Jakarta yang compang-camping kerap bersembunyi dengan manis di balik gemerlap lampu gedung pencakar langit. Sobat JEI, ini sebuah ironi metropolitan yang mengelitik nalar saya. Pandangan saya tentang pesona ibu kota yang kontras ekstrem antara kehidupan konglomerat dan rakyat jelata, hingga potret basah Muara Baru yang menolak kering. Kita juga akan menyinggung keangkuhan sirene pejabat yang membelah kemacetan, serta kebiasaan penguasa menyulap Jakarta yang compang-camping menjadi ilusi romantis. Semuanya berpadu dalam satu lanskap kota yang penuh paradoks.
Wajah Ganda Kota Metropolitan
Jakarta itu ibarat kekasih yang cantik jelita namun menyimpan rahasia kelam. Sebagian pesonanya membuat kita jatuh cinta setengah mati. Namun di sudut lain, kita enggan bersentuhan karena wujud Jakarta yang compang-camping begitu menakutkan.
Tengok saja kawasan segitiga emas. Lebih dari seratus gedung pencakar langit berlomba menggapai awan. Mal kelas atas menawarkan surga belanja bagi para sosialita. Fasilitas hiburannya pun sangat aduhai. Saat malam turun, lampu-lampu kota seketika menggantikan matahari. Kecemerlangannya membuat cahaya kunang-kunang tampak seperti lampu bohlam yang hampir putus.
Kesenjangan Menjerit di Ibu Kota
Orang bilang Jakarta adalah kota serba ada. Pernyataan ini seratus persen akurat. Yang super kaya ada, yang miskin papa apalagi. Berdasarkan data statistik, rasio Gini Jakarta konsisten berada di angka sekitar 0,43. Angka ini meneriakkan pesan jelas: ketimpangan kekayaan di sini benar-benar ampun-ampunan.
Inilah panggung utama tempat para sultan menggesek kartu hitam mereka tanpa ampun. Namun di saat bersamaan, wajah Jakarta yang compang-camping menjadi rumah basah bagi ribuan jiwa yang memeluk nestapa setiap hari.
Ironi Wisata Sejarah di Muara Baru
Mari kita melangkah sejenak ke arah utara. Saya mengabadikan foto di atas di kawasan Muara Baru. Tempat persinggahan pertama Fatahillah saat merebut Jayakarta pada tahun 1527 ini menyuguhkan realita yang mengharu biru.
Matahari boleh garang memanggang kepala. Namun, jalanan mereka tak pernah kering dari genangan air kotor. Fenomena land subsidence (penurunan permukaan tanah) membuat pesisir utara Jakarta amblas hingga 25 sentimeter setiap tahun. Rumah, pabrik, toko, dan pasar pun berhimpitan erat seperti ikan sarden di dalam kaleng.
Menjual Kemiskinan Berbalut Sejarah?
Saya merasa agak miris melihat kenyataan ini. Pemerintah Daerah DKI Jakarta gencar mengiklankan Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai destinasi wisata sejarah andalan. Kemarin saya berpapasan dengan tiga turis bule yang baru saja keluar dari Menara Syahbandar.
Tapi sayang sekali. Sejak era Bang Ali Sadikin hingga para gubernur masa kini, lanskap tempat ini tak beringsut dari potret buram abad ke-17. Apakah mereka tidak malu mempertontonkan Jakarta yang compang-camping ini kepada mata dunia?
Lamunan Perih di Tengah Genangan
Coba perhatikan kembali foto hasil jepretan saya. Seorang bapak tampak asyik melamun di bawah payung usang. Entah payung itu tadinya berfungsi sebagai apa. Ia tampak melepas lelah sambil menatap kosong, mungkin memikirkan beban hidup yang tak kunjung surut.
Motor bututnya menanti dengan setia di depan. Di latar belakang, seorang bapak lain juga sedang melamun di antara tumpukan ban bekas, air kotor, becak karatan, dan tiga wanita yang berjalan melintas. Para ahli tata kota menyebutnya “stres perkotaan”. Tekanan hidup di pemukiman padat memang memicu beban psikologis yang sangat nyata.
Raungan Sirene dan Pejabat “Burung Unta”
Sebelum tiba di Muara Baru, saya terjebak di jalanan yang bising oleh raungan sirene. Saya pikir ada ambulans yang sedang gawat darurat. Ternyata, polisi sedang sibuk membukakan jalan untuk mobil pejabat elit di belakangnya.
Saya jarang menyumpah, tapi hari itu saya buat pengecualian. Indeks Lalu Lintas TomTom menempatkan Jakarta sebagai salah satu kota termacet di dunia. Jalanan sedang macet parah, hari juga sedang terik. Kok enak sekali mereka menyuruh rakyat minggir? Mbok ya ikut antri dan rasakan penderitaan warga biasa!
Yang juga banyak dibaca:
Menyembunyikan Jakarta yang Compang-camping
Sifat jelek sebagian aparat penguasa kita memang seragam. Mereka bertingkah seperti burung unta. Mereka suka membenamkan kepala ke dalam pasir agar terhindar dari realita.
Jika seorang tokoh penting melintas di Muara Baru, saya yakin pemandangan kumuh ini akan lenyap seketika. Para bawahan akan sibuk membereskan jalanan. Mereka akan menutupi apa yang perlu mereka tutup. Mereka gemar menyulap tontonan Jakarta yang compang-camping ini menjadi sedikit romantis dengan label: “Masyarakat yang sedang membangun.”
Masyarakat yang sedang membangun kok tidak pernah selesai pembangunannya? Menjengkelkan sekali, bukan?
Panduan Perjalanan ke Muara Baru & Sunda Kelapa
Tertarik melihat langsung sisi lain sejarah ibu kota ini? Sobat JEI bisa merencanakan kunjungan akhir pekan dengan panduan singkat berikut:
- Biaya Masuk: Pengelola mematok tiket masuk kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa sangat murah, hanya sekitar Rp 2.500 hingga Rp 5.000 per orang.
- Cara Menuju ke Sana: Moda transportasi terbaik dan bebas macet adalah KRL Commuter Line. Anda turun di Stasiun Jakarta Kota. Dari stasiun, Anda bisa menyewa ojek pangkalan (sekitar Rp 15.000 – Rp 20.000) atau berjalan kaki santai sejauh 2 kilometer menyusuri kawasan Kota Tua yang eksotis. Anda juga bisa menggunakan TransJakarta koridor 1 (Blok M – Kota) dan turun di Halte Museum Fatahillah.
eviindrawanto.com

