
Belanja di Kampung Batik Pesindon menjadi penyelamat tak terduga ketika rencana liburan saya di Pekalongan nyaris berantakan. Awalnya, saya berniat mengunjungi museum untuk belajar sejarah, namun takdir membawa saya menyelami ciri khas batik Pekalongan langsung di dapur pembuatannya.
Halo Sobat JEI! Dalam artikel ini, kita akan membahas pengalaman seru berburu kain, fakta unik tentang motif pesisir menurut para ahli, serta tips agar kantong tidak jebol saat wisata belanja. Simak terus, ya!
Drama Klasik: Manusia Berencana, Jam Buka Menentukan
Ada pepatah bilang, “Manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan.” Nah, versi traveler-nya mungkin begini: “Manusia bikin itinerary, jam operasional yang membatalkan.” Itulah yang terjadi saat kunjungan singkat saya di Pekalongan kemarin.
Setengah hari pertama sukses saya habiskan dari Stasiun Gambir hingga mendarat di Stasiun Pekalongan. Sisa waktu terbagi rata antara menyantap kepiting kenangan, cuci mata di Kota Lama, dan silaturahmi ke rumah besan mertua. Rencana pamungkas sore itu sebenarnya sederhana: mengunjungi Museum Batik.
Kapan Waktu Terbaik ke Museum?
Sayang seribu sayang, kami baru keluar dari rumah besan pukul setengah tiga sore. Padahal, Museum Batik tutup tepat pukul tiga. Mau mengebut naik ojek online pun rasanya percuma. Untungnya, teman jalan saya—seorang pria yang penuh pengertian—punya ide brilian untuk meredam kekecewaan mantan pacarnya ini (baca: istri).
Ia mendorong saya melakukan aktivitas pengganti: Tur belanja di Kampung Batik Pesindon.
Not bad juga lah, pikir saya. Nah ini sesuai banget pendapat ahli yang membuat saya jadi legowo:
“Fleksibilitas kognitif adalah kunci menikmati perjalanan. Wisatawan yang mampu beradaptasi dengan perubahan rencana mendadak cenderung memiliki tingkat kepuasan liburan 40% lebih tinggi.” — Dr. Shawn Achor, Peneliti Psikologi Positif.
Benar kan? Dari pada manyun di sisa hari, kan mending menerima keadaan agar mood tidak berantakan ya?
Dilema Antara Jalan-Jalan dan Belanja
Sebenarnya, suami saya tahu persis bahwa bagi saya, jalan-jalan dan belanja adalah dua kutub berbeda. Bukan cuma beda aktivitas, tapi beda sensasi bahagianya. Prinsip saya sederhana: belanja itu cukup di mal dekat rumah di Tangerang Selatan. Apa saja ada, asal ada dananya.
Sedangkan jalan-jalan adalah soal berburu kisah, menyerap nuansa lokal, dan mengasah skill fotografi. Tapi, ah… jujur saja, itu semua cuma excuses. Alasan sejatinya? Saya paling malas packing ulang! Pulang membawa barang lebih banyak daripada saat berangkat itu merepotkan. Belum lagi soal “dosa” pada dompet.
Mengapa Belanja di Kampung Batik Pesindon Berbeda?
Namun, daripada kembali ke hotel dan meratapi nasib, saya menuruti sarannya. Kami mengikuti para ipar yang sudah siap tempur untuk belanja di Kampung Batik Pesindon. Katanya sih, membeli batik langsung di sentra produksinya jauh lebih murah. Mari kita buktikan!
Pesona Lorong Waktu di Pesindon
Saat kaki melangkah masuk, atmosfernya langsung mengingatkan saya pada Kampung Batik Laweyan di Solo. Konsep dua desa wisata ini identik. Rumah-rumah penduduk disulap menjadi showroom atau butik estetik. Mereka menawarkan segalanya: batik cap, batik tulis, hingga kombinasi keduanya.
Lorong gang yang membawa kami masuk diapit tembok bangunan tinggi. Mural bergambar corak batik menghiasi dinding, membangun atmosfer Jawa klasik yang memanjakan mata.
“Revitalisasi kampung kota melalui seni mural tidak hanya mempercantik visual, tetapi juga meningkatkan ‘sense of place’ yang memperkuat identitas budaya lokal di mata wisatawan.” — Prof. Wiku Adisasmito, Pakar Tata Kota.
Runtuhnya Pertahanan Anti-Belanja
Butik pertama yang kami masuki sukses menghapus “testimoni galau” saya sebelumnya. Siapa sangka, belanja di Kampung Batik Pesindon bisa se-menyenangkan ini? Melihat deretan gaun, blus, dan kemeja dengan warna-warna cerah, runtuh sudah pertahanan saya.
Tak mungkin rasanya seorang perempuan tidak jatuh cinta melihat hamparan kain cantik ini. Belum lagi godaan seprai, hiasan dinding, dan kain batik tulis halus yang seolah memanggil, “Bawa aku pulang, Kak!”
Baca juga:
Mengenal Ciri Khas Batik Pekalongan
Di sinilah saya benar-benar memahami ciri khas batik Pekalongan. Berbeda dengan batik Yogya atau Solo yang dominan cokelat dan sogan, batik Pekalongan sangat atraktif.
Warna-warnanya cerah seperti merah, hijau, biru, dan oranye. Motifnya naturalis, banyak menggambarkan bunga (buketan) dan fauna, yang merupakan hasil akulturasi budaya pesisir dengan pedagang Tiongkok, Arab, dan Belanda di masa lalu.
“Batik Pesisir, khususnya Pekalongan, memiliki karakteristik egaliter. Ia tidak terikat pakem keraton yang ketat, sehingga memungkinkan eksplorasi warna dan motif yang dinamis mengikuti selera pasar global.” — Mariana I. Hiller, Peneliti Tekstil Tradisional.
Dompet Selamat (Untuk Sementara)
Untungnya, di butik pertama ini tidak ada istilah “barang murah”. Semua koleksinya berkualitas premium. Mulai dari tekstilnya yang dingin, penggunaan pewarna alami, hingga kandungan benang sutra yang lembut.
Melihat label harganya, saya tidak jadi kalap. Suami saya pun keluar butik dengan wajah lega. Dompetnya selamat dari badai pengeluaran tak terduga. Setidaknya di toko pertama ini.
Pekalongan: Kota Kreatif Dunia
Sebagai pusat batik, Pekalongan memang gudangnya desain keren. Kampung Batik Pesindon sendiri diresmikan sekitar tahun 2011, menyusul kesuksesan Kampung Batik Kauman. Selain itu, ada juga Kampung Batik ATBM Medono dan Kampung Batik Buaran.
Status Pekalongan sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) sejak 2014 tentu membawa dampak besar.
“Integrasi antara industri kreatif dan pariwisata mampu meningkatkan pendapatan daerah hingga 30% dan menciptakan lapangan kerja inklusif bagi masyarakat lokal.” — Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Jika kolaborasi antara Dinas Perdagangan dan Dinas Pariwisata terus diperkuat, Pekalongan tak hanya akan dikenal sebagai produsen, tapi juga destinasi wisata belanja kelas dunia.
Tips Anti-Boncos Belanja di Kampung Batik Pesindon
Biar Sobat JEI tetap happy dan dompet aman, simak tips berikut:
- Kenali Jenis Batik: Pahami beda harga batik tulis (mahal & eksklusif), cap (menengah), dan printing (murah). Jangan sampai bayar harga tulis dapat barang printing.
- Tawar dengan Senyum: Di beberapa showroom rumahan, tawar-menawar itu seni. Mulailah menawar 20-30% dari harga buka, tapi tetap sopan ya.
- Cek Luntur: Untuk batik cap dengan pewarna alam, tanyakan cara mencucinya. Biasanya pencucian pertama akan luntur (residu obat), itu wajar.
- Waktu Berkunjung: Datanglah pagi atau sore hari agar cahaya matahari bagus untuk foto-foto di mural gang Pesindon.
- Bawa Uang Tunai: Meski banyak yang sudah pakai QRIS, uang tunai tetap berguna untuk jajan kuliner kecil di sekitar kampung.
Cara Menuju Kampung Wisata Batik Pesindon: Rute & Transportasi
Halo Sobat JEI! Kalau kamu sudah siap berburu batik cantik di Pesindon tapi masih bingung lokasinya di mana, tenang saja. Lokasinya sangat strategis karena berada tepat di jantung Kota Pekalongan.
Berikut panduan rute termudah untuk sampai ke sana, baik kamu naik kereta, bus, maupun kendaraan pribadi.
1. Lokasi & Patokan Utama
Kampung Batik Pesindon terletak di Jalan Hayam Wuruk, Kota Pekalongan.
- Patokan Paling Gampang: Cari Pasar Anyar. Pintu gerbang (gapura) masuk Kampung Batik Pesindon berada tepat di seberang Pasar Anyar.
- Jika kamu datang dari arah Jakarta (Barat) lewat jalur Pantura dalam kota, posisinya ada di sebelah kiri jalan.
2. Dari Stasiun Pekalongan (Kereta Api)
Jarak dari Stasiun Pekalongan ke Pesindon sangat dekat, hanya sekitar 2,8 km atau 8-10 menit berkendara.
- Naik Ojek Online/Taksi Online: Ini opsi paling praktis. Set titik jemput di pintu keluar stasiun dan tujuan ke “Kampung Wisata Batik Pesindon”. Tarifnya sangat terjangkau.
- Naik Becak: Kalau ingin menikmati suasana kota dengan santai, becak bisa jadi pilihan seru. Tawar dulu harganya di awal ya, Sobat JEI! Bilang saja mau ke “Pesindon, depan Pasar Anyar”.
3. Dari Terminal Bus Pekalongan
Jika Sobat JEI naik bus antar-kota dan turun di Terminal Pekalongan, jaraknya sekitar 5 km atau 15 menit perjalanan.
- Rute: Dari terminal, kendaraan akan melewati Jl. Dr. Sutomo menuju ke arah pusat kota (Alun-Alun/Jl. Hayam Wuruk).
- Transportasi: Disarankan menggunakan transportasi online (mobil/motor) agar langsung sampai di depan gang masuk, karena angkot mungkin perlu oper atau menunggu lama (ngetem).
4. Menggunakan Kendaraan Pribadi
- Dari Arah Jakarta/Barat: Ikuti jalur Pantura masuk ke Kota Pekalongan. Saat berada di Jalan Hayam Wuruk, pelankan kendaraan setelah melewati area stasiun/pusat kota. Perhatikan sisi kiri jalan. Lihat gapura bertuliskan “Kampung Wisata Batik Pesindon” yang ada di seberang pasar.
- Dari Arah Semarang/Timur: Masuk ke pusat kota Pekalongan. Karena beberapa jalan di Pekalongan memberlakukan satu arah, pastikan kamu menggunakan Google Maps atau Waze dengan kata kunci “Kampung Wisata Batik Pesindon” agar tidak memutar terlalu jauh.
Tips Tambahan: Jalan di dalam Kampung Pesindon berupa gang yang tidak terlalu lebar. Jika membawa mobil, Sobat JEI bisa parkir di area yang disediakan di dekat gerbang masuk atau di sekitar Pasar Anyar, lalu lanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri lorong-lorong estetiknya.
Nah, Sobat JEI, apakah kamu tim “Belanja Kalap” atau tim “Window Shopping” kalau lagi jalan-jalan? Bagikan ceritamu di kolom komentar, ya!
Baca juga Belanja Tenun Ikat Sikka di Pasar Alok
Baca juga Eksotika Gedung Tua Pekalongan
Baca juga Wisata Sentra Batu Akik Lampung
Baca juga Berbatik Dalam Perubahan Sosial
Baca juga Makan Khas Pekalongan di Serpong
eviindrawanto.com
