
Key Takeaways
- Suku Dayak Saban memiliki sejarah migrasi yang kaya dan unik, terbagi menjadi dua kelompok utama.
- Pengalaman wisata budaya Kalimantan Utara di Festival Irau Malinau menawarkan ritual adat yang mendalam dan magis.
- Pakaian tradisional Suku Dayak Saban, seperti Tekan Talun, menampilkan keunikan dan filosofi yang mendalam terhadap budaya mereka.
- Ritual Pasa Hwal menjadi simbol kepemimpinan dengan seleksi fisik dan mental, menggambarkan nilai keberanian dalam masyarakat.
- Tari Burung Enggang dan Marang Tuung memperlihatkan warisan budaya yang dijaga oleh generasi muda di Suku Dayak Saban.
Halo Teman-teman! Pernahkah kalian membayangkan berdiri di tengah riuh rendah pedalaman Kalimantan, dikelilingi oleh para ksatria yang mengenakan kulit harimau dan mahkota burung enggang?
Jika kalian mencari pengalaman wisata budaya Kalimantan Utara yang benar-benar otentik, maka kalian harus mengenal Suku Dayak Saban.
Hari itu di Festival Irau Malinau, saya merasa seperti terlempar ke masa lalu. Bukan sekadar tontonan, ini adalah jendela menuju jiwa Borneo. Di tengah kerumunan, saya menyaksikan magisnya upacara adat Suku Dayak Saban—sebuah ritual pencarian pemimpin yang penuh ketangkasan dan filosofi mendalam.
Mari saya ajak kalian menelusuri jejak mereka, mulai dari sejarah migrasi leluhur hingga Pasa Hwal, ritual gulat yang legendaris itu.
Sejarah dan Asal Usul Suku Dayak Saban
Sebelum kita masuk ke ritualnya, mari kita gali sedikit tentang siapa sebenarnya mereka.
Berdasarkan penuturan para tetua adat, sejarah Suku Dayak Saban (atau Sa’ban) bermula dari Hulu Sungai Long Pu’un. Pada abad ke-18, terjadi perpindahan besar-besaran yang memecah suku ini menjadi dua kelompok utama.
- Kelompok Pertama: Bermigrasi ke Bario, Kelabit, Malaysia. Di sana, karena jumlahnya sedikit, mereka sering dikategorikan di bawah kelompok “Orang Ulu” dan memiliki kekerabatan erat dengan suku Kelabit.
- Kelompok Kedua: Menuju Peangau, Lonal, di Hulu Sungai Bahau, Indonesia.
Ratusan tahun kemudian, migrasi kedua terjadi. Sebagian menyebar ke Long Banga dan Long Puak (Sarawak), sebagian ke Krayan Hulu (Nunukan), dan sebagian lagi menuju Sungai Tuhuk, Pekalon, Kabupaten Malinau. Saat ini, komunitas terbesar mereka di Malinau menetap di Desa Lokbilak.
Filosofi Busana: Dari Tekan Talun hingga Tato Gelang
Salah satu hal yang membuat mata saya tak berkedip adalah keunikan busana mereka. Lupakan kain modern, Suku Dayak Saban tampil gagah dengan Tekan Talun, pakaian dari kulit kayu yang diproses secara tradisional.
Pria Dayak Saban
Para lelaki tampil garang layaknya ksatria penjaga hutan. Rambut mereka dipotong poni rata di depan, namun dibiarkan panjang di belakang. Aksesorisnya? Sungguh intimidating sekaligus memukau:
- Anting Gasing: Terbuat dari kuningan berat yang membuat lubang telinga memanjang.
- Hiasan Taring: Lubang telinga bagian atas sering diselipkan taring harimau.
- Kalung Taring Babi: Melingkar di leher sebagai simbol keberanian.
Wanita Dayak Saban
Para wanita mengenakan blus putih dan rok Tekan Talun yang elegan. Namun, ada satu ciri khas yang menyimpan makna spiritual mendalam: Tato Gelang.
Bagi wanita yang sudah menikah, wajib memiliki tato bermotif gelang pada tangan dan betis. Ini bukan sekadar hiasan tubuh. Menurut kepercayaan leluhur, tato gelang adalah “lambang terang”. Jika wanita tersebut meninggal dunia, tato ini akan bersinar menjadi petunjuk jalan dalam kegelapan menuju alam baka. Merinding, kan?
Selain itu, rekor MURI pernah pecah di sini berkat Ani Ka’bo, sebuah kalung manik raksasa yang merupakan benda budaya bernilai filosofi tinggi bagi masyarakat Dayak Saban.
Pasa Hwal: Ritual Mencari Pemimpin Tangguh
Ini adalah momen puncak yang saya tunggu-tunggu dalam Upacara Adat Suku Dayak Saban.
Sistem kepemimpinan tradisional mereka tidak dipilih lewat pemungutan suara, melainkan lewat pembuktian fisik dan mental. Mereka membutuhkan figur yang berani dan kuat. Ritual seleksi ini disebut Pasa Hwal (seni gulat tradisional).
Tahapan Seleksi: Sa’ban Telmeh
Prosesnya dimulai dengan mengumpulkan para pemuda yang beranjak dewasa. Ujian pertama adalah Sa’ban Telmeh, yaitu melompati batu yang dipasangi bambu runcing di atasnya. Bayangkan risikonya! Jika gagal melompat, peserta akan terluka oleh bambu runcing tersebut.
Dalam dramatisasi yang saya saksikan, dikisahkan persaingan dua bersaudara. Sang Adik berhasil memenangkan tantangan melompati bambu runcing. Namun, Sang Kakak yang ngeyel dan tidak terima, menantang adiknya untuk ronde kedua: gulat Pasa Hwal.
Sayangnya (atau untungnya), Sang Kakak kembali kalah. Akhirnya, Sang Adik yang terbukti lebih tangguh dan lincah diangkat menjadi pemimpin suku, ditandu, dan diarak keliling kampung sebagai pengumuman resmi.
Tari Burung Enggang dan Marang Tuung
Selain ritual fisik, kelembutan budaya juga hadir lewat tarian.
- Tari Burung Enggang: Ditarikan oleh wanita Dayak Saban, termasuk tamu dari Sarawak. Tarian ini memuliakan burung Enggang/Rangkong yang dianggap sebagai jelmaan leluhur yang turun dari langit. Gerakan bulu-bulu enggang yang indah menyimbolkan penghormatan sakral.
- Marang Tuung: Ini favorit saya! Sebuah simulasi tari perang yang dibawakan oleh anak-anak. Dua anak laki-laki dan dua perempuan dengan tangkas memainkan Mandau dan Perisai. Melihat generasi muda begitu fasih menjaga tradisi memberikan harapan bahwa budaya ini tak akan punah.
Cara Menuju Desa Suku Dayak Saban (Malinau)
Bagi Teman-teman yang ingin menyaksikan langsung keunikan budaya ini, perjalanan menuju pedalaman Malinau adalah petualangan tersendiri.
- Penerbangan ke Tarakan: Langkah pertama, terbanglah menuju Bandara Juwata di Tarakan (TRK).
- Menuju Malinau: Dari Tarakan, kalian bisa naik speedboat reguler (sekitar 3 jam perjalanan menyusuri sungai) atau pesawat perintis (seperti Susi Air/Wings Air) menuju Bandara Robert Atty Bessing di Malinau.
- Menuju Lokasi: Untuk mencapai Desa Lokbilak atau desa budaya lainnya, kalian perlu menyewa mobil (strada/double cabin) dari pusat kota Malinau. Pastikan bertanya pada warga lokal atau tour guide tentang jadwal Festival Irau Malinau yang biasanya digelar dua tahun sekali (seringkali di bulan Oktober) untuk melihat upacara lengkapnya.
Tips Berkunjung ke Pemukiman Dayak Saban
- Hormati Adat: Jika melihat kalung manik tua (Ani Ka’bo), jangan sembarangan menyentuh tanpa izin. Itu adalah pusaka.
- Sopan Santun Foto: Selalu minta izin sebelum memotret, terutama pada tetua adat yang bertato penuh. Biasanya mereka sangat ramah, tapi izin adalah kunci.
- Persiapan Fisik: Cuaca di Malinau bisa sangat panas namun lembap. Bawa lotion anti nyamuk dan pakaian yang menyerap keringat.
- Oleh-oleh: Dukung ekonomi lokal dengan membeli kerajinan manik-manik atau anyaman rotan asli buatan mama-mama Dayak Saban.
Menyaksikan Upacara Adat Suku Dayak Saban bukan sekadar liburan, melainkan sebuah refleksi tentang keberanian, penghormatan pada leluhur, dan harmoni dengan alam.
Selamat menjelajah Borneo, Teman-teman!
Salam, Evi
Foto-Foto Upacara Adat Suku Dayak Saban
Baca juga : Tabalong Ethnic Carnival
- Desert Flower Kisah Perjalanan Seorang Model Berkulit Hitam
- Keindahan Masjid Agung Jawa Tengah
- Telisik Unik Sudut Pelabuhan Sunda Kelapa
Baca juga di sini :
- Sichuan Opera yang Menawan di Shufengya Yun
- Museum Resto di Malang; Rumah Makan Inggil
- Museum Kolonial Penang; Memanjakan Mata dan Rasa
Baca juga:








