
Mencari contoh bisnis yang lahir karena kreativitas adalah langkah awal yang sangat tepat bagi Sobat JEI yang ingin merintis usaha. Pada dasarnya, kreativitas tidak memiliki batas. Selama kita mau jeli mengamati peluang di sekitar dan berani mencoba mengeksekusinya, ide sekecil apa pun bisa tumbuh menjadi usaha yang menjanjikan. Artikel ini akan membedah bagaimana ide-ide sederhana, bila digabungkan dengan sudut pandang yang baru, mampu menciptakan peluang pasar yang luar biasa.
Rahasia Menggabungkan Ide Lama Menjadi Inovasi Baru
Banyak orang mengira inovasi harus berasal dari sesuatu yang belum pernah ada di muka bumi. Padahal, inovasi sering kali hanya berupa modifikasi dari hal-hal yang sudah kita kenal.
1. Inovasi Silang dalam Bisnis Florist
Dalam bisnis florist atau budidaya tanaman hias, kreativitas merupakan sebuah kebutuhan mutlak. Terutama dalam penanaman anggrek, hasil olah pikir manusia telah melahirkan ribuan jenis bunga cantik ini. Setiap tahun, ada saja varietas baru yang muncul ke pasaran. Spesies baru ini umumnya berasal dari hasil persilangan anggrek yang sudah ada dengan jenis liar yang baru ditemukan dari hutan di seluruh dunia. Inilah satu alasan kuat mengapa para pencinta tanaman anggrek tak pernah kehilangan antusiasme dalam menggeluti hobi cantik yang juga bernilai ekonomi tinggi ini.
2. Menjual Gaya Hidup ala Starbucks
Dalam dunia bisnis kuliner, polanya pun serupa. Manusia menemukan hal-hal baru, kemudian menggabungkannya dengan ide lama. Lihat saja contoh sukses pada Starbucks Coffee. Bisnis ini pada dasarnya adalah gabungan dari konsep warung kopi tradisional, pemenuhan kebutuhan orang akan asupan kafein, yang kemudian di-mix dengan gaya hidup modern.
Kepiawaian mereka dalam memposisikan produk membuat aktivitas menyeruput kopi di Starbucks tidak lagi sekadar urusan minum kopi biasa. Pelanggan menemukan pengalaman mewah, modern, dan tervalidasi oleh masyarakat. Sebuah pengalaman leisure yang tak bisa didapat jika kita hanya duduk di kedai kopi kampung.
Langkah inovatif Starbucks ini membuat kopi kini diterima secara luas di berbagai kalangan. Orang-orang sekarang juga menganggap bahwa kopi bersahabat dengan kesehatan. Coba saja search manfaat kopi di internet; ada bejibun artikel yang membahas dampak positif kopi yang menunjang kesehatan, mulai dari kandungan antioksidan sampai pencegahan penyakit jantung.
Padahal, di kampung saya dulu, anak kecil dan wanita sangat tidak dianjurkan minum kopi karena dikhawatirkan akan bikin otak ‘dodol’ alias bodoh. Kepercayaan mitos seperti itu bahkan masih bertahan di beberapa tempat hingga sekarang. Mungkin ceritanya akan lain jika Howard Schultz lahir di Minang, ya?
Baca juga:
Kekuatan Penamaan dalam Membentuk Peluang Pasar
Pernah mendengar menu Sop Buah? Saya dulu sempat pusing saat pertama kali mendengar orang menyebut bahwa itu adalah sejenis minuman. Di kepala saya, yang namanya ‘sop’ itu adalah menu berkuah kaldu untuk makan nasi yang terbuat dari sayuran dan daging.
Namun, setelah tahu bahwa sop buah tak lebih dari sekadar nama lain untuk es campur yang disajikan lebih modern, saya jadi geli sendiri. Ternyata, dominasi otak kanan yang kreatiflah yang memberinya nama unik tersebut. Perubahan nama sederhana ini sukses mengangkat derajat es campur pinggir jalan menjadi hidangan penutup premium di berbagai restoran.
Eksekusi: Kunci Utama dari Contoh Bisnis yang Lahir Karena Kreativitas
Kembali kepada esensi kreativitas. Teman-teman pasti sudah memperhatikan bahwa contoh bisnis yang lahir karena kreativitas yang saya sebutkan di atas mayoritas berasal dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Ide Starbucks berakar dari kedai kopi biasa, sementara Sop Buah adalah blending unik dari konsep es campur dan mangkuk sayur sop.
Memang begitulah cara kerja ide-ide dari kepala yang kreatif. Mereka tidak tiba-tiba meloncat keluar dari kegelapan ruang hampa. Ide baru selalu merupakan gabungan, modifikasi, atau penyempurnaan dari beberapa hal yang sudah eksis sebelumnya.
Mengapa Tidak Semua Ide Menjadi Bisnis Nyata?
Namun, apakah ide merangkai Anggrek Kalajengking dengan Dendrobium Queen, menyulap kedai kopi jadi Starbucks, maupun meracik Sop Buah adalah ide yang kelewat spektakuler? Sebenarnya tidak juga. Improvisasi entitasnya tak terlalu jauh melompat. Anggrek tetap dengan anggrek, kopi digabung dengan kopi atau di kasih gula aren jadi kopi susu gula aren, buah berpadu dengan buah. Mereka masih berada di dalam lingkaran kotak yang sama. Walau demikian, sebuah roda bisnis raksasa sudah berhasil menggelinding dari sana.
Kalau dipikir-pikir, tidak sulit menemukan ide-ide bisnis baru. Yang paling dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk mengeksekusinya.
Sebagai contoh, saya pernah coba-coba bereksperimen membuat minuman penyegar dengan pemanis palm sugar atau gula aren murni. Jadilah beberapa ramuan herbal nikmat yang sangat pas diminum saat santai. Satu di antara resep andalan saya terdiri dari rebusan daun pandan, jahe, dan kapulaga. Rasanya? Tentu saja sangat enak dan menghangatkan tubuh.
Lantas, mengapa minuman potensial ini tak kunjung menjadi entitas bisnis baru di bawah bendera Arenga Indonesia?
Kuncinya ternyata tak hanya berhenti pada penemuan contoh bisnis yang lahir karena kreativitas, melainkan pada keberanian dan kemauan untuk mengeksekusi ide tersebut ke pasar nyata. Seperti kata tokoh reformasi Martin Luther, “To create is always to do something new.” Dan pada saat itu, saya sepertinya memang belum siap sepenuhnya untuk to do—terjun langsung berjualan minuman herbal.
Kalau Sobat JEI sendiri bagaimana? Sudah siapkah menemukan ide sederhana dan mengeksekusinya menjadi bisnis hari ini?
eviindrawanto.com
