
Cara menghilangkan distraksi adalah langkah pertama yang wajib Sobat JEI ambil saat merasa terjebak dalam pusaran media sosial. Artikel ini akan membahas tuntas pengalaman pribadi saya keluar dari zona nyaman, melawan rasa malas, dan kembali fokus pada tujuan hidup produktif. Kita akan membedah mengapa scroll sosmed membuat kita lupa waktu, dan bagaimana riset serta pakar psikologi menawarkan solusi praktis untuk mengembalikan produktivitas kita yang hilang.
Terjebak Nyaman dan Lupa Daratan
Gara-gara keasyikan scroll media sosial, saya sempat menganggap menulis di blog itu sudah tidak penting. Gile juga rasanya. Jurnal Evi Indrawanto ini pernah terbengkalai sangat parah. Hampir tiga tahun lamanya saya tidak menengok blog ini, boro-boro melakukan update.
Padahal, saya masih asyik traveling. Bisnis Arenga Indonesia juga berjalan lancar. Gula aren cair kami makin laris manis menemukan muaranya di cafe-cafe hits Indonesia. Kesadaran masyarakat juga makin tinggi untuk memilih gula semut sebagai pemanis sehat keluarga. Materi tulisan sebenarnya melimpah ruah. It is so fine. Namun, saat masa-masa terdistraksi itu melanda, saya merasa tidak ada yang cukup penting untuk saya tulis.
Dr. Gloria Mark, peneliti dari University of California, Irvine, menyebutkan bahwa rata-rata rentang perhatian manusia di depan layar kini hanya tersisa 47 detik. Riset ini sangat akurat memotret realita kita. Pantas saja kita kesulitan mencari cara menghilangkan distraksi saat sudah memegang gawai. Perhatian kita sudah terpecah belah.
Baca juga:
Narsis Berujung Krisis Produktivitas
Kalau mau jujur, selama beberapa tahun itu, saya membenamkan diri dalam zona nyaman yang tidak ketulungan. Kerjaannya bolak-balik buka sosmed. Mengecek kehadiran jaringan teman-teman baru. Menonton rentetan video pendek yang tiada habisnya.
Saya juga menyalurkan bakat tak kesampaian sebagai artis, yaitu menjadi narsis! Update status gak penting selalu jalan. Apa pentingnya coba mengabarkan kepada dunia bahwa saya sedang menggoreng ikan teri balado untuk buka puasa? Atau menulis status tanpa beban saat pergi belanja tekstil di Pasar Pagi? Hehehe… Edan!
Alamak, media sosial dan kawan-kawannya itu memang punya daya tarik maut. Tapi, jauh di sudut hati, saya sadar kelakuan ini tidak berguna. Kebiasaan ini tidak membawa saya ke mana-mana. Malah, saya jadi terlihat seperti orang depresi dengan motivasi hidup yang sangat rendah.
Pakar produktivitas Cal Newport dalam bukunya Deep Work menegaskan bahwa aktivitas dangkal (shallow work) seperti main sosmed akan menguras kapasitas kognitif kita. Akibatnya, otak kita kehabisan bensin untuk fokus pada tujuan hidup produktif.
Mencari Cara Menghilangkan Distraksi dan Bertobat
Berbekal kesadaran ini, saya akhirnya “bertobat”. Saya bertekad kuat untuk berubah. Langkah awalnya adalah mengabaikan segala godaan tidak penting. Saya mulai kembali melirik tumpukan buku di rak. Walau jujur saja, baru baca selembar, pikiran sudah melayang ke mana-mana dan mata pun mengantuk.
Belum lagi urusan pekerjaan. Saya masih berutang membuat proposal dan email kepada suami sekaligus partner bisnis saya. Saat tahu tugas itu belum selesai, mukanya langsung terlipat seperti baju yang minta disetrika!
Kondisi ini memaksa saya mencari cara menghilangkan distraksi yang paling efektif. Menurut Nir Eyal, pakar psikologi konsumen dan penulis buku Indistractable, pemicu utama gangguan sebenarnya berasal dari dalam diri kita (internal triggers). Rasa bosan, cemas, atau lelah membuat kita melarikan diri ke layar ponsel. Daripada lari ke media sosial, kita harus menghadapi perasaan tidak nyaman tersebut agar bisa kembali fokus pada tujuan hidup produktif.
Membangun Kembali Fokus pada Tujuan Hidup Produktif
Saya akhirnya mulai membuka kembali file-file foto di komputer. Wah, ternyata sudah banyak banget bahan menarik yang siap tayang di blog. Mau tidak mau, saya harus nongkrong lagi di depan layar komputer untuk menulis.
Apakah jalannya mulus? Tentu tidak, Sobat JEI. Di tengah-tengah proses merangkai kata, saya kembali tergoda oleh berbagai hal remeh-temeh. Terdistraksi lagi. Otak saya seolah mencari pembenaran, “Aduh Vi, jangan terlalu keras pada diri sendiri…” demikian excuses-nya.
Riset dari American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa multitasking atau perpindahan fokus bisa menurunkan produktivitas hingga 40%. Oleh karena itu, pakar pembentuk kebiasaan James Clear menyarankan kita untuk menciptakan batasan fisik. Jauhkan ponsel dari meja kerja saat sedang menulis. Ini adalah cara menghilangkan distraksi yang sangat ampuh. Melalui langkah kecil ini, kita memutus kebiasaan buruk secara perlahan, sehingga kita bisa kembali fokus pada tujuan hidup produktif tanpa banyak alasan.
eviindrawanto.com
