
Key Takeaways
- Pohon Kepuh atau Sterculia foetida sering disalahartikan sebagai Gayam, padahal keduanya berbeda baik dalam klasifikasi maupun ciri fisik.
- Buah kepuh memiliki potensi sebagai sumber biodiesel dan obat tradisional, namun memerlukan pengolahan khusus agar aman dikonsumsi.
- Aroma bunga kepuh yang tidak sedap berfungsi menarik lalat sebagai polinator, sementara mitos menyebutkan pohon ini sebagai sarang Genderuwo.
- Masyarakat harus berhati-hati mengonsumsi biji kepuh, karena mentah bisa berbahaya; cara aman adalah dengan disangrai atau dibakar terlebih dahulu.
- Pohon kepuh berkontribusi pada ekosistem dengan menahan erosi dan menjaga cadangan air tanah, serta dapat ditemukan di daerah pesisir dan pemakaman.
Halo, Sobat JEI!
Pernahkah kalian menemukan sebuah pohon raksasa di tepi pantai, dengan buah yang bergelantungan unik, lalu mengiranya sebagai pohon Gayam? S
Itulah pengalaman saya saat berkunjung ke Pantai Pulo Cangkir, Tangerang, beberapa waktu lalu. Melihat pohon tinggi dengan batang bersisik dan daun rimbun, saya sempat yakin itu adalah Gayam (Inocarpus fagifer). Namun, setelah foto tersebut saya unggah, seorang pembaca setia sekaligus pakar, Pak F. Rahardi, memberikan koreksi berharga: Itu bukan Gayam, itu Pohon Kepuh!
Berawal dari salah kenal ini, rasa penasaran saya justru memuncak. Ternyata, pohon Kepuh (Sterculia foetida) bukan sembarang tanaman. Di balik sosoknya yang sering dikaitkan dengan hal mistis, ia menyimpan segudang cerita sains dan manfaat yang belum banyak diketahui orang modern.
Mari kita bedah lebih dalam tentang si raksasa yang sering disalahpahami ini.
Apa Itu Pohon Kepuh (Sterculia foetida)?
Pohon Kepuh, atau dalam bahasa ilmiah disebut Sterculia foetida, adalah kerabat jauh dari kapuk randu. Nama foetida sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti “berbau busuk”. Bukan tanpa alasan, nama ini merujuk pada aroma bunga pohon kepuh yang menyengatโkonon baunya seperti daging busuk atau kotoranโuntuk menarik lalat sebagai polinator alaminya.
Di berbagai daerah di Indonesia, Sobat JEI mungkin mengenalnya dengan nama lain seperti Kelumpang, Kepoh, atau Pranajiwa.
Kepuh vs Gayam: Serupa Tapi Tak Sama
Agar Sobat JEI tidak “terkecoh” seperti saya dulu, penting untuk memahami perbedaan mendasar antara Kepuh dan Gayam, meskipun keduanya sering ditemukan di area pesisir atau pemakaman:
- Klasifikasi: Gayam termasuk suku polong-polongan (Fabaceae), sedangkan Kepuh masuk dalam suku kapas-kapasan (Malvaceae).
- Buah: Buah Gayam berbentuk seperti ginjal keriput dan sering diolah menjadi keripik yang lezat. Sementara buah Kepuh berbentuk folikel (seperti jantung) yang besar, berkulit tebal, keras, dan berwarna merah menyala saat matang. Saat buah kepuh tua pecah, ia akan memperlihatkan biji hitam legam yang bergelantungan.
- Aroma: Bunga Gayam wangi, sedangkan bunga Kepuh, seperti dibahas di atas, memiliki aroma yang kurang sedap.
Mitos Pohon Kepuh: Benarkah Sarang Genderuwo?
Jika Sobat JEI mengetik “Pohon Kepuh” di mesin pencari, salah satu kata kunci yang muncul pasti berkaitan dengan hal mistis.
Dalam folklor Jawa dan Bali, pohon Kepuh yang besar, tua, dan rimbun sering dianggap sebagai “rumah dinas” bagi Genderuwo. Ukurannya yang bisa mencapai tinggi 40 meter dengan diameter batang raksasa memang menciptakan suasana singup (angker) dan lembap di bawah tajuknya. Tak heran jika pohon ini sering dibiarkan tumbuh liar di punden atau kuburan karena warga enggan menebangnya.
Namun, di balik seramnya mitos tersebut, pohon ini sebenarnya adalah penjaga ekosistem yang tangguh. Akarnya yang dalam mampu menahan air tanah, menjaga mata air tetap mengalir meski musim kemarau tiba.
Baca juga:
Manfaat Buah Kepuh yang Jarang Diketahui

Sobat JEI, mari kita kesampingkan sisi mistisnya sejenak. Berdasarkan riset mendalam, Sterculia foetida memiliki potensi luar biasa yang sedang dilirik oleh dunia sains:
1. Sumber Biofuel Masa Depan
Biji kepuh mengandung minyak nabati yang tinggi (sekitar 40-50%). Minyak ini memiliki karakteristik asam lemak yang mirip dengan bahan bakar diesel. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minyak kepuh berpotensi besar dikembangkan sebagai biodiesel ramah lingkungan.
2. Obat Tradisional
Nenek moyang kita sebenarnya sudah memanfaatkan bagian-bagian pohon ini:
- Daun: Rebusan daun kepuh sering digunakan untuk mencuci rambut, mengobati demam, hingga meredakan sakit pada kulit.
- Kulit Batang: Di beberapa literatur obat tradisional, seduhan kulit batangnya dipakai untuk meluruhkan air seni (diuretik) dan obat rematik.
3. Pangan (Dengan Catatan Khusus!)
Biji kepuh sebenarnya bisa dimakan (edible). Rasanya gurih mirip kacang tanah atau biji mete. TAPI, ada cara pengolahan khusus yang wajib diperhatikan (baca poin bahaya di bawah).
Jadi banyak juga manfaat buah kepuh ya, Sobat JEI!
Waspada! Bahaya dan Toksisitas Buah Kepuh
Ini bagian terpenting, Sobat JEI. Meskipun bermanfaat, Kepuh tidak boleh dikonsumsi sembarangan.
- Jangan Makan Mentah: Biji kepuh mentah mengandung senyawa yang bersifat purgatif (pencahar kuat) dan bisa menyebabkan mual serta pusing. Mengonsumsinya tanpa diolah bisa membuat perut Sobat JEI “berontak” alias diare hebat.
- Cara Aman: Masyarakat tradisional biasanya mengolah biji kepuh dengan cara disangrai (goreng tanpa minyak) atau dibakar sampai matang sempurna. Proses pemanasan ini merusak racun ringan di dalamnya sehingga aman dan gurih untuk dicemil.
FAQ: Pertanyaan Populer Seputar Buah Kepuh
Untuk memudahkan Sobat JEI merangkum informasi, berikut jawaban cepat untuk pertanyaan yang sering muncul:
Apakah buah kepuh bisa dimakan?
Ya, bijinya bisa dimakan, tetapi harus dimasak (disangrai/dibakar) terlebih dahulu. Jangan pernah memakannya dalam kondisi mentah.
Apa fungsi pohon kepuh bagi lingkungan?
Pohon ini adalah tanaman konservasi yang sangat baik. Akarnya kuat menahan erosi dan menyimpan cadangan air tanah. Daunnya yang rimbun menyerap polutan udara dengan efektif.
Di mana kita bisa menemukan pohon kepuh?
Pohon ini sering ditemukan di hutan dataran rendah, daerah pesisir pantai (seperti Pantai Pulo Cangkir), dan area pemakaman tua di Jawa dan Bali.
Nah, Sobat JEI, ternyata di balik kesalahan mengenali pohon di Pulo Cangkir dulu, saya jadi belajar banyak hal tentang kekayaan flora Indonesia. Pohon Kepuh dan manfaat buah kepuh mengajarkan kita: jangan menilai sesuatu hanya dari “kulit” atau mitosnya saja. Siapa sangka pohon “genderuwo” ini justru punya potensi menjadi bahan bakar masa depan?
Punya pengalaman unik bertemu pohon langka lainnya? Ceritakan di kolom komentar, ya!
Salam, Evi Indrawanto
