
Pernahkah Sobat JEI merasa terhimpit oleh beban hidup yang terasa masif dan pejal? Seorang tukang batu yang cerdik melihat batu besar bukan sebagai penghalang, melainkan bahan baku karya seni. Artikel ini akan membahas cara memecahkan masalah besar dengan metode dekomposisi atau penguraian. Intinya sederhana: Sobat JEI perlu memecah masalah utama menjadi satuan kecil, memetakan penghambat dan pendorong, lalu menyusunnya kembali menjadi solusi brilian. Mari kita ubah cara pandang kita sekarang.
Filosofi Batu Besar dalam Psikologi Manusia
Batu besar sering kali menjadi analogi sempurna untuk cara berpikir kita saat menghadapi krisis. Masalah sering tampak begitu masif. Kita merasa kehilangan semangat bahkan sebelum mencoba mencari solusi.
Psikolog menyebut kondisi ini sebagai Analysis Paralysis. Ini adalah keadaan ketika kita terlalu memikirkan skala masalah sehingga otak menjadi buntu. Akibatnya, timbul rasa putus asa, apatis, dan pasif. Kita seolah menyerah pada takdir buruk.
Henry Ford, tokoh revolusioner industri otomotif, pernah berkata: “Nothing is particularly hard if you divide it into small jobs.” (Tidak ada hal yang sulit jika Anda membaginya menjadi pekerjaan-pekerjaan kecil). Seperti sebongkah batu andesit, masalah sekeras apa pun akan luluh jika Sobat JEI tahu titik retaknya.
Strategi Tukang Batu yang Cerdik
Tentu saja, setiap masalah selalu memiliki jalan keluar. Kuncinya ada pada teknik pemecahan. Sobat JEI harus meniru pola pikir tukang batu yang cerdik. Mereka tidak menghantam batu sembarangan. Mereka mencari celah, menggunakan alat yang tepat, dan memecahnya perlahan.
Riset dalam Cognitive Science mendukung hal ini melalui teori Chunking. Otak manusia bekerja lebih efisien saat memproses informasi dalam potongan-potongan kecil (chunks) daripada satu blok informasi besar sekaligus.
Berikut adalah langkah taktisnya:
- Identifikasi Masalah Utama: Tentukan “batu besar” apa yang ingin Sobat JEI pecahkan.
- Pecah Menjadi Kerikil: Uraikan masalah tersebut menjadi satuan-satuan kecil yang bisa dikelola.
- Bingkai Ulang: Lihat potongan masalah itu sebagai bahan untuk membangun sesuatu yang baru.
Cara Memecahkan Masalah dengan Diagram Pohon
Bagaimana cara praktis mengurai masalah tersebut? Mari kita ambil contoh kasus ingin meningkatkan omset bisnis.
Gambarkan masalah utama pada sehelai kertas. Metode ini mirip dengan cara Charles Darwin saat pertama kali men sketsa teori Evolusi dalam buku catatannya. Visualisasi adalah kunci kejelasan berpikir.
1. Buat Batang Masalah
Gunakan Diagram Pohon (Tree Diagram) atau sering juga disebut Ishikawa Fishbone Diagram dalam manajemen kualitas. Jadikan dua faktor utama sebagai batangnya:
- Faktor Penghambat (Inhibitors)
- Faktor Pendorong (Drivers)
2. Kembangkan Cabang-Cabang
Dari dua batang tadi, buatlah cabang-cabang faktor yang lebih spesifik. Di sini Sobat JEI bisa memasukkan unsur-unsur vital seperti:
- Sumber Daya Manusia (SDM)
- Keahlian teknis
- Permodalan
- Interaksi tim
- Strategi marketing
- Penjualan (Sales)
3. Detailkan Ranting (Deep Dive)
Dari cabang SDM, kembangkan lagi rantingnya. Apakah masalahnya ada pada motivasi? Atau mungkin gaya kepemimpinan? Semakin rimbun pohon masalah Sobat JEI, semakin baik. Ini menandakan kita telah membedah masalah hingga ke akar-akarnya.
Menyusun Mozaik Solusi Baru
Setelah pohon masalah terbentuk lengkap, Sobat JEI akan melihat pola yang sebelumnya tersembunyi. Hubungkan beberapa cabang dalam satu benang merah.
Di sinilah cara memecahkan masalah berubah menjadi seni. Persis seperti seniman yang menempelkan kerikil di dinding untuk membentuk mozaik bunga atau menyusun batu sikat di lantai membentuk gajah. Sobat JEI bisa membentuk opini dan strategi baru dari serpihan masalah tadi.
Opini-opini segar inilah senjata utama kita. Gunakan untuk menaikkan omset atau menyelesaikan tantangan apa pun. Jadilah tukang batu yang cerdik; hancurkan masalahnya, lalu susun kepingannya menjadi tangga menuju kesuksesan.
eviindrawanto.com
