
Sobat JEI, saat sedang asyik berberes rak buku, saya menemukan sebuah harta karun. Sebuah buku lama peribahasa Indonesia berjudul 700 Peribahasa Indonesia. Buku terbitan Toko Buku Ekonomi Bandung ini merupakan cetakan tahun 1982. Wow, usianya sudah lebih dari 30 tahun!
Buku ini sukses melewati berbagai perubahan sosial di negeri kita. Pada sampul belakang, tertulis bahwa buku ini untuk murid SD, serta sekolah SPG dan PGA. Dua institusi pendidikan terakhir bahkan sudah tidak ada lagi sekarang.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah peribahasa masih diajarkan secara intensif dalam pelajaran Bahasa Indonesia saat ini? Saya tidak terlalu ingat apakah anak-anak saya mempelajarinya di SD. Namun, harapan saya besar agar warisan literasi ini tetap lestari.
Saat membalik setiap halamannya, imajinasi saya tergelitik. Kata-katanya selalu bercermin pada lingkungan sosial dan alam. Tak berlebihan jika saya memberi judul kedua untuk buku ini: Berguru Kepada Alam.
Makna Dari Peribahasa Kita Berguru Kepada Alam
Apa sebenarnya arti frasa tersebut? Dari peribahasa kita berguru kepada alam berarti menjadikan fenomena alam, perilaku hewan, dan sifat tumbuhan sebagai metafora untuk menjelaskan watak manusia serta dinamika kehidupan.
Dalam kajian ekolinguistik, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi. Bahasa juga merekam kearifan ekologis penuturnya. Nenek moyang kita hidup sangat dekat dengan alam. Mereka mengamati pola-pola natural lalu mengadopsinya menjadi pedoman moral.
Filsuf dan budayawan sering menyebut konsep ini mirip dengan falsafah Minangkabau, “Alam takambang jadi guru”. Alam yang terbentang luas adalah guru sejati bagi kehidupan manusia.
Baca juga:
Contoh Analogi Alam dalam Buku Tua
Mari kita bedah beberapa contoh menarik dari buku lama peribahasa Indonesia ini:
1. Membekali budak lari = Merugi dua kali Peribahasa ini memotret zaman ketika perbudakan masih legal. Saat itu, budak adalah komoditi atau aset berharga. Hilangnya seorang budak jelas mengurangi kekayaan pemiliknya. Apalagi jika budak tersebut lari membawa bekal harta tuannya. Sang pemilik tentu rugi dua kali lipat.
2. Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat Pernahkah Sobat JEI melihat air mengalir dari tabung bambu (pembuluh)? Air tersebut mengalir rapi, fokus, dan berbentuk bulat mengikuti wadahnya. Nenek moyang kita menggunakan fisika sederhana ini untuk menjelaskan musyawarah. Kesepakatan bersama (mufakat) akan menyatukan berbagai pendapat menjadi satu tujuan yang utuh, persis seperti air dalam bambu.
Peribahasa dan Kreativitas Berbahasa
Peribahasa sangat sarat akan kreativitas. Kalimat-kalimat ini penuh analogi cerdas. Nenek moyang kita menyusunnya berdasarkan pengalaman empiris, lalu menggunakannya untuk memotret kehidupan sosial. Hebatnya, makna ini diteruskan dari generasi ke generasi hampir tanpa perubahan.
Contohnya, “Minta tanduk pada kuda”. Kita tahu bahwa secara biologis, kuda tidak bertanduk. Artinya, peribahasa ini menggambarkan kemustahilan—meminta sesuatu yang tidak mungkin didapatkan.
Ahli komunikasi lintas budaya, Edward T. Hall, mengategorikan budaya Indonesia (khususnya Melayu) sebagai High Context Culture. Artinya, kita cenderung berkomunikasi secara tersirat (tidak to the point).
Orang tua kita dulu jarang menegur secara langsung. Mereka “memutar” dulu dengan bunga kalimat atau pantun. Sang penerima pesan harus menggunakan empati dan pengalaman batin untuk memahami maksudnya.
Misalnya: “Terlungkup sama termakan tanah, terlentang sama terminum hujan”. Kita tidak akan paham makna “susah senang ditanggung bersama” dari kalimat itu jika tidak pernah bersentuhan dengan tanah atau merasakan air hujan. Pesan ini melatih kita untuk peka terhadap rasa dan lingkungan.
Apakah Peribahasa Tidak Berkembang?
Ada anggapan bahwa peribahasa tidak berkembang dan buku lama peribahasa Indonesia sudah tidak relevan. Benarkah demikian? Atau mungkin kita saja yang kurang mengeksplorasi?
Memang, peribahasa yang kita kenal sekarang mayoritas adalah produk masa lalu. Kontennya kental dengan kondisi agraris dan sungai. Contohnya, “Belum tentu hilir-mudiknya” yang mengambil analogi transportasi sungai.
Atau peribahasa tentang ketimpangan kekuasaan: “Bak mentimun dan durian”. Mentimun (rakyat kecil) jika beradu dengan durian (penguasa), pasti akan kalah dan terluka. Atau ungkapan penderitaan: “Minum serasa duri, makan serasa lilin, tidur tak lena, mandi tak basah.”
Namun, di era digital ini, mungkin saja akan lahir peribahasa baru berbasis teknologi. Siapa tahu suatu hari nanti anak cucu kita akan menggunakan peribahasa seperti “Jempolmu, harimau-mu” sebagai evolusi dari “Mulutmu, harimau-mu”.
Intinya, dari peribahasa kita berguru kepada alam dan sejarah. Kita belajar bahwa kebijaksanaan bisa datang dari hal-hal sederhana di sekitar kita.
eviindrawanto.com
