
Pentingnya melepas energi positif ke lingkungan menjadi tameng utama mental kita saat ini. Artikel ini membahas strategi menghadapi gempuran berita negatif, cara menjaga kewarasan kolektif, dan alasan ilmiah mengapa kita wajib tetap optimis kepada bangsa sendiri.
Sobat JEI, situasi politik memanas seringkali membuat kita sudah “kenyang” sebelum makan siang. Media massa seolah berlomba menyajikan menu pembuka berupa korupsi, hidangan utama persekongkolan elit, dan penutup berupa bencana alam.
Barusan saya membaca majalah pertanian. Isinya setali tiga uang. Melulu soal ketakberdayaan petani, hutan gundul yang berubah jadi sawit, hingga curhatan soal cueknya pemerintah terhadap distribusi pupuk. Rasanya, mencari sudut pandang positif tentang Indonesia saat ini butuh usaha ekstra keras.
Jebakan “Bad News Bias” dan Efeknya
Secara psikologis, otak manusia memang memiliki kecenderungan negativity bias. Peneliti John Cacioppo dari Universitas Chicago menemukan bahwa otak kita bereaksi lebih kuat terhadap rangsangan negatif daripada positif. Media paham betul hal ini. Berita buruk mendatangkan klik lebih banyak daripada berita baik.
Namun, jika kita menelan mentah-mentah narasi “Indonesia negara gagal”, kita terjebak dalam sindrom yang disebut George Gerbner sebagai Mean World Syndrome. Kita jadi merasa dunia ini jauh lebih berbahaya dan buruk dari kenyataan sebenarnya.
Humor Satire dari Ibu
Bicara soal menuntut perhatian pemerintah, saya jadi teringat celetukan Ibu. Saat itu beliau sedang menonton berita tentang seorang perempuan dengan ekonomi sulit dan banyak anak yang mengeluh kurang diperhatikan pemerintah.
Ibu saya nyeletuk dengan sedikit keki, “Lah, waktu bikinnya kok gak minta perhatian pemerintah?”
Sobat JEI, perlu saya tegaskan, Ibu tidak bermaksud melecehkan. Itu hanya ekspresi kegemasan—mewakili perasaan banyak orang—yang muak melihat situasi buruk terus dihembuskan setiap hari tanpa solusi mandiri. Kadang, kita perlu tertawa sedikit agar tidak stres, bukan?
Bahaya Polusi Informasi bagi Generasi Muda
Saya prihatin jika berita-berita buram ini terus membombardir alam bawah sadar bangsa. Bayangkan, anak kecil zaman now lebih hafal nama koruptor daripada pahlawan nasional. Jika kita membiarkan menjaga kewarasan kolektif menjadi hal yang sekunder, Indonesia bisa berubah menjadi bangsa apatis.
Kita akan terjebak melihat Indonesia hanya sebagai sarang koruptor, di mana penduduknya miskin dan tertinggal. Amit-amit! Celakalah bangsa ini kalau mentalitas itu sampai mengakar.
Baca juga:
Penularan Emosi (Emotional Contagion)
Hati-hati, Sobat JEI. Cara berpikir itu menular. Dalam psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai Emotional Contagion. Sebuah studi dari Nicholas Christakis (Harvard Medical School) dan James Fowler menunjukkan bahwa kebahagiaan—dan sebaliknya, kenegatifan—bisa menular melalui jejaring sosial hingga tiga derajat pemisahan (teman dari temannya teman).
Kepercayaan yang kita peluk sekarang seringkali bukan bawaan lahir, melainkan hasil adopsi dari lingkungan. Kita meneruskan cara berpikir yang diturunkan dari generasi ke generasi. Jika kita terus mengeluh, kita sedang mewariskan “gen pesimis” ke anak cucu kita.
Mengapa Harus Optimis kepada Bangsa Sendiri?
Inilah alasan mengapa berpikir positif jadi krusial. Kita ingin menanamkan rasa percaya diri sebagai bangsa. Jika generasi muda terus dibombardir citra buruk, apa yang tersisa di benak mereka? Apa yang bisa mereka banggakan?
Padahal, Indonesia tidak kekurangan bahan untuk memulai optimisme.
Fakta untuk Membangun Harapan
Coba lihat tanah kita yang subur (lituania vulkanik membuat tanah Jawa salah satu yang tersubur di dunia). Hutan tropis lebat, perut bumi kaya tambang, dan laut yang berlimpah ikan. Menurut data World Bank, Indonesia bahkan diprediksi menjadi salah satu dari 5 kekuatan ekonomi terbesar dunia pada 2045 jika tren pertumbuhan terjaga.
Melihat fakta ini, sayang sekali kalau otak kita biarkan mengerucut hanya pada hal-hal negatif. Optimis kepada bangsa sendiri bukan berarti buta terhadap masalah, tapi memilih fokus pada potensi solusi.
Tips Menebar Energi Positif
Lalu, apa yang bisa Sobat JEI lakukan mulai hari ini?
- Diet Berita Buruk: Batasi konsumsi berita politik yang memicu emosi negatif.
- Kurasi Media Sosial: Unfollow akun yang isinya hanya keluhan dan ujaran kebencian.
- Bagikan Kabar Baik: Jadilah agen perubahan dengan memposting prestasi anak bangsa atau keindahan alam Indonesia.
- Fokus pada Kontrol Diri: Kita tidak bisa mengontrol pemerintah, tapi kita bisa mengontrol respon kita terhadap situasi.
Jadi, kalau ada yang mau ikut-ikutan mencoret wajah bangsa dengan pesimisme berlebihan, please pikirkan lagi. Pentingnya melepas energi positif ke lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama.
Apakah Sobat JEI setuju dengan saya?
eviindrawanto.com
