Di sebuah sudut Gunung Kupang, Cempaka, Banjarbaru, pernah berdiri sebuah ikon yang begitu ganjil namun memikat. Ia berdiri sendirian, sebuah rumah kayu sederhana yang seolah “tertinggal” atau sengaja disisakan di atas gundukan tanah liat yang menjulang, sementara tanah di sekelilingnya telah habis dikeruk rata.
Masyarakat mengenalnya dengan banyak nama. Ada yang menyebutnya Rumah Sangkut, karena posisinya yang seolah tersangkut di tebing. Ada yang menjulukinya Hanging House. Namun, nama yang paling melekat di ingatan adalah Rumah Jomblo—sebuah gelar yang menyiratkan kesendirian yang abadi di tengah hamparan lahan perumahan Graha Praja Indah.
Pesona dalam Kesendirian
Dulu, Rumah Jomblo adalah magnet bagi para pencari sudut pandang unik. Posisinya yang mencorong sendirian menghadap langit menciptakan siluet yang instagramable sekaligus memancing rasa penasaran. Bagi Evi Indrawanto dan banyak pejalan lain, rumah ini bukan sekadar bangunan kayu; ia adalah sebuah pertanyaan besar.
Mengapa ia ada di sana? Apakah pengembang sengaja menyisakannya sebagai monumen? Atau ada alasan lain yang lebih mistis?
Kondisinya yang ringkih justru menambah daya tariknya. Pintunya yang tak lagi utuh, papan-papan kayu yang mulai tanggal, dan ketiadaan dapur menyiratkan bahwa rumah ini sudah lama ditinggalkan. Aura keterpencilan ini sempat melahirkan julukan seram seperti “Rumah Setan”. Imajinasi liar tentang penunggu tak kasat mata atau alasan mistis mengapa rumah ini tak berani diusik pengembang pun sempat berhembus kencang di antara para pengunjung.
Namun, di balik segala rumor horor itu, Rumah Jomblo menawarkan pemandangan yang memukau. Dari ketinggian gundukan itu, mata bisa leluasa memandang kompleks perkantoran pemerintah Kalimantan Selatan dan perumahan yang sedang tumbuh. Ia menjadi saksi bisu perubahan wajah Banjarbaru dari ketinggian.
Fakta di Balik Misteri
Seiring berjalannya waktu, teka-teki tentang asal-usulnya mulai terkuak. Bukan karena hal mistis, rumah ini sejatinya dibangun sekitar tahun 2008 dengan tujuan yang sangat pragmatis: sebagai tempat istirahat sementara bagi para tukang yang bekerja menggali dan meratakan tanah untuk proyek perumahan tersebut. Ketika proyek selesai, tanah di sekelilingnya dikeruk habis, menyisakan rumah itu bertengger tinggi di atas “pulau” tanahnya sendiri.
Akhir Sebuah Ikon
Sayangnya, segala sesuatu yang fisik memiliki batas waktunya. Rumah Jomblo yang telah menjadi ikon unik fotografi Banjarbaru itu kini telah tiada.
Takdirnya berakhir pada sore hari, 26 Oktober 2017. Bukan karena digusur paksa, melainkan karena alam mengambilnya kembali. Hujan lebat disertai angin kencang (puting beliung) yang melanda kawasan Cempaka hari itu menjadi akhir riwayatnya.
Struktur rumah yang memang tidak memiliki fondasi kokoh—hanya diletakkan di atas tanah—ditambah posisinya yang rawan di puncak gundukan galian, membuatnya tak berdaya melawan hempasan angin. Rumah itu terhempas jatuh, hancur berkeping-keping menyatu dengan tanah merah di bawahnya.
Sebuah Epilog
Kini, jika Anda berkunjung ke Gunung Kupang, pemandangannya telah berubah. Kawasan yang dulu didominasi oleh siluet Rumah Jomblo kini telah dipadati oleh perumahan baru.
Meskipun sempat ada upaya membangun replika atau struktur baru di lokasi serupa sebagai tempat wisata, “jiwa” dari Rumah Jomblo yang asli—dengan segala ketidaksempurnaan, kayu lapuk, dan misteri alaminya—telah pergi.
Tulisan ini adalah sebuah kenangan untuk rumah kayu yang pernah berdiri angkuh dalam kesendiriannya. Ia mengajarkan kita bahwa kadang, hal yang paling sederhana dan tak terduga bisa menjadi sesuatu yang paling diingat. Selamat jalan, Rumah Jomblo.
Baca juga :Â Melongok Peninggalan Sejarah Hulu Sungai Selatan
Baca juga : Bamboo Rafting di Loksado Kandangan Hulu Sungai Selatan
Rumah Jomblo Banjarbaru Sudah Roboh
Lihat Juga ~ Wisata Loksado nan Eksotis ~ Kagum Pada Dayak Meratus ~ Melongok Peninggalan Sejarah Kabupaten Hulu Sungai Selatan ~ Jelajah Pasar Los Batu Kandangan ~ Eksplorasi Kuliner Kandangan
Lokasi :




