
Harmoni Alam dan Keterikatan Emosional
Simfoni Padi dan Angin
Bagian paling seru? Saat jutaan batang padi muda ditiup angin. Mereka meluruh perlahan, bergelombang persis ombak laut. Keindahannya tak bisa dilawan oleh karpet Persia manapun! Ahli biologi E.O. Wilson menyebut fenomena ketertarikan manusia pada alam ini sebagai Biophilia.
Saat umbut padi keluar menjelang malam, burung pipit dan bangau akan berparade pulang. Formasi mereka mirip gerombolan ikan teri di National Geographic. Bedanya, ini versi live tanpa jeda iklan.
Kenangan Bandel di Pelataran
Keterikatan pada asal-usul saya juga terbentuk dari momen-momen “bandel”. Saya paling betah duduk di luar sampai suhu drop, menghirup bau lumpur, dan menunggu angin membawa aroma dari tempat jauh.
Meski nenek sudah berteriak mengancam kunci pintu, saya tetap ngotot duduk di pelataran. Akhirnya, saya baru naik setelah mencuci muka. Ambil air wudhu beneran atau pura-pura? Yah, tergantung mood dan tingkat keimanan saat itu, hehehe.
Gotong Royong: Lembar Sejarah Sosial
Transformasi Warna dan Orang-orangan Sawah
Seiring waktu, a sense of place di kampung kami juga diwarnai oleh tradisi pertanian. Saat padi menguning, petani memasang orang-orangan sawah dengan plastik warna-warni. Tujuannya simpel: prank massal untuk menakut-nakuti burung pipit.
The Power of Gotong Royong
Tiga puluh tahun lalu, kami belum mengenal buruh tani upahan. Saat panen tiba, keterikatan pada asal-usul terlihat dari semangat gotong royong. Menurut sosiolog Emile Durkheim, ini adalah bentuk solidaritas mekanik yang memperkuat ikatan sosial masyarakat tradisional.
Kaum lelaki menyabit, perempuan menumpuk hasil sabitan. Tumpukan itu kami diamkan 3-4 hari. Setelah itu, lelaki akan “menggirik” (menginjak-injak padi) dan perempuan memisahkan bulir dari tangkainya. Pemilik sawah? Cukup sediakan makan siang, ketan kelapa, atau bubur sumsum. Kenyang dan hati senang!
Tugas saya sebagai bocah? Tentu saja menjadi tim hore. Merecoki pekerjaan, berebut makan siang, dan melompat di tumpukan jerami sambil teriak, “hoyak… hoyak hosen!”. Momen-momen inilah yang membangun a sense of place yang kuat dalam diri saya.
Baca juga:
Update: Realita Kepulangan dan Penerimaan
Rumah yang Kembali ke Alam
Tahun 2018, saya pulang kampung mengantar Bapak. Kerinduan pada kampung halaman membuat saya kembali. Tapi, seperti kata Heraclitus, “Tidak ada yang abadi kecuali perubahan.” Rumah kami semakin hancur.
Halaman belakang yang dulu kolam ikan dan kebun, kini berubah jadi hutan rimba. Pohon mangga dan jeruk tempat saya memanjat? Lenyap. Dapur? Hilang ditelan semak. Jujur, kami ngeri mendekat. Takut disambut ular atau penghuni tak kasat mata lainnya.
Filosofi Pulang
Kami hanya memandanginya dari jauh, memotret dari dalam mobil saat melintas ke Pakan Salasa. Hati tetap berbisik, “Itu rumah kami.” Mengapa tidak dirobohkan? Ah, itu cerita lain waktu.
Yang jelas, pengalaman ini menegaskan pentingnya keterikatan pada asal-usul. Penulis dan aktivis lingkungan Wendell Berry pernah berkata, “If you don’t know where you are, you don’t know who you are.” (Jika kamu tidak tahu di mana kamu berada, kamu tidak tahu siapa dirimu).
Rumah itu mungkin hancur, tapi ia tetap menjadi referensi valid saat saya menyebut kata “pulang”. Itulah kekuatan sejati dari a sense of place.
Tips Merawat Keterikatan Pada Asal-Usul
Ingin menjaga koneksi dengan akar budaya Sobat JEI? Coba tips berikut:
- Dokumentasikan Cerita: Rekam cerita orang tua atau kakek-nenek. Ingatan manusia terbatas, rekaman digital abadi.
- Kunjungi Fisik (Jika Memungkinkan): Sesekali pulanglah. Napak tilas lokasi masa kecil memicu memori sensorik yang tak tergantikan.
- Masak Makanan Masa Kecil: Rasa adalah pemicu memori terkuat. Masak resep warisan keluarga untuk menghadirkan a sense of place di meja makan.
- Tulis Jurnal: Seperti yang saya lakukan di blog ini. Menulis mengikat makna agar tak lari.


