Key Takeaways
- Pasar Alok Maumere menawarkan pengalaman unik bagi pencinta Tenun Ikat Sikka dengan ragam kain yang kaya warna dan budaya.
- Penjual kain di pasar adalah mama-mama Sikka yang mengenakan pakaian tradisional dan melestarikan warisan leluhur.
- Setiap motif Tenun Ikat Sikka memiliki makna filosofis yang dalam, menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan leluhur.
- Pasar Alok bukan hanya tempat belanja, tetapi juga merupakan ikon wisata belanja Maumere yang harus dikunjungi.
- Tips berbelanja di pasar termasuk datang pada hari Selasa, membandingkan harga, dan menawar dengan ramah.
Teman-teman, pernahkah kalian merasa “dipanggil” oleh selembar kain?
Itulah yang saya rasakan saat menjejakkan kaki di Pasar Alok Maumere. Waktu itu, pertanyaan saya kepada Lisa, koordinator tur Semana Santa Larantuka, cukup sederhana: “Apakah kita akan mampir ke sentra produksi Tenun Ikat Sikka?”
Keinginan hati ingin melihat langsung dapur pembuatan wastra yang legendaris ini—seperti saat saya melihat proses tenun Troso di Jepara atau tenun Sumba. Namun, waktu berkata lain. Kami hanya punya dua hari di Maumere sebelum melanjutkan perjalanan ke Larantuka.
Tapi, semesta punya cara sendiri untuk menghibur. Lisa membawa saya ke tempat yang justru menjadi muara dari semua keindahan itu: Pasar Alok Maumere.
Pesona Tenun Ikat Sikka di Pasar Alok Maumere
Selasa pagi, pukul delapan, saya sudah berdiri di depan gerbang Pasar Alok. Suasana pasar rakyat terbesar di Kabupaten Sikka ini baru saja menggeliat. Beberapa pedagang sibuk membongkar muatan dari gerobak.
Beruntung sekali, hari itu adalah hari Selasa. Bagi masyarakat Maumere, Selasa adalah hari pasar keramat bagi kain-kain tenun yang datang dari seantero pelosok desa. Pasar Alok Maumere pagi itu bukan sekadar pasar, melainkan sebuah galeri seni raksasa yang hidup dan bernapas.
Menceburkan diri ke dalam hiruk-pikuk Pasar Alok ternyata menjadi ujian iman bagi dompet saya. Los pasar yang beratap seng tanpa dinding itu dipenuhi oleh kain tenun NTT yang digantung menggunakan tali rafia.
Warna-warna alam yang didominasi hitam, merah tanah, coklat tua, indigo, dan kuning kunyit seolah menjerit, meminta untuk diadopsi. Setiap helai Tenun Ikat Sikka di sini bukan sekadar kain, mereka adalah lembaran cerita yang ditenun dengan kesabaran dan cinta.
Bertemu Mama-Mama Penjual Tenun yang Ikonik
Hal menarik lainnya yang tak boleh teman-teman lewatkan adalah pesona para penjualnya. Mama-mama penjual Tenun Ikat Sikka ini tampil dengan dandanan asli perempuan Sikka yang anggun.
Perhatikan rambutnya yang digulung membentuk sanggul tinggi di belakang kepala—gaya ini disebut Legen. Si Mama
mengenakan blus mirip baju kurung dengan leher lebar, dipadukan dengan sarung tenun yang disebut Utan. Uniknya, Utan ini tidak dilipat di pinggang seperti sarung pada umumnya, melainkan disampirkan begitu saja namun tetap terlihat elegan.
Di balik senyum ramah mereka, tersimpan ketangguhan perempuan Flores yang melestarikan warisan leluhur sekaligus menopang ekonomi keluarga.
Sejarah Singkat: Dari Raja Don Aleksius hingga Pasar Alok
Sebelum teman-teman kalap belanja, ada baiknya kita mengenal sedikit sejarah tempat ini agar kain yang kita beli terasa lebih bernyawa.
Tenun Ikat Sikka diyakini telah ada sejak tahun 1600-an. Tradisi ini diprakarsai oleh Raja Don Aleksius Alesu Ximenes Da Silva, atau yang dikenal sebagai Mo’ang Lesu. Beliaulah yang merintis tradisi menenun di wilayah yang kini menjadi Kabupaten Sikka. Konon, motif Rempe Sikka Tope diciptakan khusus untuk mengenang beliau karena merupakan motif kesukaannya.
Sedangkan Pasar Alok sendiri memiliki sejarah panjang sebagai denyut nadi ekonomi Maumere. Pasar ini pernah mengalami pasang surut, mulai dari renovasi besar di tahun 2004 hingga bangkit kembali pasca kebakaran beberapa tahun silam. Kini, Pasar Alok bukan hanya tempat transaksi sayur-mayur, tetapi telah menjadi ikon wisata belanja Maumere yang wajib dikunjungi para pemburu kain etnik.
10 Motif Tenun Ikat Sikka dan Makna Filosofisnya
Membeli kain tenun NTT tanpa tahu maknanya ibarat membeli buku tanpa membacanya. Setiap motif Tenun Ikat Sikka memiliki filosofi mendalam tentang hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan Sang Pencipta.
Berikut adalah 10 motif populer yang bisa teman-teman temukan di sana:
- Utang Merak: Motif ini biasanya digunakan sebagai busana pengantin perempuan, melambangkan kecantikan dan keanggunan.
- Manu Hutu: Menggambarkan induk ayam yang melindungi anak-anaknya. Maknanya adalah perlindungan dan kasih sayang seorang ibu.
- Jarang Atabi’an: Motif kuda (jarang) yang bermakna kendaraan arwah menuju alam baka. Ini adalah simbol penghormatan kepada leluhur.
- Rempe Sikka: Motif klasik yang melambangkan persatuan dan kerukunan dalam keluarga.
- Dala Mawarani: Bermakna “Bintang Kejora”. Simbol penerang, harapan, dan petunjuk arah dalam kehidupan.
- Utang Wenda: Motif yang menyimbolkan kehidupan yang bahagia dan penuh sukacita.
- Utang Mitang: Kain dengan dominasi warna gelap (hitam/indigo), biasanya dikhususkan untuk orang tua atau tetua adat sebagai simbol kebijaksanaan.
- Utang Sesa We’or: Motif burung murai yang sering digunakan oleh pasangan pengantin baru, melambangkan kesetiaan.
- Orange Tulada: Motif pohon hidup yang bermakna sumber kehidupan dan sifat memberi/kedermawanan.
- Naga Lalang: Motif ular naga yang melambangkan kekuatan, kewibawaan, dan penjaga harta.
Baca juga:
Panduan Menuju Pasar Alok Maumere
Bagi teman-teman yang baru pertama kali ke Maumere, jangan khawatir. Lokasi pasar ini sangat strategis.
- Dari Bandara Frans Seda: Jaraknya hanya sekitar 5,7 km atau 15 menit berkendara. Teman-teman bisa menggunakan ojek pangkalan atau taksi bandara yang tersedia di pintu kedatangan.
- Rute: Ikuti Jalan Nasional Maumere – Larantuka menuju pusat kota (Kecamatan Alok). Pasar ini terletak di jantung kota, sehingga siapa pun penduduk lokal pasti tahu jika kalian bertanya.
- Transportasi Umum: Jika kalian menginap di pusat kota Maumere, kalian bisa naik angkot (bemo) warna kuning atau biru yang melintasi jalur pasar.
Tips Belanja Kain Tenun NTT Agar Dapat Harga Terbaik
Belanja di pasar tradisional tentu ada seninya. Berikut tips dari saya agar teman-teman mendapatkan harga Tenun Ikat Sikka terbaik:
- Datang di Hari Selasa: Ini adalah “hari pasar” di mana koleksi kain paling lengkap dan pedagang dari desa-desa turun gunung. Pilihan lebih banyak, peluang dapat barang unik lebih besar.
- Bandingkan Harga: Jangan langsung beli di lapak pertama. Kelilingi dulu beberapa lapak. Harga bervariasi mulai dari Rp 75.000 untuk syal tenun, hingga jutaan rupiah untuk sarung tenun pewarna alam yang halus.
- Tawar dengan Senyum: Kunci menawar di Flores adalah keramahan. Sapa mama penjual dengan sopan, puji keindahan kainnya, baru tawar perlahan. Jangan menawar terlalu sadis, ingatlah proses pembuatan tenun ini memakan waktu berbulan-bulan.
- Beli Grosir: Jika teman-teman membeli lebih dari satu lembar, biasanya para mama akan dengan senang hati memberikan potongan harga.
- Cek Kualitas: Tanyakan mana yang pewarna alam dan mana yang sintetis (kimia). Tenun pewarna alam biasanya warnanya lebih soft, bahannya lebih sejuk, dan harganya tentu lebih premium.
Meskipun saya tidak sempat melihat proses pembuatannya, membawa pulang sehelai Tenun Ikat Sikka dari Pasar Alok sudah cukup membuat hati bahagia. Warna-warni benangnya akan selalu menghangatkan ingatan saya tentang Maumere.
Teman-teman suka juga kah mengoleksi Wastra Nusantara? Mari kita lestarikan kekayaan budaya ini dengan membelinya langsung dari para perajin.
Sampai jumpa di cerita perjalanan berikutnya!
Ba juga : Video Capa Resort Maumere
Baca juga Beli Tenun Ikat Sumba di Toko Ama Tukang




